RSS

Arsip Kategori: Mekah

Di Makkah..Jangan Taqabbur, Atau berfikir Macam-Macam

DaengTewaBismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Sangat banyak Jamaah yang telah bercerita tentang kejadian-kejadian unik di Makkah. Saya akan mencoba menuliskannya di sini, sekedar berbagi informasi dengan harapan semoga bermanfaat. Mari mengambil pelajaran dari cerita-cerita berikut ini.

Saya mengawali cerita dari beberapa tahun lalu ketika saya menonton siaran TV dan melihat/mendengar langsung beberapa artis bercerita tentang pengalamannya di Makkah. Ketika  ia melihat dari ketinggian (kamar hotelnya) para jamaah yang datang sangat cepat ke Mesjidil Haram padahal belum masuk waktu shalat, terlintas dalam pikirannya

“ih..kok mereka datangnya cepat sekali sih, padahal Mesjidil Haram kan begitu luas”. Dan..ketika Artis tersebut turun dan menuju Masjid, sama sekali tidak mendapatkan tempat dalam Mesjid untuk melaksanakan Ibadah Shalat.

Cerita berikut dari seorang Guru di SMP Negeri 1 Sungguminasa tentang dirinya sendiri. Ia berdiri dan memandangi para Jamaah yang berdesak-desakan melakukan tawaf di sekitar Ka’bah dari jendela kamar hotelnya. Kemudian Terlintas juga dalam hatinya melihat para Jamaah yang berkulit Hitam:

“pasti orang ini yang memiliki bau badan yang kurang sedap ketika orang-orang berdekatan dengannya”.
Setalah itu beberapa saat kemudian, ia langsung mencium bau badan yang kurang sedap dari badannya. Karena baunya sangat menyengat Dia hampir muntah mencium bau badannya sendiri. Dan bertanya ke pada teman sekamarnya.
“Bu Aji (Hajjah)?,” Badan saya bau sekali, apa Ibu mencium bau tidak sedap..? busuk sekali dan sepertinya dari badan saya. Ia mengulang kalimatnya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya apakah betul-betul bau badannya begitu menyengat. Tetapi teman sekamarnya mengatakan:

“Ah..tidak bu, saya tidak mencium bau busuk sama sekali. Emangnya ibu sudah melakukan apa, kok perasaan Ibu  seperti itu?”. Ingat…ingat Bu?, tadi melakukan apa..?”, berusaha mencari tahu masalah sesungguhnya.

Astagfirullah..tadi saya melihat Jamaah berkulit hitam, dan terlintas dalam pikiran saya bahwa pasti orang itu bau badannya sangatlah menyengat. Mendengar informasi itu, teman-teman sekamarnya menyarankan untuk melakukan Shalat Tobat. Alhamdulillah setelah  melakukan Shalat tobat, memohon ampun dengan ikhlas atas segala perbuatannya dosa-dosanya termasuk yang terlintas barusan alam pikirannya. Barulah bau tak sedap itu hilang dalam penciumannya. Subhanallah!

Cerita selanjutnya datang dari kakak saya, Hj. Rosmina Jia. Menceritakan dirinya sendiri ketika Dia pergi menunaikan ibadah Haji.

“Waktu melontar Jumrah, terlintas dalam pikiran saya bahwa saya akan membuskus batu es dalam saputangan saya. Maksudnya supaya nanti pada saat melontar Jumrah, saya bisa mengkompres kepala saya supaya tetap dingin ditengah teriknya matahari. Apalagi kalau ada batu kecil yang mengenai kepala saya kan bisa kepala saya sedikit lebih adem”. 🙂

Pada saat di tempat Jum’rah benar kejadian, setelah kakak saya pas selesai melontar Jum’rah  dan berbalik kebelakang, kepalanya kena batu dari lemparan orang yang di belakannya dan benjol seperti telor kecil. Sambil menahan sakit ia pulang ke tenda dimana teman-temannya berkumpul sampil mengkompres kepalanya.
Teman-temannya bertanya: “kenapa Bu Ros kepalanya di kompres?”. Kemudian kakak sayapun menjelaskan keteman-temannya setelah menyadari kesalahannya. Akhirnya teman-temannya menyaranlan untuk melakukan shalat tobat. Subhanallah!

Cerita selanjutnya adalah dari seorang Haji teman saya ketika beberapa waktu lalu melakukan perjalanan Umrah bersama istrinya melalui Travel Arminasari. Dia bercerita kepada kami semua di tengah Masjidil Haram ketika rombongan kami menunggu untuk melakukan tawaf wada.

