RSS

Arsip Kategori: Ibadah Umrah

Tips n Trik Mencium Hajar Aswad

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya ” Hari Pertama Mencium Bibir Hajar Aswad “, sengaja saya menulis dengan judul di atas karena tidak ada kesenangan yang terukir lebih Indah, yang selalu terbayang dalam ingatan saya ketika Allah SWT, memberi kesempatan kepada saya untuk dapat mencium Hajar Aswad setiap hari. Lima kali saya mencium Hajar Aswad sekalipun di hari pertama hanyalah sempat mencium pinggirnya saja, tetapi hari berikutnya sampai hari terakhir saya meninggalkan Kota Makkah saya selalu mendapatkan kemudahan untuk mencium Batu Mulya tersebut sepuas saya.

Ketika ditanya apakah saya memang pernah merencanakannya untuk mencium batu mulya tersebut sebanyak itu maka saya menjawabnya demi Allah tentu tidak!, kepingin ya, tetapi terbayang sejumlah ketakutan dan kekhawatiran yang lebih besar dari cerita orang-orang yang sudah pergi kesana sebelumnya.Semuanya bercerita bahwa mencium Hajar Aswad penuh perjuangan. Bahkan ada calo yang kadang juga sedikit memeras ketika telah memberikan jasa bantuan untuk menolong orang-orang yang kepingin mencium Hajar Aswad tersebut. Tarif standar calo yang disampaikan ke saya sekitar 30 real atau lebih, tetapi ada juga yang kadang hanya mengatakan seikhlasnya saja yang tidak tahu partinya berapa. Tetapi selama saya mencium Hajar Aswad  Alhamdulillah, semua karena pertolongan Allah SWT semata, free hanya dibayar dengan dzikir  dan keringat saja :). Untuk itu cerita ini saya tuliskan untuk memberi motivasi kepada segenap kaum muslimin dan muslimat yang  pada dasarnya InsyaAllah  mampu melakukannya, tentu juga harus dibarengi dengan kesehatan prima untuk sedikit berdesak-desakan dan siap terjepit  dari orang-orang yang bertubuh kekar yang juga punya tujuan sama untuk mencium Batu Mulya tersebut.

Saya anggap Anda telah membaca tulisan saya sebelumnya ” Hari Pertama Mencium Bibir Hajar Aswad “. Dengan demikian saya akan melanjutkan bagaimana caranya sehingga saya mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad lebih banyak dari para jamaah umrah Travel Arminasari lainnya kala itu.

Setelah punya pengelaman pada kesempatan pertama mencium Hajar Aswad sesungguhnya saya sudah merasa sangat senang. Tidak lagi terpikirkan bahwa saya akan mencoba mengulanginya, tetapi keesokan harinya ketika saya duduk dalam ruang makan, salah satu teman jamaah yang juga umrah bersama istrinya masuk dan bercerita tentang pengalamannya mencium Hajar Aswad bersama istrinya. Orang ini adalah seorang pedagang yang sudah berkali-kali melakukan perjalanan Umrah. Mereka berdua sudah Haji sehingga telah memiliki sejumlah pengalaman tentang kota Makkah.

Pak Mus, Alhamdulillah saya bersama istri saya tadi Shubuh sudah berhasil mencium Hajar Aswad.
Saya hanya tersenyum, kemudian mengucapkan Alhamdulilah, bagaimana ceritanya pak..?

Suaminya kemudian menjelaskan caranya. Saya berdiri di depan Pak Mus, dan istri saya ikut dibelakang memegang pundak saya. (yah..tentu  karena  suaminya berotot kekar dan memiliki postur tubuh tunggi seperti layaknya orang Arab). Tetapi ada yang lucu pak Mus, ketika giliran seseorang akan memasukkan ke palanya ke Hajar Aswad, saya memegang pundaknya kemudian menariknya ke belakang dan mempersilahkan istri untuk mencium lebih duluan he he :).
Kemudian istrinya menyela, ia tuh Pak Mus, terus ada yang perlu Anda perhatikan kalau mau mencium, supaya tidak keluar dari antrian sebaiknya menyisir pinggiran Ka’bah dan memegang tali pengikat kain Ka’bah tersebut. Itu yang saya lakukan bersama suami saya.
Tali itu berada pada bagian mana ya Bu? (tanya saya)
Tali itu berada disepanjang pinggiran Ka’bah karena sesupenngguhnya tali itulah yang mengencangkan kain pembungkus Ka’bah tersebut. Oh…begitu ya Bu. (sambil saya mangguk-mangguk).

Besoknya, dengan penuh semangat saya kembali ke kancah barisan orang-orang yang sudah tawaf dan orang-orang yang sedang antri untuk mencium Hajar Aswad. Dengan pakain ala Arab gamis panjang merek Al-Haramain warna abu-abu saya saya kembali melakukan tawaf terlebih dulu sebanyak 7 kali putaran kemudian melakukan shalat sunat Tawaf 2 rakaat di luar barisan Tawaf depan Kab’ah pada tempat yang telah disediakan.

Saya kembali melantunkan do’a-do’a penuh pengharapan untuk keluarga, saudara, teman, sahabat, tetangga, para siswa dan mahasiswa yang pernah saya atau sedang ajar untuk bisa juga merasakan kenikmatan ibadah seperti yang saya rasakan saat itu. Dan bagi mereka yang sudah pernah datang untuk diberi kesempatan untuk datang kembali melakukan ibadah yang sama dengan lebih khusu’ amin..amin..ya Rabbal ‘alamin.

Depan Ka'bah

Setelah itu saya meminta do’a khusus untuk diberi kekuatan untuk dapat mencium Hajar Aswad sekali lagi atas izin Allah SWT. Kemudian saya berdiri dari tempat Shalat saya dan mencoba menyisip barisan orang-orang yang sedang tawaf sambil memotong ke dalam untuk segera mencapai dinding Ka’bah. Begitu banyak orang yang sedang mencium sambil menangis di pinggiran Ka’bah tersebut 😦 . Tetapi ada juga yang khusu’ berdo’a dengan mulut yang komat-kamit :).

