RSS

CATATAN SEDIH SEORANG BJ HABIBIE

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …

Habibi

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

“Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

***
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

***
Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan!

Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD!

Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan.

Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan!

Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain?

Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya…

Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini…

***
…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

Bagikan tausiyah ini kepada siapapun yang cinta Negeri ini :-(

 

UN di Hapuskan dan Kita kembali Ke Jaman Batu

Ini hasil copy paste dari facebook,  coba baca dan simak komentar-komentar  di bawah, tentang Ujian Nasinal.
UN01 UN02
Muhammad Rafie Pawellangi mengomentari ini.

Kita kembali ke Jaman Batu

Kita kembali ke Jaman Batu :(
 

SEBUAH RENUNGAN DARI SANG GURU BESAR

SEBUAH RENUNGAN DARI SANG GURU BESAR

Rhenald kasali

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Copas dari Copasan

 

Implementasi Kurikulum 2013 di Biak Kota – Papua

Biak-Papua

Tak pernah terbayangkan bahwa saya akan menginjak Kota Papua, sekalipun waktunya singkat tetapi cukup memberi kenangan yang tak terlupakan. Hari pertama ketika saya pulang dari kantor Kepala Dinas Pendidikan melakukan sosialisasi, kendaraan yang mengantar saya ke Hotel sempat ditambrak dari samping dan saya  terlempar ke jalan raya.

Ceritanya begini kami telah rapat agak ke kanan untuk mengambil ancang-ancang mau tikungan masuk ke dalam hotel, tetapi eh.. tiba-tiba motor butut dari arah belakang dengan kecepatan tinggi mengambil jalan di sebelah kami. Mungkin mereka tidak melihat kami atau tidak menguasai motornya sehingga tabrakan pun terjadi. Sepatu yang saya pake tertancap pada stater motornya dan menembus sepatu hingga besinya bersentuhan dengan telapak kaki saya. Sepatu yang saya gunakan sulit keluar dan kaki saya diseret sesuai arah motor butut tersebut terpelanting. wih…sakitnya luar biasa, tetap sadar akan resiko yang lebih berbahaya, saya berusaha menarik kaki saya sekuat tenaga yang saya miliki dan berusaha melepaskan kaki saya sebisa mungkin. Alhamdulillah, saya sanggup bangkit berdiri sekalipun saya terseok-seok berusa mencari tempat posisi untuk duduk di pinggir jalan depan pintu masuk hotel.

Bapak yang mengendarai motor  yang membonceng saya kemudian berdebat tanpa berujung penyelesaian. Masing-masing  bersikeras mempertahankan pendapat bahwa merekalah yang benar. Saya berniat untuk memberi solusi tetapi Sang Penabrak malah membentak “Diam Kamu, kamu itu Bodoh!, tidak tahu apa-apa!”, Dengan sedikit senyum campur geli melihat Orang Papua tersebut yang dari tadi terus marah-marah berusaha meyakinkan bahwa Dialah yang benar dan kami salah. Saya menyela dan menunjukkan sepatu yang bocor yang dengan mata kepalanya sendiri melihat saya berusaha menarik Sepatu yang tertancap dari stater motornya. Tetapi Dia malah bilang “itu Bocor dari Kemarin Bodoh!, tidak usah kamu bicara!”. Kepingin rasanya saya ketawa terpingkal-pingkal sayang saya masih berjuang menahan sakit.

UrutSaya tidak tahu berapa lama Orang-Orang itu berdebat…sampai pada akhirnya Sang Penabrak Minta Ganti Rugi karena kakinya berdarah-darah. Kepingin juga saya memotretnya tetapi takut kamera saya malah dirampas :-) .

Bersukur Tuhan memberi perlindungan kepada saya waktu itu, saya tidak terluka sedikitpun sekalipun kaki saya keseleo karena kerasnya banturan yang terjadi. Saya tidak sadar bahwa salah satu dari 2 buah Tablet dalam tas  saya pecah. Sedangkan Tablet satunya hanya tergores bagian atasnya sedangkan Laptop Acer Alhamdulillah selamat.