Beberapa waktu lalu, saya pernah melakukan Umrah bersama teman-teman lain. Karana waktu itu banyak orang yang ragu-ragu kalau-kalau dia tersesat dan tidak tahu jalan pulang ke hotel. Kemudian saya menyampaikan kepada mereka: “Tidak usah takut pak/bu, ikut saja bersama saya InsyaAllah aman, soalnya saya telah berulang-ulang datang ke tempat ini, saya mengenali betul kota Makkah. Makkah ini kecil?”
itu kalimat yang saya ucapkan, dan besoknya Astagfirullah, Allah SWT menunjukkan kebesarannya dengan memberikan pelajaran kecil kepada saya, untuk menyadari kesalahan saya. Saya tersesat dan sama sekali tidak tahu entah saya mau kemana dan dimana saat itu. Nantilah saya menelpon ke teman saya bahwa saya tersesat dan tidak tahu jalan pulang, kemudian teman saya mengingatkan pada nomer kode yang terdapat di Mesjidil Haram kemudian saya baru tersadar dan bisa tahu jalan pulang. Saya beristigfar dan segera memohon Ampunan Allah, SWT. Subhanallah!.

Cerita selanjutnya adalah cerita langsung dari seorang ustadz di Travel Arminasari, tentang dirinya pada saat membawa Jamaah di Makkah. Beliau menceritakan pengalamannya kepada kami semua pada saat mendengarkan Manasik Haji dan Umrah pada Travel Arminasari. Ceritanya begini:

Ketika saya membawa Jamaah di Makkah, saya diminta oleh Pak Direktur (Ustadz Mustari Ago) untuk menunggu beliau di tempat yang telah disepakati. Tidak terasa saya menunggu cukup lama dan beliau belum muncum juga. Setelah ia sampai sebenarnya hati saya sudah sedikit dongkol lalu dengan nada suara sedikit tinggi saya mengatakan:
“Kepana Ustadz lama sekali,kami semua sedikit cape nunggunya”. Mendengar uncapan itu, mungkin Ustadz mengerti bahwa beliau memang ditunggui sangat lama maka langsung dijawab saja: “Minta maaf, mari kita pulang ke Hotel!”. Begitu saya berbalik Astagfirullah, saya tidak melihat arah hotel itu ada dimana. Seolah pandangan saya tertutup dan tidak tahu arah jalan menuju Hotel. Saya sadar bahwa mungkin Allah, SWT menegur saya, karena barusan saya sedikit emosi kepada Pak Direktur. Karena sadar akan hal tersebut, saya meminta kepada seluruh Jamaah untuk ikut kembali masuk ke dalam mesjid untuk melakukan Shalat Sunat. Salah satu jamaah bertanya: “Bukankah, kita barusan dari dalam Ustadz?”, saya menjawabnya: “tidak apa-apa ikut saja!”. Saya berfikir bahwa kalau mereka menunggu saya di luar nanti malah terhambur dan tidak bertemu lagi. Dalam hati terfikir untuk melakukan shalat Tobat, atas apa yang barusan saya lakukan. Setelah masuk ke dalam Mesjidil kemudian berdo’a meminta ampus atas segala dosa yang telah dan barusan saya lakukan, maka setelah kami keluar mesjid, Alhamdulillah, saya telah tahu dan melihat arah jalan menuju Hotel. Subhanallah!

Mungkin banyak cerita lain yang menarik dari Bapak dan Ibu semua yang pernah berkunjung ke sana. Tetapai intinya adalah sifat sombong akan membutakan hati dan fikiran, sifat sombong membuat Allah, SWT. murka. Maka minta ampunlah seikhlas-ikhlasnya jika Anda telah melakukan banyak kesalahan dalam hidup ini. Tidak ada orang yang benar-benar suci, pasti pernah berbuat salah, tetapi menyadari dan meminta ampun, akan membuka rahmat dan barakah Allah SWT. Bukankan Allah, SWT adalah Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyanyang. “Bismillahirrahmanirrahim”

 

Hati-Hati di Makkah Banyak Copet

Ikut sedih rasanya 😦 kalau mengenang perjalanan beberapa waktu yang lalu bersama rombongan umrah Arminasari. Ketika tiba di Makkah ada teman kami yang berasal dari limbung suami istri yang kecopetan, baju gamisnya robek karena sudah tersileti sekitar 5 – 10 centimeter. Luar biasa memang cara kerja mereka karena sangat cepat dan tidak terasa. Akibat dari kejadian tersebut semua uang dan dokumen yang ada di kantongnya ludes tak tersisa. Yah mau apalagi selain beristigfar dan mengambil hikmah dibalik kejadiannya (introspeksi diri).

Sebenarnya cukup gampang mengenali orang-orang yang akan melakukan copet yang standby di depan pelataran Masjidil Haram, maupun di jalan-jalan menuju Masjidil Haram.  Mereka sebenarnya sudah berkeliaran di luar pagar area mesjid bercampur baur dengan jamaah yang mondar mandir. Selain itu juga  para peminta-minta (pengemis) berkulit hitam laki-laki perempuan juga ikut berjajar di tengah jalan dengan jarak-jarak tertentu  berharap mendapat sedekah dan belas kasihan seikhlasnya dari para jamaah yang lalu lalang. Mereka semua rata-rata cacat fisik, ada yang kehilangan tangan, kaki, atau kedua-duanya.  Resikonya adalah terkadang ketika salah satu dari pengemis tersebut dikasih uang real maka yang lain akan mengurung Anda untuk juga ikut meminta sedakah. Jika memang Anda harus melakukannya siapkan uang real yang pas jumlahnya untuk Anda  bagikan, setelah selesai tinggalkan cepat lokasi tersebut. Jangan menunjukkan bahwa Anda masih memiliki sejumlah uang yang banyak di kantong Anda. Hindari  juga berdiri  terlalu lama dalam kurungan para pengemis kecuali kalau memang menurut Anda itu aman ataukah memang Anda harus melakukannya. Masalahnya jumlah mereka sangat banyak, satu pengemis diberi uang real, rasanya memang kurang adil jika tidak bersedekah kepada yang lainnya, jika menggunakan ukuran perasaan. 🙂