Saya juga menyempatkan diri untuk menyapu bagian kain Ka’bah tersebut menggunakan telapak tangan saya dengan rasa kagum atas Kebesaran dan ke agungan Allah, SWT, sambil melantunkan do’a-do’a untuk rezki dan kebaikan lainnya. Sambil berjalan mendekati barisan antrian orang-orang yang akan mencium Hajar Aswad. Saya bertemu dengan perempuan Indonesia yang mencoba menawarkan jasa kepada saya untuk mengantar saya mencium Hajar Aswad. Saya kemudian tersenyum dan menyampaikan bahwa saya sudah mencium Hajar Aswad sebelumnya. Perempuan itu kemudian meninggalkan saya dan mencari orang Indonesia lainnya untuk menawarkan jasa yang sama. Alhamdulillah kini saya sudah masuk dalam antrian jamaah yang akan mencium Hajar Aswad. Tepat dipinggir Ka’bah saya melihat ke bawah dan mendapati tali pengencang kain Ka’bah yang kemudian saya pegang untuk  mengokohkan pegangan dan kedudukan saya dalam barisan. Tali itu seukuran pergelangan tangan saya, sambil terus menuju ke depan. Sesekali saya memperbaiki posisi dan kedudukan saya dalam antrian sambil juga menahan dorongan jamaah  dari belakang yang memaksa saya maju ke depan. Tetapi dalam sisi yang lain saya juga harus menahan tubuh jamaah yang terdorong dari arah depan dan kehilangan arah untuk tetap berdiri tegak dan jangan sampai jatuh.

Alhamdulillah kini jarak saya  semakin dekat ke Hajar Aswad. Saya juga  menguatkan pegangan saya pada tali kain Ka’bah tersebut dan sesekali mencoba menyisip di sela-sela jamaah yang bergejolak untuk berusaha memasukkan kepalanya dalam lubang Hajar Aswad. Dengan pekikan Allahu Akbar, kini saya berusaha mengambil kesempatan untuk memasukkan kepala saya ke dalam Lubang Hajar Aswad dan menciumnya dari arah samping. Karena jamaah masih sibuk  saling tarik menarik dan saling dorong untuk mengambil kesempatan berikutnya, saya kembali mencium Hajar Aswad tepat ditengahnya sambil berdo’a dalam hati. Beberapa saat kemudian terlintas dalam pikiran untuk merasa cukup dan memberi kesempatan jamaah lain untuk mencium Hajar Aswad tersebut. Kembiraan yang amat sangat terlukis diwajah saya, perasaan puas dengan ucapan Alhamdulillah tak lepas saya ucapkan di bibir saya. Baju Al-Haramain yang saya pakai   tumpah keringat saya dan keringat jamaah lain tetapi sama sekali tidak berbau. Saya berusaha menyisip keluar dari arus jamaah yang berdesak-sedakan tersebut sampai pada akhirnya saya berada diluar orang-orang yang sedang antri tersebut. Saya kemudian menuju pada Kuburan Nabi Ibrahim yang berada tepat di depan Ka’bah di area Tawaf. Saya juga mengusapkan tangan saya pada dindingnya sambil berdo’a dalam hati untuk kebaikan. Setelah itu saya menuju tempat minum air zam-zam, setelah minum saya  menyiramkannya ke wajah saya supaya lebih segar, selanjutnya saya pulang ke Hotel dengan senyum cengar cengir penuh kegembiraan. Dalam benak saya, Alhamdulillah kini saya sudah dua kali berkesempatan mencium Hajar Aswad :).

Hari esoknya setelah Shalat Ashar saya kembali turun untuk mencium Hajar Aswad. Saya awali dengan melakukan Tawaf terlebih dahulu kemudian melakukan Shalat sunat 2 rakaat. Kali ini saya mengenakan baju Al-Haramain warnah Putih :). Saya kembali pada barisan antrian pada arah pinggir Ka’bah sambil memegang tali kain Ka’bah. Tepat di belakang saya ada 2 orang jamaah berpakaian ikhram sambil berbidacara kepada temannya Indonesia? sambil menunjuk ke arah saya. Mendengar ucapan itu saya menoleh ke belakang sambil tersenyum mengangguk (dua orang tersebut adalah Jamaah India). Dia mempersilahkan saya untuk bergerak ke dapan perlahan, saya mengangkat satu kaki kiri saya setengah duduk di atas mar-mar Ka’bah yang posisinya miring pas di bawah tali Kain Ka’bah tersebut. Sedangkan kaki kanan saya memasang kuda-kuda sambil kedua tangan saya memegang kuat tali kain Ka’bah tersebut. Perlahan-lahan tubuh saya gerakkan ke depan menuju pusat penciuman. Sambil saya memperhatikan Jamaah yang melemparkan dirinya ke luar barisan antrian, setelah berhasil mencium Hajar Aswad. Saya menunggu kesempbuh satan yang sama sebelumnya dimana orang-orang sibuk saling mendorong dan tarik menarik, karena postur tubuh saya lebih pendek dan kecil dibanding jamaah Arab, Irak maupun India, maka saya selalu diuntungkan dari pundak-pundak mereka yang kekar. Dari arah bawah katiak mereka saya nongol ke atas dan tiba-tiba saya sudah mencium Hajar Aswad dari arah samping terus ke tengah bagian inti Batu Mulya tersebut. Dalam posisi mencium saya kembali berdo’a dalam hati dan setelah merasa cukup saya bertumpu pada Ka’bah untuk mendorong tubuh saya keluar antrian, namun karena kuatnya arus dorongan dari luar saya seolah terbawa dalam pusaran arus jamaah yang saling mendorong ke arah dalam. Kaki saya tidak menyentuh lantai Ka’bah seolah duduk bersila di atas paha-paha jamaah yang saling mendorong. Pikiran saya yang penting jangan sampai saya jatuh kebawah sehingga terinjak-injak oleh Jamaah lain. (Hati saya memberi isyarat untuk tidak melawan arusnya tetapi ikuti saja kemana arah tubuh ini terbawah) sampai pada akhirnya kaki saya sudah bisa menyentuh lantai Ka’bah dan saya juga sudah berada jauh duiluar antrian.  Alhamdulillah, kegembiraan kembali menyelimuti perasaan saya karena kini saya sudah mendapatkan kesempatan tiga kali mencium Hajar Aswad :). Selanjutnya saya menuju Makam Ibrahim untuk berdo’a setelah itu kembali pulang ke Hotel.