Pendek cerita saya kemudian di papah ke Kamar Hotel yang paling Ujung karena waktu itu kamar-kamar ekonomi penuh karena telah lama di booking oleh orang-orang PEMDA Papua. Salah seorang siswa SMK yang sedang Prakerin atau PSG di Hotel tersebut mendekati saya dan menawarkan untuk mengurut kaki saya yang masih kesakitan. Alasannya jika tidak dibetuli uratnya kala itu juga akibantnya kaki bisa bengkak dan efeknya lebih parah.

Saya bertanya  antara percaya dan tidak, Adik bisa mengurut kaki saya….? Iya Bapak…saya bisa mengurut karena biasa di rumah mengurut kaki Bapak saya”. Ok kalau begitu silahkan tetapi pelan-pelan ya dik…? “Iya Bapak…saya mengurutnya pelan-pelan saja supaya Bapak tidak kesakitan”. Nyaman juga rasanya karena kaki saya sempat di putar kekiri dan kenan sambil mengurut uratnya dari bawa tempurung lutut saya. Sambil senyum menahan sakit saya minta photo “one picture”, untuk saya abadikan pada blog ini.

Hingga tulisan ini saya buat…rasanya hampir dua minggu ini tetapi kaki saya belum sembuh benar, jika salah posisi berdiri saya masih memungkinkan untuk terjatuh. Apalagi dalam posisi Shalat saya harus menekuknya tetapai Tuhan benar-benar Maha Penyayang, selalu ada cara yang mudah yang diberikan. Mungkin keluh kesahnya cukup sekian dan saya akan berbagi file bagi Anda yang belum memilikinya atau paling tidak ingin menambah koleksinya.

Ceritanya bersambung…file-file yang berkaitan dengan implementasi Kurikulum 2013 saya akan persiapkann dulu untuk di upload menunggu yang sabar ya…? :-)

 

Dia Meninggal Dalam Sujudnya

Bustaman
MENINGGAL DALAM KEADAAN SUJUD(Like dulu baru baca)
Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias,
menggunakan gaun pengantin putih yang indah,
mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya.

Lalu
dia mendengar adzan Isya, dan dia sadar kalau
wudhunya telah batal.

Dia berkata pada ibunya :
“Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”
Ibunya terkejut :

“Apa kamu sudah gila..? Tamu telah menunggumu
untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu..?
Semuanya akan terbasuh oleh air.”
Lalu ibunya menambahkan :

“Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang..!
Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan
marah kepadamu”

Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan
pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibuu.., dan
ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada
makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta.”

Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-
tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta
pernikahanmu tanpa make-up..?? Kamu tidak akan
terlihat cantik dimata mereka..! dan mereka akan
mengolok-olok dirimu.. !

Sang anak berkata dengan tersenyum :
“Apakah ibu takut karena saya tidak akan terlihat
cantik di mata makhluk..? Bagaimana dengan
Penciptaku..? Yang saya takuti adalah jika dengan
sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak
cantik dimata-Nya”.

Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-upnya terbasuh.
Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu. Lalu dia
memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia
tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud
terakhirnya.

Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah,
bersujud di hadapan Pencipta-Nya. Dan ia wafat dalam
keadaan bersujud.

Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah
yang teguh untuk mematuhi Tuhannya..!

Mudah2an hati kita tersentuh mendengarkan kisah ini.
Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya
sebagai prioritas pertama.