Selama di lokasi Medina dan Makkah, Alhamdulillah saya bersama keluarga terhindar dari ujian seperti itu, tetapi beberapa kali mendapatkan aksi percobaan pencopetan atau mungkin penipuan. Jika ditanya mengapa seperti itu, jawabannya karakter orang muslim  indonesia umumnya perasa dan cepat iba, dan suka menolong sasama. Tentu karakter ini kadang  dimanfaatkan orang-orang tertentu yang tahu persis tabiat orang indonesia yang ulas asih tersebut. Apalagi ini sedang berada ditempat-tempat ibadah seperti di Medina dan Makkah. 🙂

Saya akan bercerita sedikit pengalaman yang saya lalui sejak dari Medina maupun Makkah berkaitan tindakan yang copet atau tindakan unik lainnya.

Suatu malam di Kota Medina, saya berjalan keluar dari Hotel terus ke depan pelataran  Medina. Waktu itu saya sendiri dan malam itu jamaah mulai berkurang. Waktu itu kira-kira jam 09.00 ke atas waktu Medina. Pada saat saya telah menyebrang jalan dan berjalan di antara toko-toko yang sudah mulai sepi bahkan ada yang sudah menutup tokonya. Ada suami istri mendekati saya sambil mendorong bayinya. Laki-laki itu setelah saya perhatikan masih cukup muda cuman badannya besar dan tinggi layaknya orang-orang arab secara umum. Sedangkan istrinya menggunakan pakaian hitam dengan cadar menutup mukanya. Melihat fisiknya dan menatap matanya iapun masih sangat muda.

Orang itupun menegur saya: “hi frend, you can speak Arabic or English. Kemudian saya menjawabnya dengan sedikit senyum “English”. Kemudian orang itu  melanjutkan ucapannya dengan bercerita bahwa ia dari Negara Serbia, dan saat ini uangnya loss (habis) sehingga tidak bisa makan dan pulang ke negaranya tersebut, sambil melihat ke instrinya, dan istrinya membenarkan perkataannya. Kemudian Ia melanjutkan kalimatnya bahwa ia membutuhkan sedikit bantuan berapapun keikhlasan saya untuk membantunya. Sebenarnya saya membawa uang real dan uang Indonesia di dompet saya, tetapi saya tidak ingin membukanya, karena sedikit waspada karena curiga orang ini menurut perasaan saya berkata tidak jujur.  Lagian  malam itu di antara bangunan kota mekah saya belum tahu suasananya seperti apa, sehingga saya menjawabnya, dengan sengaja mencampur-campur bahasa Indonesia dan English supaya kelihatan aneh. Oh ya..i am sorry, my wife bringing my money, my be five minites i can give money for you”. Please wait.!? 🙂

Kemudian dalam bahasa Inggris orang itu berkata “Saya akan menunggumu di tempat itu..!”, sambil menunjuk salah satu tiang yang ada diantara toko-toko yang mulai sepi. “Ok!”, jawabku…saya mempercepat langkah untuk secepatnya masuk dalam area pelataran Mesjid Madinah dan saya merasa aman sementara. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Tetapi terlintas juga untuk berjaga-jaga saya hanya menyiapkan uang Rp. 50 ribu rupiah jika nantinya saya bertemu kembali diluar pelataran Mesjid. Masalahnya saya sangat ragu saya bertemu orang yang salah.

Beberapa menit saya berada di pelataran Mesjid Medina sambil berfikir keras, sampai saya benar-benar yakin untuk kembali keluar ke pelataran depan Madina dan berharap tidak bertemu orang itu lagi (pikirku). Setelah saya merasa yakin dengan penuh kehati-hatian saya kembali keluar  area Mesjid Madina dan menole ke sana kemari sambil berjalan mantap. Sampai di tempat yang dituju saya menoleh dan mencari-cari orang tersebut, tetapi Dia sudah tidak ada ditempatnya, entah  mengintip saya dari tempat tertentu atau tidak. Tetapi karena saya merasa diuntungkan maka saya secepatnya berlalu pergi menuju Hotel penginapan saya, sambil beristigfar bercampur pikiran antara percaya apakah orang itu benar ataukah orang itu hanya ingin memeras saya. “Wallahu ‘alam bissawaf”.