Padat Jamaah

Esok harinya setelah Shalat Ashar saya kembali ke medan tempur untuk kembali berolah raga dalam antrian untuk mencium Hajar Aswad :). Kali ini saya memakai gamis hitam Al-Haramain. Saya selalu mengawali dengan melakukan Tawaf terlebih dahulu kemudian Shalat Sunat. Setelah itu barulah saya menuju ke tempat antrian jamaah yang akan mencium Hajar Aswad. Kali ini jamaah baik yang Tawaf maupun yang antri untuk mencium Hajar Aswad sangatlah padat. Soalnya sekarang sudah masuk hari Pertama Bulan Suci Ramadhan. Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah.SWT untuk melakukan rutinitas ibadah seperti hari-hari sebelumnya. Sekarang saya sudah masuk dalam  antrian tetapi kali ini ada keluarga jamaah Malaysia yang sedikit ribet di depan saya. Karena tidak mengharapkan orang-orang mendekatinya dan berada di belakang istrinya. Suaminya selalu membentak Jamaah dan mengatakan Haram-Haram-Haram, sementara orang-orang begitu banyak dan saling berdesak-desakan. Saya kemudian mundur saja dan membiarkannya berlalu. Tidak lama ada sekumpulan Jamaah yang bertbuh besar tinggi kira-kira jumlah antara 6 sampai 8 orang, masuk mengambil antrian pas di belakang Jamaah Malaysia tersebut. Hati saya memberi isyarat untuk tidak ikut masuk dalam antrian tersebut, saya kembali mundur ke belakang dan membiarkan jamaah tersebut mencium terlebih dahulu. Tidak lama saya mendengar teriakan ibu-ibu yang terjepit, sampai akhirnya polisi penjaga harus turun tangan dan beberapa kali menepuk pundak jamaah yang berdesak-desakan tersebut. Ternyata skenario Allah SWT lah yang selalu di atas segala, sekuat dan seingin apapun orang untuk mencium jika tidak atas kehendak Allah SWT semua tidak akan terjadi. Buktinya tidak semua orang-orang yang bertubuh besar tinggi tersebut mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad, hanya mereka yang terpilih dan ditakdirkan oleh Allah SWT atas kehendakNya.

Setelah barisan mulai tenang saya kembali dalam strategi saya, yaitu kembali ke barisan pinggir Ka’bah memegang kuat Tali Kain Ka’bah, Kaki kiri setengah duduk di atas mar-mar Ka’bah dan Kaki kanan bertumpu memasang posisi kuda-kuda layaknya pendekar :). Perlahan-lahan tubuh saya gerakan ke depan sambil menarik tali Kain Ka’bah tersebut, dan Alhamdulillah kini saya sudah mendekat pada bibir kiri hajar Aswad. Begitu badan saya angkat ke atas untuk mencium dorongan dengan kekuatan yang tak bisa saya tahan membuat saya harus terhempas ke arah tengah antrian. Songkok kepala kesayangan saya yang berwarnah hitam terlepas dan jatuh ke bawah, kepikiran untuk menjepitnya tapi hati memberi isyarat jangan. Resiko yang ditimbulkan bisa lebih fatal jika berusaha membungkuk ke bawah dari kumpulan jamaah yang mepet satu dengan yang lain tanpa spasi. Yah..songkok yang tidak lepas dikepala saya sejak dari tanah air, terus ke Madina terus sekarang di Makkah harus rela saya ikhlaskan untuk tinggal di lantai Ka’bah. Entah siapa nanti yang memungutnya. Saya belum berhasil mencium Hajar Aswad dan kini saya terdorong keluar dari antrian Jamaah. Setelahh puas memandang orang-orang yang berdesak-desakan saya kembali mengambil posisi antrian seperti sebelumnya yang sering saya lakukan. Tenaga rasanya tinggal 1/2 dari sebelumnya :), tetapi dengan strategi yang sama sambil berdzikir berusha terus ke depan. Alhamdulillah, sampai pada akhirnya saya mendapatkan giliran kembali mencium Hajar Aswad dari arah samping dan tengah yang ke empat kalinya :). Senyum puas tak terlukiskan lagi sambil pulang ke Hotel untuk Istirahat sejenak dan kembali ke Masjidil Haram untuk Buka Puasa (Khusus suasana Puasa akan diceritakan dalam tulisan berikutnya).

Kini tiba giliran terakhir untuk mencium Hajar Aswad, waktu itu pagi hari setelah melakukan Shalat Shubu, kerena siang kami perjalanan pulang ke tanah air. Kami bersama rombongan harus menunaikan Tawaf Wada atau Tawaf perpisahan. Tentu sedih campur haru melakukan ibadah itu, soalnya sebentar lagi kami akan pulang ke tanah air. Setelah melakukan Tawaf Wada tidak lagi kami dapat Shalat di Area Masjidil Haram tetapi boleh ditempat lain, inilah makna perpisahan, atau minta pamit pulang 😦 .  Saat rombongan kami sudah berkumpul kami kemudian bergerak mau menuju lantai dasar atau area yang menuju tempat Tawaf. Tetapi polisi petugas Mesjidil Haram menahan kami untuk tidak melakukannya sekarang soalnya, jamaah sangat padat sedang melakukan Tawaf. Mungkin mereka juga karena melihat kami orang Indonesia berfostur tubuh kecil, apalagi saya 🙂 mungkin sayalah yang paling kecil di antara ukurang teman-teman jamaah dalam rombongan kami, selain  satu anak kecil  lainnya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) yang juga ikut bersama ibunya. Kemudian kami munuju serambi Masjidil Haram untuk mengambil posisi duduk sambil mengintif jamaah yang sedang Tawaf.