“SUBHANALLAH”

Semoga Tausiyah Ini Bermanfaat..Sil ahkan Di SHARE
=============== ===
Like dan share kawan

Sumber: diambil dari hasil sharing info https://www.facebook.com/
 

SMS dari +6281224312291

Hari ini Sabtu Jam 08.23, saya sedang online..terus HP saya berdering dengan isi SMS sebagai berikut:

M_KIOS
Berkat Isi Pulsa
No anda 0852427XXXXX
mendapatkan Cek.Rp.35jt PIN 23BGL67B INFO KLIK DI WWW.SEMARAKM-KIOS2014.BLOGSPOT.COM

Pengirim dari +6281224312291

Entah…benar atau salah, Tuhanlah yang tahu. Ku awali Do’a pagi ini dengan membaca Do’a titipan  Sang Guru “Ya Qawiyyu Mallidhoifi Gairuka”. Semoga Anda semua dan saya sekeluarga selalu dalam lindungan dan karunia Allah SWT. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sudah tak terhitung rasanya HP berdiring menerima SMS-SMS yang kadang membingungkan. Apakah di dalamnya syarat penipuan dari rayuan-rayuan kehidupan yang serba menuntut untuk hidup mewah dan serba ada atau berkecukupan.

Tiga puluh lima juta (Rp.35 Juta) yang kudapat hari ini tentu hanya sebuah angka virtual dari sebuah sms yang kubayangkan bisa membayar cicilan Karimun Wagon-R yang baru berjalan beberapa bulan he he. Maklum saat ini golongan belum naik-naik…karena kesibukan di dunia maya. :-)

Ya Allah…jangan Engkau menguji kami yang memungkinkan kami semua teledor, dan tidak lagi menggunakan akal sehat. Bukankah lebih berharga burung satu di tangan daripada memimpikan tiga burung tapi masih di hutan belukar?

Sambil merenung..terlintas di pikiran untuk membagikan saja info ini melalui account FB kesayangan yang sempat istirahat selama 2 tahun lebih. Saya baru tertarik 2 hari ini, setelah seorang kawan lama waktu kuliah Tahun 2007-2008 di Yogyakarta meminta pertemanan. Lalu aku mulai mencari buku Kitab Kuningku karena seluruh passwordku ada di sana he he.

Sambil nulis..perutku ikut memainkan ringtone baru karena ternyata pagi ini aku belum sarapan.  Kekasihku terlalu cepat meninggalkan rumah berlalu pergi mengantar yunior-yunirku ke sekolahnya. Yah…mau apalagi kembali aku harus menunggu roti “My Pow Bakery” yang setiap hari lewat depan rumahku. Alhamdulillah..akhirnya si Dia datang juga..aku membeli 3 roti: 1 abon dan 2 pisang harganya Rp.13.000,-

Tanpa pikir panjang, aku santap saja 2 roti pisang dan sepotong roti abon masih tersisa, soalnya aku harus finishkan tulisan ini. Ow..sebuah  SMS masuk lagi, aku  segera mengeceknya tetapi Alhamdulillah isinya berbunyi:

“Assalamu Alaikum Wr.Wb. Bapak/Ibu yang terhormat disampaikan bahwa coaching petugas pendampingan tahap III th 2014 InsyaAllah akan dilaksanakan pada hari Senin tgl. 10 Maret 2014 wita tempat ruang rapat FT UNM Lt.2, undangan menyusul dri Muliadi”

Sambil senyum-senyum bahagia, aku dikagetkan oleh Instrumentalia bunyi bell rumahku yang ternyata di tekan oleh 2 cewek manis memegang Map.
“Assalamu ‘alaikum Bapak? kami mau nagih Donatur Masjid?”
“Ow…sambil senyum kutarik 2 lembar uang merah jambu dari saku depan sambil menyodorkan kartu donatur yang kugantung dibelakang pintuku.
“Makasih ya Pak.?”

Shut down…!?!
Alhamdulillah

 

Email Tugas

Beberapa hari ini, Saya telah menerima email Tugas dari Anda semua sebagai berikut:

Email-01 Email-02 Email03 Email04 email05Mohon di koreksi jika ada yang merasa mengirim Tugas, tetapi ternyata salah jalan.

SmileSukses selalu buat Ananda semua..!!!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2014 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.