Cerita selanjutnya adalah ketika saya berada di Kota Makkah. Di mana saya betul mempeperhatikannya sejak hari pertama berada di kota tersebut. Sebenarnya saya sudah mendapatkan cerita-cerita  para jamaan yang terlebih dahulu pergi ketempat suci ini waktu di tanah air.  Baru saya percaya setelah berada di kota suci Makkah dan menyaksikannya sendiri. Tidak segan-segan para pengemis memotong jalan kita dan langsung menjulurkan tangannya  berharap mendapatkan sedekah. Mereka adalah ibu-ibu pengemis yang kadang menggendong seorang bayi, tetapi kadang diwaktu lainnya juga tidak. Perenpuan-perempuan itu ada yang bercadar tetapi ada juga yang tidak. Kadang-kadang mengemis sendiri tetapi ada juga yang bergerombol. Hati-hati jika ada pengemis yang menghadang dari arah depan dan belakang, ini sering  terjadi jika jamaah membawa tas atau kantongan yang kelihatan tebal baik karena uang ataupun karena benda-benda elektronik lainnya. Pengalaman pada teman saya yang jamaah umrah juga telah membuktikan bahwa pada waktu ia hanya memberikan uang real kepada salah satu pengemis  dan pengemis yang lain mengepungnya. eh.. besoknya dihadang lagi pengemis yang sama akibatnya  kantong gamis putih yang dikenakannya sobek dengan dua kali goresan tanpa terasa. Semua uang dan surat-surat dalam dompetnya raib entah sekarang berada di mana. 😦

Suatu ketika saya dihadang oleh perempuan mudah berpakaian sedikit lusu. Terdapat tanda hitam pas ditengah ubun-ubunnya, mirip orang India. Dia momotong jalan saya sambil mengangkat tangannya yang tertutupi jilbab. Saya sebenarnya tahu bahwa perempuan pengemis ini tidak hanya bermaksud untuk meminta sedekah tetapi Dia akan mencopet saya. Kelihatan waktu mengangkat tangannya di bawah jilbab putih yang dikenakannnya saya melihat ada benda hitam bercabang tiga yang sangat tajam diselip diantara kain yang melilit dibadannya. Saya menjadi semakin waspada. Apalagi umumnya pengemis jarang bicara hanya menunjukkan mimik memelas kepada kita jika yang Anda perhatikan adalah wajahnya. Waktu itu saya memegang kuat Handphone  di tangan kanan,  sambil mengangkat ke atas dengan kepalan tinju seolah menghadap ke arah mukanya. Sambil sedikit menaikkan suara dengan hanya mendehem “hm..!!!, hm…!!!, hm…!!!” dengan nada yang keras. Soanya tangan satunya tidak pernah kelihatan dan jilbabnya kini menutup di atas tas saya. Saya tidak sadar bahwa tas saya sekarang sudah bocor sekitar 1 CM. Tetapi karena saya  selalu menghadap ke arah tas saya dengan kepalan tinju  memegang HP, pengemis yang memepet saya pun jadi ciut dan mundur. Saya terus berjalan ke depan dan setelah jauh  baru sadar bahwa Dia sudah berhasil melobangi Tas pinggang saya. Dongkol juga rasanya tetapi sedikit besyukur karena saya tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap pengemis tersebut. Astagfirullah.

Ke esokan harinya diwaktu sore hari, saya kembali bertemu dengan pengemis tersebut, Dia bermaksud lagi mencegat saya, tetapi saya kemudian berhenti dan menatap tajam matanya tanpa melepaskannya dan menunjukkan sikap  sedikit tidak nyaman kepadanya. Mungkin Dia sadar bahwa kemarin ia berhasil melobangi Tas yang saya kembali gunakan.  Pengemis itu mengurungkan niatnya, dan kembali ke posisinya bersama teman-temannya  sambil membalikkan pandangannya ke arah yang lain. Sebenarnya jika hanya mengemis tidaklah masalah buat para jamaah karena pasti kita semua tidaklah merasa terbebani untuk melakukannya, tetapi sebagian dari orang-orang ini menjadikan kedok mengemis untuk menutupi aksi copetnya. Sungguh banyak jamaah yang sebenarnya menjadi korban ulahnya, tetapi banyak diantara mereka yang hanya diam dan kemudian berkata mungkin Allah SWT sedang mengujiku. 🙂 Entahlah apakah ini ujian atau sebuah keteledoran dari kita semua. Mungkin juga sudah menjadi langganan polisi pengemis itu tertangkap lalu dilepaskan kembali :(.

Beberapa hari selanjutnya kami melakukan Ikhram yang ke dua, waktu itu bertepatan dengan Hari Pertama Puasa Bulan Suci Ramadhan. Seperti biasanya perempuan-perempuan pengemis itu sudah berjajar dengan jarak-jarak tertentu  satu sama lainnya. Dalam perjalanan menuju Mesjidi Haram, kebetulan istri dan mertua saya di belakang  sedang di hadang dan dipepet. soalnya kami semua menggunakan tas pinggan ciri khas Travel Arminasari. Mungkin isi tas itulah yang mereka incar, padahal di dalamnya tidak lebih dari buku bacaan do’a-doa, dan paling sajadah kecil. Karena ketika kami dalam mesjid tas itu juga yang kami gunakan untuk menyimpan sendal. Melihat gelagat pengemis itu saya mundur dan mempersilahkan Mertua dan Istri saya berjalan duluan. Dengan sikap tenang saya  berdiri dan menatap pengemis itu kembali dan mencoba mengawal Istri dan Mertua saya. Melihat saya lagi, mungkin kepikiran eh..orang ini lagi yang kemarin yang ia temui. Akhirnya dia berlalu pergi, Alhamdulillah kami kembali selamat dari aksi-aksi para pencopet tersebut.