Tidak terasa sudah jam 08.00 berlalu dan kami belum bisa turun Tawaf. Malah orang-orang yang Tawaf semakin padat. Soalnya mereka adalah para jamaah yang sedang berpakaian Ikhram. Kemudian kami sepakat untuk menjaci jalan sendiri-sendiri dan jangan melakukannya secara berombongan. Tetapi beberapa teman juga masih melakukannya secara bersama-sama. Dengan lincah saya mencoba mencari jalan sendiri dengan mengambil arah pintu lain dan begitu saya mau turun saya ditahan oleh para petugas penjaga. Beberapa saat saya kemudian menuju pintu lainnya lagi dengan harapan pintu tersebut lebih sepi dan bisa menyisip ke bawah. Tetapi kembali lagi saya ditahan oleh para petugas penjaga. Saya mencoba bernegosiasi bahwa saya akan melakukan Tawaf Wada, tetapi mereka tetap belum membolehkan saya untuk melakukannya sekarang dan meminta sampai jamaah sedikit berkurang. Setelah sekitar 30 menit berlalu saya kemudian mengambil inisiatif untuk kembali ke Hotel mempacking barang sambil memantau perkembangan Tawaf melalui siarang langsung di TV yang ada di kamar kami. Saya berjalan keluar Mesjid dan ternyata ratusan barisan kursi roda siap menunggu giliran untuk Tawaf. Dalam benak saya pastas saja kami semua belum diperkenangkan untuk Tawaf soalnya waktu tersebut merupakan waktu dimana para Jamaah sedang membludak.

Alhamdulillah, tidak lama saya sudah sampai di hotel dengan langkah yang gesit dan mantap. Saya membersihkan kamar dan barang-barang bawaan. Saya bertemu petugas Hotel asal Hongkong yang selama ini melayani kami, dengana ramah menyambut saya kemudian meminta tips berupa sedekah seikhlasnya sekalipun itu adalah uang rupiah. Alhamdulillah masih ada sedikit tersisa uang rupiah di kantong tas kemudian memberikannya. Menjelang jam 10.00 pagi saya melihat melalui TV bahwa suasana di tempat Tawaf sudah mulai berkurang jamaah jadi saya segera bergegas pergi. Sebelumnya saya melakukan dulu Shalat Tahiyatul Masjid kemiduan melanjutkannya dengan Shalat Dhuha. Setelah itu saya berdo’a minta kemudahan dan keselamatan dalam melakukan rangkaian ibadah Tawaf Wada yang saya akan lakukan.

Saya berjalan menuju area tempat Tawaf kemudian pada Tanda dimana ada lampu Hijau sebagai awal Tawaf saya kemudian memulainya. Tidak terasa 7 putaran terselesaikan kemudian saya kembali melakukan Shalat Sunat Tawaf dua rakat. Setalah itu kembali berdo’a dengan Khusu’ dan tidak terasa air mata bercucuran tak terbendung. Entah sedih, gembira, terharu, bercampur jadi satu, tetapi yang jelas kami tidak lama lagi akan meninggalkan kota Makkah. Setelah Do’a terselesaikan dan perasaan sudah mantap maka saya bangkit berdiri kemudian kembali berjalan memutar searah Jamaah yang melakukan Tawaf sambil menyisip ke arah dalam supaya bisa mendekat ke Ka’bah. Alhamdulillah saya sekarang saya sudah berada di luar Hijir Ismail. Saya mencoba untuk masuk ke area tersebut dari kumpulan jamaah yang antri untuk melakukan Shalat Sunat dan Do’a. Atas ijin Allah, SWT, saya berhasil memasuki area tersebut dan kemudian melakukan Shalat Sunat dua rakaat dan berdo’a dengan khusu’ untuk memanjatkan segala harapan yang baik baik untuk diri sendiri, keluarga dan handai tolan. Setalah itu saya keluarr dari Hijir Ismail, dan kemudian menuju ke dinding Ka’bah dan kembali mengusapnya dengan kedua tangan saya. Saya hati terkagum-kagum atas kebesaran dan keangungan Allah SWT, sambil memunculkan harapan agar kelak masih bisa kembali ke tempat ini untuk melakukan rangkaian ibadah umrah maupun Haji, amin ya Rabbal ‘alamin.

Setelah itu saya kembali masuk dalam antrian dengan strategi yang sama seperti hari sebelumnya saya lakukan. Hari itu saya berpakaian gamis warna Hijau Al-Haramain. Setelah mendaptkan barisan dan mendaptkan pegangan yang kuat pada Tali pengikat Kain Ka’bah saya kemudian sedikit demi sedikit menggerakkan tubuh saya ke depans esuai pergerakan Ja’maah. Yah..tidak lama saya sudah bisa menjamah bibir Hajar Aswad dan menciuminya :). Sambil menunggu kepala Jamaah yang masih berada adalah Batu Hajar Aswad saya menguatkan pegangan dengan sambil ber dzikir yang tidak pernah putus. Setelah melihat peluang saya kemudian mencoba melakukan penciuman dan kembali Allah SWT memberi jalan kemudahan  kepada saya untuk segera mencium bagian inti tengah batu mulya Hajar Aswad tersebut. Alhamdulillah… Alhamdulillah.. Alhamdulillah, setelah saya berdo’a, saya mengeluarkan kepala  dari lubang Batu tersebut kemudian mencoba menyisip keluar dari jempitan jamaah yang berebut untuk giliran selanjutnya.