Sebenarnya sah-sah saja, Anda dan kita semua memberikan sedekah kepada mereka. Saya sendiri juga melakukannya, kadang memberinya uang real sepulang dari shalat Dhuhur dan cukup banyak jamaah lain juga melakukan hal yang sama. Tetapi yang tidak mendikan kita tidak simpati adalah tindakannya yang ingin lebih, ingin mangambil semua yang kita meliki jika Anda tidak waspada. Sehingga dari pengalaman-pengalaman Jamaah yang sudah pulang dari Tanah Suci selalu berpesan:

Jangan layani orang per orang atau rombongan pengemis yang ada di Jalan raya, karena sebagian dari mereka adalah copet. Jika ingin benar-benar bersedekah maka berikanlah itu kepada para cleaning servis mesjid yang jumlahnya ratusan. Mereka tidak cape-capenya membersihkan karpet, mengepel lantai mesjid mengganti galon-galon air minum zam-zam yang berada dalam mesjid dan luar mesjid, memungut sampah tanpa menujukkan perasaan lelah. Mereka sangat gampang ditemui karena jumlahnya yang sangat banyak, dan banyak diantara mereka adalah orang-orang yang berasal dari Indonesia. Jika nanti Anda ke sana InsyaAllah, Anda dengan mudah mengenalinya.

Dengan demikian saya berkesimpulan dari pelajaran-pelajaran yang kami temui serta kejadian demi kejadian yang menimpa teman-teman jamaah Haji dan Umrah lainnya, bahwa. Jika Anda berhadapan dengan pengemis yang memepet diri Anda, jika tanganya tidak kelihatan salah satunya, maka waspadai barang bawaan Anda entah itu kantong dan Tas Anda. tetapi ketika kedua tangannya kelihatan atau tangan yang dijulurkan ke arah Anda itu kelihatan ataupun tidak kelihatan tetapi masih berjarak dengan diri Anda InsyaAllah dia masih pengemis yang baik. Dan waspadalah jika orang-orang itu mengelilingi Anda. 🙂

Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan para jamaah Haji dan Umrah adalah:

  1. Jangan membawa uang dalam kantong atau tas pinggang menuju ke tempat ibadah terkecuali Anda memang memerlukan dan yakin mampu menjaganya dengan baik.
  2. Simpan uang Anda di Hotel dalam Travel Bag Anda yang dalam keadaan terkunci, kuncinyalah yang Anda bawa atau jaga.
  3. Jika memang ada keperluan untuk berbelanja maka bawalah uang secukupnya sesuai kebutuhan penggunaanya.
  4. Jangan melayani orang-orang tertentu yang sok kenal dengan Anda padahal Anda benar-benar tidak mengenalnya.
  5. berjalan berjamaah pada tempat berbelanja atau tempat ibadah jauh lebih baik daripada sendiri, supaya bisa saling mengingatkan antara satu sama lain.
  6. Hindari menggunakan tas pinggang atau tas selempang dengan posisi di belakang, sebaiknya Anda pastikan bahwa tas tersebut aman berada depan dada atau perut Anda.
  7. Pastikan jika pengemis mengepung Anda muka dan belakang, jangan tatap mata mereka, tetapi perhatikan dan waspadai kantong, atau tas bawaan Anda.
  8. Pastikan setiap Anda meninggalkan hotel untuk selalu membawa identitas Travel Anda, yang dapat dikenali atau dihubungi jika diperlukan.
  9. Hindari berjalan sendirian diwaktu malam yang mulai sepi diluar waktu ibadah baik di Medina maupun Makkah kecuali terpaksa.

Ya Allah, ampunilah kami, jika di dalam tulisan saya di atas ada kata yang salah atau berlebih. Kami berlindung kepadaMu akan kejahatan malam dan siang, dan jadikan kami hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmatMu. Ya Allah SWT. jika Engkau berkehendak kami semua akan selalu rindu untuk kembali ketempat-tempat suciMu dalam ke adaan sehat wal ‘afiat dengan kenikmatan Ibadah. Amin..amin..amin ya rabbal ‘alamin.

 

Hari Pertama Mencium Bibir Hajar Aswad

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Sungguh rezky dan pengalaman yang luar biasa yang Allah SWT berikan kepada saya waktu berangkat umrah bersama keluarga. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan berkesempatan mencium Hajar Aswad sebanyak 5 kali, dan istri saya sebanyak 2 Kali.