Rasa senang, puas tak terlukiskan rasanya, sekalipun baju gamis saya penuh keringat tetapi kini saya sudah berhasil menciumi Hajar Aswad pagi ini untuk yang kelima kalinya. Allahu Akbar…! Saya selanjutnya menuju ke Makam Nabi Ibrahim untuk juga memberi isyarat pamit, dan InyaAllah masih berniat atas izin Allah SWT untuk kembali melakukan ibadah yang sama di tempat mulya ini. Amin..Amin..Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sebagai akhir dari tulisan ini saya berdo’a ” Ya Allah,  untuk segenap saudaraku para pembaca yang Muslim dan Mulimat agar diberi kesempatan yang sama untuk disegerakan menuju BaitullahMu bagi yang belum pernah. Dan bagi mereka yang sudah pernah ke Baitullah untuk berniat diberi kesempatan sekali lagi untuk berkunjung kesana  ya Allah. Dan hidup dan matikanlah  kami semua dengan mudah dalam suasana RidhoMu ya Allah.Amin..Amin..Amin ya Rabbal ‘alamin.

Pulang Ke Tanah Air

 

Masjid Ar-Raudhah Madina selalu diperebutkan Jamaah

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Rasanya sangat disayangkan jika seorang jamaah Haji dan Umrah, tidak menyempatkan diri untuk beribadah di Mesjid Ar-Raudhah. Mesjid dimana kuburan Rasulullah Muhammad SAW berada di sana, Kuburan Abu Bakar Assidiq RA, dan Kuburan Umar Bin Hattab RA. Semua berjejer berdampingan di sebelah kiri tempat imam. Tempat imam Shalat itu sendiri berada di atas panggung yang terbuat dari batu mar-mar, pada area ini di katakan bahwa merupakan tempat yang sangat makbul untuk berdoa ditandai dengan karpet Hijau, sedangakan dil uar area ditandai dengan karpet warnah merah (waktu kami datang).

53 Panggung tempat Imam Shalat di Mesjid Ar-Raudhah

Suasana di Mesjid Ar-Raudhah sangat ramai, karena tempat ini diperebutkan oleh seluruh Jamaah yang mengerti tentang sejarah Mesjid Ar-Raudhah. Selama empat hari di Madinah saya selalu shalat di Mesjid tersebut sekalipun tidak selalu berada di dalam karpet Hijau.

54 Suasana di Mesjid Ar-Raudhah yang selalu padat Jamaah yang antri untuk masuk area karpet Hijau.

Saya kira antrian ini bukan tanpa alasan, kerana memang ditunjang oleh Hadits Rasulullah SAW sebagai berikut:

Sabda Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196).

Alhamdulillah, karena saya ingat betul ketika diberikan manasik Haji dan Umrah di Travel Arminasari tentang Mesjid ini, maka memang terngiang-ngiang rasasanya untuk bisa berada di tempat itu. Sejak saya berada di Hari pertama di Madinah saya sudah berada di Mesjid Ar-Raudhah karena melintas dari dalam Mesjid Nabawi berjalan terus ke depan di waktu pagi sebelum para Jamaah berbondong-bondong menuju ke tempat itu.

47Jam Dinding di Tengah Jalan Depan Mesjid Nabawi

Karena Hotel saya berada satu arah dengan Jam Dinding yang berada depan Mesjid Madinah maka cukup dengan menyebrang Jalan saja saya sudah bisa berada di pelataran Mesjid Madina. Di depan jam dinding berderatan para penjual pakaian, perhiasan, tasbih, siwak, Al-Qur’an, sajadah,  kurma dan berbagai oleh-oleh lainnya.

Selama empat hari saya berada di Madinah saya selalu Shalat di Mesjid Ar-Raudhah. Tempat itulah yang selalu saya incar setiap akan memasuki waktu Shalat dan Shalat berikutnya. Cara yang saya lakukan untuk mendapatkan shaf-shaf utama di Mesjid Ar-Raudhah adalah selalu datang lebih awal sebelum masuk waktu shalat atau jam-jama dimana para jamah antri berada di tempat itu. Misalnya ketika waktu pagi ketika saya datang ke Mesjid pada Jam 09.00 pagi sekalian melaksanakan Shalat Sunat Dhuha. Setelah itu saya tadarus sampai masuk waktu Shalat Dhuhur. Setelah itu saya kemudian balik ke hotel untuk makan siang dan istirahat sejenak. Pada sekitar jam 14.30 saya kembali menuju Mesjid Nabawi dan berjalan ke depan untuk sampai ke Mesjid Raudhah dan menunggu waktu Shalat Ashar. Setelah itu saya balik ke Hotel untuk istirahat sejenak dan membersihkan diri kemudian kembali ke Mesjid untuk menunggu Shalat Magrib dan Shalat Isya. Setelah Shalat Isya saya baru kembali lagi ke Hotel untuk makan Malam  dan bertirahat. Pada jam 2.30 dini hari timer HP saya sudah berdering dan kembali saya siap-siap menuju Masjid untuk melaksanakan Shalat Malam dan menunggu waktu Shubub. Setalah Shalat Subuh saya tinggal di Mesjid mengaji sampai masuk waktu Shalat Dhuha. Begitulah setiap hari yang saya lakukan dan barangkali teman-teman saya yang lain juga begitu. Tidak banyak waktu  untuk berjalan-jalan kerena menurut saya ini adalah kesempatan untuk melaksanakan ibadah dengan maksimal karena di waktu dan tempat yang lain belum tentu saya mendapat kesempatan sebaik ini. Siapa tau ini adalah perjaanan pertama dan terakhir sekalipun saya selalu berdo’a untuk bisa kembali dan kembali lagi  sepanjang masa hidup saya, InsyaAllah. Amin..amin..amin ya Rabbal ‘alamin.

Kalau hanya untuk membeli oleh-oleh toh, pada saat pulang dari Mesjid begitu banyak penjual dan toko-toko yang terbuka siap melayani dari transaksi yang kita lakukan. Semua tersedia tergantung banyaknya bekal real yang ada di kantong kita. Kebetulan di samping hotel saya terdapat Money Canger (tempat pertukaran uang) sehingga saya tidaklah kesulitan menukar uang rupiah yang saya bawah dari Indonesia. Selain itu saat ini penjaga toko juga kadang menawari kita dengan membayar dengan uang rupiah.

Ada cerita menarik selama saya Shalat di  Mesjid Ar-Raudhah, yaitu saya selalu antri untuk bisa Shalat di area karpet hijau terutama di bawah mimbar imam. Alhamdulillah saya selalu mendapat kesempatan untuk Shalat di bawah mimbar tersebut. Cara yang saya lakukan adalah sabar menunggu kesempatan, tidak mesti bahwa saya harus melakukannya pada saat jumlah orang yang berdiri berdesak-desakan di tempat itu. Ketika itu terjadi saya kadang duduk terlabih dahulu sambil melakukan Tadarus.  Toh kesempatan Shalat ditempat itu selalu ada  sambil menunggu kesmpatan di mana jumlah jamaah mulai berkurang.

52Suasana di bawah tempat Imam di Mesjid Ar-Raudhah

Kalau mau cepat melaksanakan Shalat Sunat di tempat itu tentu langsung saja masuk dalam antrian dan begitu ada kesempatan silahkan mengambil Shaf dan Bertakbir untuk memulai Shalat sekalipun ruangnya sangat sempit. Masalahnya orang lain juga melakukan hal yang sama, karena sangat tidak mungkin untuk mendapatkan tempat yang benar-benar lapang dalam jumlah antrian yang begitu padat. Karena banyaknya jamaah  yang saling berdesak-desakan dan berlomba untuk melaksanakan Shalat Sunat tersebut. Tetapi jika Anda mau bersabar dan menunggu InsyaAllah pada akhirnya toh pasti mendapat kesempatan yang lebih baik.

Pengalaman saya di hari pertama saya melakukan Shalat Sunat di tempat itu, saya ikut antrian  berdesak-desakan dengan jamaah-jamah yang berpostur tubuh besar dan tinggi-tinggi, badan saling merapat satu dengan yang lain. Mungkin orang itu adalah orang Arab sendiri atau orang yang berasal dari negara lain dekat Arab. Begitu mendapatkan giliran, saya langsung melaksanakan Shalat Sunat di sela-sela jamaah lainnya. Beberapa orang melangkahi badan dan kepala saya untuk bisa mendapatkan kesempatan Shalat Sunat pada shaf yang ada di bagian depan. Kadang kita sedikit bersenggolan dengan jamaah lain yang mencari shaf ataupun mereka yang sedang mengerjakan Shalat Sunat. Tetapi tidak ada satupun jamaah yang merasa tersinggung atapun merasa tersakiti dengan kejadian itu. Semua melakukan ibadah dan suka cita dan menerima segala apa yang terjadi dengan penuh kikhlasan dan kesabaran. Terkadang kopiah terlepas atau miring karena kaki-kaki jamaah yang sedang melangkah ataupun mundur sedikit ke belakang karena  mencari ruang untuk tempat bersujud. Kejadian ini dapat ditemui pada saat waktu-waktu menjelang Shalat wajib.

Tetapi ada waktu lain yang lebih lowong untuk saya, khususnya di waktu setelah Shalat Subuh. Setelah antrian sudah berangsur-angsur berkurang  saya mulai mendekat dan biasanya itu terjadi menjelang pagi hari sekitar hampir jam 06.00. Kondisi jamaah di area karpet hijau mulai berkurang karena mereka sudah banyak yang pulang ke Hotelnya untuk beristirahat ataupun melakukan aktivitas lain. Pada saat itu sudah mulai ada shaf yang benar-benar kosong saya biasanya mengambil kesempatan itu untuk  dapat melakukan Shalat Sunat dengan lebih khusu’. Selain itu saya juga dapat melakukan Tadarus Al-Qur’an. Alangkah senangnya menikmati suasana tersebut dimana para jamaah sibuk berdo’a. mengaji ataupun sedang melakukan Shalat Sunat. Saya selalu menyempatkan diri Shalat Sunat di bawah panggung tempat imam berada. Pada jam-jam itu area karpet hijau sudah mulai ditutup menggunakan pagar plastik berwarna putih oleh para petugas mesjid. Saat itu para pembersih mesjid mulai bekerja mengisap debu-debu dan kotoran karpet. Mungkin waktunya antara 30 menit atau lebih mereka bekerja untuk membersihkan area itu. Karena setelah dibersihkan selanjutnya akan digunakan oleh jamaah perempuan dengan waktu yang terbatas sampai menjelang Shalat Dhuhur. Di bawah tempat imam itu pulalah saya diberi dua buah tasbih oleh seseoarang yang duduk bersandar pada tiang panggung imam yang terbuat dari mar-mar. Tasbih itu  berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam, senang rasanya mendapatkan oleh-oleh itu. Pada saat terlintas dipikiran untuk meminta dua tasbih lagi supaya bisa mencukupkannya empat (maksudnya supaya bisa saya kasih ke Istri, Mertua dan Ipar saya) eh..orang itu sudah tidak ada ditempatnya he he. Saya hanya beristigfar dan menyadari bahwa toh ini adalah pemberiaan yang ikhlas dari orang itu.