Hajar AswadHari kelima pemberangkatan kami melakukan Ibadah Umrah rombongan kami sudah berada di Kota Makkah tinggal di hotel yang jaraknya agak jauh dari Mesjidil Haram, tetapi tidak menyurutkan semangat kami untuk menyempurnakan  ibadah umrah  bersama rombongan.Hotel ini jaraknya kira-kira kurang lebih 1 kilometer dari Mesjid karena waktu kami datang hotel-hotel di bagian samping dan belakang hotel Zam-Zam dilakukan pembongkaran. Sungguh banyak hotel yang di robohkan untuk membangun hotel-hotel baru yang bisa menampung lebih banyak jamaah.

Kami semua memasuki Tanah Haram di waktu malam hari menjelang Shalat Isya dengan berpakaian ikhram perjalanan dari kota Madina. Rombongan kami di pandu oleh seorang ustadz mudah asal Madura bernama Ustadz Ahmad. Beliau sangat menguasai cerita berbagai tempat-tempat bersejarah di Madina maupun kota Makkah. Mungkin karena pengalaman beliau yang sudah lama membimbing jamaah Haji dan Umrah.

Karena rombongan kami tiba malam, maka mobil langsung membawa kami ke hotel terlebih dahulu untuk menyimpan barang dan selanjutnya berkumpul di lobby hotel untuk kemudian melanjutkan tawaf dan sa’i dalam rangka penyelesaian ibadah ikhram kami. Kami semua berjalan kaki dari hotel ke Mesjid Haram dan 3 orang kawan lainnya menggunakan kursi roda dengan biaya 30 real per orang karena faktor usia dan kesehatan. Malam itu begitu ramai jamaah di sepanjang jalan yang kami lalui. Setelah masuk pelataran mesjid kami terlebih dahulu berkumpul lagi untuk mengecek teman dan menunggu supaya rombongan jamaah yang melakukan tawaf mulai berkurang. Tetapi nampaknya memang jamaah dari berbagai negara sangat padat malam itu, sehingga kami semua menunggu sampai menjelang tengah malam kemudian masuk ke dalam Masjidil Haram untuk selanjutnya melakukan ibadah Tawaf sebanyak 7 putaran. Setelah itu kami melakukan Shalat Sunat dua rakaat di samping Ka’bah kemudian selanjutnya berjalan menuju ketempat Sa’i.  Waktu melakukan Shalat Sunat tidak terasa air mata bercucuran karena terharu dan gembira bisa berada di samping Ka’bah untuk memanjatkan do’a-do’a baik untuk diri sendiri, keluarga, saudara, tetangga dan seluruh kerabat serta  adik-adik mahasiswa yang sempat terlintas dalam ingatan saya tanpa kecuali.

Alhamdulillah malam itu juga kami semua menyelesaikan ibadah Ikhram sekalipun malam itu sedikit sedih karena salah satu jamaah kami hilang (perempuan tua) dan nanti hari ketiga berada di Makkah baru di ketemukan. Saya sendiri cedera pada kelingking kaki kanan saya karena menolong orang tua yang belum mahir menggunakan eskalator. Hampir saya rebah bersama di atas eskalator karena berusaha menolong dan mambantu agar orang tua tersebut tidak terjatuh ke belakang yang pada kahirnya menginjak kelingking kaki kanan saya. Alhamdulillah sekalipun sedikit sakit tetapi saya masih sanggup melanjutkan ke sesi terakhir rangkaian ikhram yaitu Sa’i, berjalan dari bukit Safa dan Marwah sebanyak 7 kali putaran yang ditutup dengan Tahallul (mencukur beberapa helai rambut). Kegiatan Tahallul ini  berjalan lancar karena saya membawa gunting dan pisau cukur dalam tas selempang pemberian Travel Arminasari. Setelah itu kami semua pulang ke hotel untuk beristirahat.

Ka'bah

Beberapa hari berlalu kami bersama rombongan melakukan ibadah di Mesjidil Haram, tetapi sedih juga rasanya karena teman kami yang hilang sejak hari pertama belum ditemukan.  Hampir setiap hari kami menayakan kepada pimpinan rombongan apa teman yang hilang sudah temukan..? Sampai pada hari ketiga  tepatnya hari jumat saya berdo’a  degan sedikit putus asa di depan Baitullah  sebagai berikut:

Ya Allah, sampai saat ini saya belum mendapatkan kabar mengenai keberadaan teman kami ya Allah. Setiap waktu Shalat kami melakukan Shalat Jenazah, tetapi kami tidak tahu apakah salah satu dari teman kami ada di sana atau tidak ya Allah. Maka jika Engkau berkenan, berilah kabar kepada kami hari ini ya Allah tentang teman kami hidup ataupun mati. Ya Allah semoga Engkau berkenan mendengarkan do’a kami amin ya rabbal ‘alamin.