Saya kemudian beranjak dari tempat duduk saya dan mencari jalan keluar dari area karpet yang sedang dibersihkan. Saya melihat seorang arab yang berpakaian gamis hitam, berkacamata dan menggunakan sorban. Orang ini mengontrol seluruh para pekerja yang ada di area Ar-Raudhah yang sedang dibersihkan. Kalau memperhatikan pakaiannya, saya menduga orang itu adalah salah satu dari beberapa orang yang berada dipanggung iman ketika memimpin Shalat Subuh. Saya mencoba berjabat tangan dengan beliau dan membukukkan diri saya untuk mencium tangannya, tetpai Dia menariknya dan menunjuk ke atas sambil mengucapkan dalam bahasa arab bahwa hanya Allah yang suci, dan mengisyaratkan kepada saya untuk hanya berjabat tangan saja. Saya hanya membalas dengan senyuman kemudian berlalu pergi. Subuh berikutnya saya kembali menemui orang yang berpakaian sama dengan orang yang kemarin mengnontrol para pembersih mesjid di depan kuburan Rasulullah SAW, saya kembali berjabat tangan dan orang itu tersenyum kepada saya. Alhamdulillah, senang rasanya saya berada ditempat itu, tempat yang memberikan ketenangan jiwa dan hati nurani. Semoga para pembaca yang juga berharap bisa berkunjung kesana (Madina dan Makkah) InysaAllah secepatnya mendapatkan rezky dan kesempatan untuk itu, Amin, amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

 

Hadiah Kurma dari Seorang Syekh di Madina

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

43Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan Umrah bersama “Bidadari Surgaku”, Mertua dan Ipar. Sungguh banyak pengalaman spiritual yang kami lalui selama di kota Madiana dan Mekkah. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman yang barangkali bermanfaat bagi Anda yang juga nantinya akan melakukan perjalanan yang sama. InsyaAllah!.

Hari pertama rombongan kami sampai di Kota Madina, kami terlebih dahulu di antar ke Hotel depan mesjid Nabawi. Posisi Hotel saya  cukup dengan menyebran saja  terus berjalan ke depan menuju pelataran mesjid Nabawai. View mesjid Nabawi di atas merupakan arah depan Hotel yang kami tempati.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 09.15 waktu Madina dan saya langsung menuju ke Mesjid Nabawi untuk melakukan shalat sunat Tahiyatul Masjid dan sekalian melakukan Shalat Dhuha. Saya berdua dengan Drs.Abdul Latif menuju ke mesjid Nabawi dan setelah sampai di pintu depan mesjid,  kami memperhatikan orang-orang yang masuk mesjid membuka sepatu dan sendal mereka terus di bukus kantong plastik. Sayapun melakukan hal yang sama terus memasukkan ke dalam tas pemberian Travel Arminasari. Kami terus berjalan ke dalam mesjid dan dibeberapa tempat terdapat galon-galon  di mana orang-orang antri untuk meminum air ZamZam. Kamipun ikut antri untuk meminum air zamzam yang didahului dengan berdo’a minta keberkatan dan kesehatan selama melakukan ibadah umrah tersebut. Alhamdulillah sungguh segar rasanya tak terasa saya meminum 2 gelas seukuran aqua.

Selanjutnya saya berjalan  semakin jauh kedepan, saya mendapati begitu banyak jamaah yang melakukan Tadarus Al-Quran, shalat sunat dan aktivitas lainnya. Saya kemudian mengambil posisi pada salah satu tiang kemudian melakukan Shalat Tahiyatul Mesjid. Setelah itu teman saya minta permisi untuk pulang ke Hotel istirahat, mungkin masih kelelahan karena kami melakukan perjalanan sebelumnya di malam hari. Saya kemudian melanjutkan dengan melakukan Shalat Dhuha. Saya pikir mumpung banyak waktu dan kesempatan supaya bisa memaksimalkan perjalanan ibadah saya. Setelah Shalat Sunat Dhuha sebanyak 8 rakaat saya kemudian mengambil Al-Quran untuk mengaji. Saya kemudian kepikiran untuk menuju ke shaf paling depan sekalian menyaksikan kemegahan mesjid Nabawi tersebut.

Tidak terasa saya berjalan jauh ke depan dan kini berada pada di shaf paling depan Mesjid Ar Raudhah,  yang hari itu saya sama sekali tidak mengetahuinya bahwa saya telah berada di Mesjid Ar Raudhah depan kuburan Rasulullah Muhammad SAW.  Saya berdiri pas dihadapan rak-rak Al-Quran yang mungkin terbuat dari Aluminum. Saya kembali melakukan shalat dua rakaat dan selanjutnya membaca Al-Quran sempat menghabiskan 2 Juz lebih dan kini jam menunjukkan pukul 11.30 waktu Madina. Kemudian masuklah seorang Syekh bepakaian arab, tubuh tegak, jenggot mulai memutih sebagian dengan sorban melilit di kepala, Orang itu menggunakan dua buah tongkat besi pada tangan kanan dan kirinya  untuk membantu Dia berdiri dan berjalan. Dia menuju ke shaf dimana saya duduk kemudian  tersenyum dan meminta saya bergeser ke kanan untuk memberi tempat untuknya. Kemudian beliau shalat sunat dan mengaji. Setelah itu Dia tersenyum lagi padaku kemudian kami berdialog:

“Indonesia…?”, Indonesia Syekh, jawabku. Jamaah Umrah…? Ya, Syekh. Apa Kabar…? Alhamdulillah baik Syekh. Sudah berapa lama kamu di sini. Saya menjawab bahwa ini adalah hari pertama saya berada di Madina. Kapan kamu ke Makkah saya menjawabnya: friday, i am go to Makkah. oh…(sambil tersenyum ke pada saya).

Setelah itu kemudian menoleh keseorang pemuda yang duduk di sebelah kirinya dan juga bertanya:

Malaysia,….?, ya (sambil pemuda itu mengangguk, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang saya sudah tidak memperhatikannya lagi.

Orang itu kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’annya kemudian istirahat sejenak dan berkata kepada saya:

besok kamu duduk di sini lagi ya?, saya menatapnya dan kemudian menjawab InsyaAllah Syekh, InsyaAllah. Kemudian Dia berkata padaku jika nanti kamu datang lagi ketempat ini, saya selalu duduk di sini.

Kemudian orang itu menoleh ke pemuda Malaysia itu dan mengucapkan kata yang sama.