Setelah Shalat Jum’at berlalu dan saya pulang ke Hotel dan langsung masuk ke ruangan tempat makan para jamaah. satu persatu teman-teman mulai berdatangan. Sampai pada akhirnya Ustadz Ahmad masuk ruangan dan saya langsung bertanya:

Ustad..? Apa teman yang hilang sudah ditemukan dengan wajah yang penuh harap mendapatkan informasi. Alhamdulillah…sudah ditemukan, Dia sudah ada ditempat penampungan Jamaah yang hilang.
Alhamdulillah…Senang rasanya mendengar informasi tersebut ustadz. (sambil kami mengambil makanan untuk sarapan siang.

Hari sebelumnya salah satu teman jamaah bercerita dengan penuh semangat bahwa Dia telah berhasil mencium Hajar Aswad bersama Istrinya dan juga membawa orang tua yang pernah menginjak kaki saya di eskalator. Dengan napas panjang selain gembira dan bersyukur mendengarkan cerita-cerita teman tersebut jauh dalam lubuk hati yang paling dalam juga muncul keinginan yang  begitu besar untuk dapat mencium Hajar Aswad. Muncul dalam pikiran saya bahwa besok saya ingin mencoba untuk mencium Hajar Aswad, sekalipun saya juga sedikit khawatir untuk berdesak-desakan dengan orang-orang yang berpostur tinggi besar. Soalnya juga kami diwanti-wanti oleh Ustad Ahmad untuk tidak memaksakan diri pergi mencium Hajar Aswad karena resikonya juga amatlah besar. Resiko yang akan dihadapi adalah terjepit dalam barisan orang-orang yang memaksa untuk bisa sesegera mungkin untuk mencium batu tersebut dan jika terjatuh bisa terinjak-injak oleh Jamaah yang lain yang  saling beradu kekuatan mendorong satau sama lain. Sekalipun belum mencoba terbayanglah berbagai resiko tersebut dalam benak saya.Sehingga saya selalu dihantuai perasaan was-was dan cemas, tetapi juga merasa galau jika tidak mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad sekalaipun itu adalah yang pertama dan terakhir dalam hidup saya. Saya terus memanjatkan do’a doa sebagai pengharapan agar mendapatkan kesempatan seperti halnya yang diarasakan oleh teman-teman saya.

Saya membulatkan tekad dan memantapkan hati bahwa saya akan mencoba-coba saja dulu, dan jika barisan sulit saya terobos saya akan mundur. Toh juga telah disampaikan oleh Ustad pada saat manasik bahwa ada tiga cara yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW dalam mencium hajar Aswad. Cara pertama dengan mencium langsung, Cara kedua dengan mencium telapak tangannya terlebih dahulu kemudian melambaikannya ke arah Hajar Aswad, dan cara ketiga dengan menyentakkan tongkatnya ke tanah kemudian selanjutnya mencium tongkat tersebut. Toh waktu tawaf cara kedua telah dilakukan  sebanyak 7 kali sambil membaca Bismillahi Allahu Akbar.

Besoknya harinya setelah Shalat Ashar saya turun untuk melakukan Tawaf terlebih dahulu, kemudian Shalat Sunat 2 Rakaat sambil memanjatkan do’a agar diberi keleluasaan untuk mencium Hajar Aswad tersebut. Setelah merasa mantap saya mencoba mengitari Ka’bah sambil menyisip sedikit demi sedikit barisan Jamaah yang sedang Tawaf sampai pada akhirnya saya bisa berada pada lapisan paling dalam dekat dinding Ka’bah. Alhamdulillah pertama kalinya saya bisa memegang dinding Ka’bah sambil mengusapnya menggunakan tangan saya dengan rasa takjub atas kebesaran Allah SWT.

Sambil berzikir mengagungkan kebesaran Allah, SWT saya mencoba mengambil antrian untuk menuju ke Hajar Aswad. Ternyata sudah ada laki-laki mudah memperhatikan saya sambil menawarkan jasa untuk mengantar saya untuk mencium Hajar Aswad.

Mau mencium, mari saya antar pak?
Saya hanya tersenyum sambil menunjuk ke atas (dengan maksud bahwa niat karena Allah SWT, saya akan mencobanya sendiri).

Sebenarnya cukup banyak orang (calo) yang melakukan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan uang dengan tarif yang beraneka ragam. Mulai dari 10 – 30 real ke atas, bahkan lebih jika melihat bahwa Anda membawa banyak uang real. Toh..saya hanya mau mencoba dan jika saya mendapati kesulitan dan resiko yang berat maka saya akan mundur. Keselamatan di atas segalanya tetapi keinginan saya untuk mencoba supaya saya bisa menceritakan bagaimana cara untuk mencium Hajar Aswad selalu mendorong semangat saya untuk mencobanya. InsyaAllah karena pertolongan Allah SWT.

Hajar Aswad
Sekarang saya masuk dalam arus orang-orang yang berdesak-desakan dari arah kiri, sambil sesekali mengusap keringat dari terik matahari yang bersinar. awalnya saya memanfaatkan tenaga dari orang-orang yang cukup kuat mendorong saya dari arah belakang.  Tetapi saya  juga menahan tubuh orang-orang yang terpental dari arah depan karena saling mendorong dari berbagai arah. Entah siapa yang duluan ditakdirkan untuk mencium Hajar Aswad, laki-laki dan perempuan bercampur jadi satu. Ada yang berteriak karena terjepit, ada terinjak kakinya karena salah posisi, ada juga yang lemas karena kehabisan tenaga. Dimataku selalu karena karunia Allah SWT, kekuatan fisik  juga ikut menjadi faktor pendukung. Saya semakin mendekat ke Hajar Aswad, tinggal satu kepala di depan saya. Saya berusaha dengan segala tenaga untuk meraih dinding Hajar Asad, tetapi seketika itupula saya terpental ke luar akibat dorongan orang-orang dari arah yang lain. wih…hampir saja saya meraihnya pikirku sambil mencoba masuk lagi dalam barisan, ternyata memang sulit. Saya kemudian mencoba dari arah depan tiba-tiba tangan kekar berada pas disamping leher saya dan memegang pundak orang di depan saya. Tidak lama tangan satu lagi pas berada di leher saya juga memengan pundak orang lain. Tamatlah riwayatku….saya kepikiran semoga leher dan kepala saya tidak cedera akibat dua tangan kekar itu yang berada di antara leherku. Oh…sungguh sakit rasanya tetapi saya terus bertahan sambil berdzikir dan bertakbir kepada Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Alahu Akbar, La hawla wala quwwta Illah billah

Tetapi dibalik kejadian itu saya juga sempat tidak bisa menahan tawa, akibat tangan kekar yang memengang pundak orang didepan saya, mengakibatkan lengan bajunya orang tersebut robek. Dia kaget sambil tertawa lebih duluan dengan menunjukkan mimik lucu pada dirinya wih…!!!, sambil melihat lengan bajunya yang putus tersebut. Saya juga ikut tertawa cekikikan karena kepala kami saling berhadap-hadapan. Nyali saya semakin ciut rasanya dan mulai khawatir.

Tetapi kuatnya dorongan dari arah belakang membuat saya semakin dekat  pada hajar Aswad. Tangan mulai saya angkat ke atas dan mencoba untuk meraih Hajar Aswad, terbayang sudah bahwa saya berkesempatan untuk menciumnya. Tetapi entah dorongan dari  mana lagi saya kembali terpental  dan kali ini cukup jauh keluar, kerena sebagain orang berusaha juga memanfaatkan momen-momen yang meguntungkan bagi dirinya dengan menyisip ke dalam.  Saya mulai putus asa, dan berfikir biarlah saya kan sudah mencobanya, paling tidak bisa saya ceritakan kepada orang lain, siapa tau saya memang ditakdirkan seperti ini.

Pakaian saya basah karena mandi keringat sendiri dan  keringat jamaah lain yang saling mepet berdesak-desakan demi satu tujuan “mencium Hajar Aswad”.  Saya beristirahat sejenak sambil mencoba menghimpun tenaga kembali. Setelah saya merasa siap saya kembali masuk dalam barisan tetapi kali ini dari arah kanan. Bismillahirrahmanirrahim, saya berfikir untuk menggunakan  tenaga saya agar bisa mencapai harapan kali ini. Alhamdulillah beberapa kepala lagi saya sudah bisa meraba Hajar Aswad. Dan sekarang saatnya…tangan saya sudah bisa berpegangan pada lingkaran Hajar Aswad. Rasa senang mulai menyelimuti  perasaan saya dan terus berjuang untuk semakin mendekatkan kepala saya pada hajar Aswad. Kini tangan saya sudah memegang bagian dalam Hajar Aswad dan dengan teriakan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, terus saya dekatkan kepala sampai bisa mencium bagian besi putih yang merupakan pembungkus luar dari batu Hajar Aswad.

HajarAswad02

Sekalipun saya belum bisa mencium bagian tengah dari Batu Hajar Awsad, namun saya sudah begitu gembira luar biasa karena bisa melihat dan merasakannya langsung dari jarak dekat. Saya kembali terhempas keluar dan kini saya sudah mengurungkan niat karena paling tidak saya sudah bisa mencium bibir Hajar Aswad :). Dengan perasaan legah saya kembali mengitari Ka’bah sambil menerobos keluar orang-orang yang sedang Tawaf untuk mencari jalan keluar. Saya berjalan menuju badan mesjid dan keluar dari pintu utama Babussalam Masjidil Haram dan kembali ke Hotel dengan senyum puas sepanjang jalan. 🙂 🙂 🙂

 
 
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) PTIK FT UNM

Kerjakan tugas dengan serius, tepat waktu InsyaAllah Anda sukses!

Multimedia Pendidikan PTIK FT UNM

Kerjakan Tugas dengan Serius, Tepat Waktu, InsyaAllah Anda Lulus!

pippk

Praktek Instalasi Perawatan dan Perakitan Komputer - PTA FT UNM

Belajar Bahasa Pemrograman

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

CD Interaktif Multimedia

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Ajar Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Pembelajaran Berbasis Komputer

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Teknik Multimedia Web Blog

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini : by Mustamin Tewa'

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

sehat news

informasi seputar kesehatan terkini

amadnoy

the minimalis news