Besok paginya saya bersama rombongan Jamaah dari Indonesia melakukan perjalanan  ziarah ke beberapa tempat  yang memiliki nilai sejarah di Madina, seperti: Mesjid Quba, Jabal Tsur, Tanah Merah, Kebun Kurma, dan Jabal Rahma. Tidak terasa kami pulang sekitar jam 11.00 siang menjelang Shalat Dhuhur. Sungguh perasaan saya agak was-was jangan sampai saya tidak lagi mendapati barisan shaf pertama di Mesjid Ar Raudhah. Begitu mobil berhenti depan hotel saya buru-buru menuju kamar dan langsung mengambil air wudhu dan bergegas menuju Mesjid. Dalam benak saya semoga saya masih mendapati shaf yang kemarin saya tempati.

Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT pada shaf kedua terdapat tempat yang kosong untuk satu orang  pas di belakang tempat duduk saya yang kemarin. Setelah Shalat Tahiyatul Masjid saya kemudian memperhatikan tempat duduk saya ke depan sambil terlintas dalam pikiran saya, “sayang, saya datang terlambat untuk mengambil shaf, semoga Syekh itu nantinya menoleh kebelakang dan melihat saya”. Sambil berdzikir sesekali saya menoleh ke arah samping kiri memperhatikan orang-orang yang antri untuk masuk dalam area karpet hijau yang di katakan merupakan tempat yang sangat makbul untuk berdo’a. Tiba-tiba orang yang duduk didepan saya berdiri dan pergi mengambil shaf yang lain. Saya langsung berdiri juga dan mengambil posisi tersebut, posisi dimana saya akan bertemu lagi dengan Syekh itu (tanpa saya ketahui namanya). Tidak lama kemudian Syekh itu masuk Mesjid menggunakan tongkat besinya, kemudian menuju ke tempat biasanya Dia Shalat. Ada orang yang duduk pas disamping kiri saya, sehingga kami di antarai satu orang. Syekh itu kemudian shalat sunat terlebih dahulu setelah itu Dia  bertanya kepada orang di sebelah saya tersebut:

Irak..? ya (Jawab orang itu dalam bahasa arab). Syekh itu kembali bertanya: Syiah…? kemudian dijawab: ya. Kemudian Syekh itu menyampaikan kepada orang Irak tersebut bahwa silahkan menyimpan sendalnya pada tempat yang telah disediakan dan jangan menyandarkan sendalnya pada Al-Qur-an yang suci.

Tetapi orang Irak tersebut tidak mengindahkannya, dan akhirnya Syekh itu berdiri untuk memindahkan sendalnya, tetapi orang Irak itu menariknya dan terjadi perdebatan antara orang Irak dan Syekh itu. Kemudian Syekh itu memperbaiki tempat duduknya dan memberikan batas menggunakan tongkat besinya selanjutnya kembali melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu dia menoleh dan melihat saya, sambil tersenyum dia menatapku dan berkata:

kalau selesai shalat sebentar, kamu ikut bersama saya ke tempat parkir, saya akan memberikan kamu oleh-oleh kurma. Sambil senyum gembira saya menjawab InsyaAllah Syekh. Pesan yang sama disampaikan kepemuda Malaysia yang duduk disebelah kirinya. Syekh itu kemudian melanjutkan bacaaan Al-Quran digitalnya.

Tidak lama orang Irak yang duduk di sebelah saya berdiri dan memindahkan sendalnya kemudian kembali duduk di sebelah saya. Saya kemudian berkata kepadanya:

Move…? sambil menggerakkan tangan saya sebagai isyarat bahwa mari berganti tempat dengan saya jika Anda tidak merasa nyaman. Tetapi orang Irak itu memegang lutut saya sambil tersenyum sebagai isyarat tidak apa-apa.

Setelah Shalat Dhuhur selesai, Syeikh berkata kepada saya:

please wait..five minutes (Dia akan melanjutkan bacaan Al-qur’annya). Saya menjawab dengan ok, Syekh.

Setelah mencukupkan bacaan Al-Qurannya, Syekh itu kemudian berdiri dan saya langsung mengikutinya bersama pemuda Malaysia itu berjalan keluar. Setelah dekat dengan pintu keluar mesjid  Dia kembali bertanya:

Silahkan ambil dulu sendalmu, saya akan menunggu di sini. Saya menjawab: Sendal saya ada dalam tas Syekh. Sedangkan teman dari Malaysia menuju ketempat rak sendal yang ada dalam Ar Raudhah. Syeikh itu  menuju ke tempat galon dimana orang-orang antri meminum air zamzam. Saya mengikutinya dan juga ikut meminum air zamzam. Tidak lama pemuda Malaysia itu sudah berdiri di dekat kami.

Syekh itu kemudian berjalan keluar di pintu Mesjid Ar Raudhah, para cleaning service mesjid dan polisi penjaga pintu mesjid tampak sangat menghormati beliau. Saya semakin bertanya-tanya siapa orang ini sesungguhnya. Saya terus berjalan mengikutinya menuju escalator yang arahnya ke bawah  pelataran mesjid. Saya semakin  berhati-hati dengan melihat dan membaca tanda yang barangkali bisa membantu saya pada saat saya kembali (soalnya jalan itu baru saya lalui). Para cleanign servis yang ada di basement (ruang bawah tanah) menghormat kepada Syekh itu. Tidak lama kemudian saya mendapati area parkir kendaraan bawah tanah yang begitu luas. Soerang berpakaian arab lainnya menghampiri Syekh itu dan memeluknya (salaman ala arab), kemudian Syeikh itu membuka pintu belakang mobilnya dan saya melihat ada dua bungkusan besar yang ada di sana. Dalam benak saya, Alhamdulillah mungkin ini oleh-oleh yang dimaksud Syekh itu. Beliau mengangkatnya dan kelihatan begitu berat, diberikan satu dos kedapada saya dan satu dos lagi kepada pemuda Malaysia itu. Saya langsung menggendong oleh-oleh itu sambil mengucapkan.

Alhamdulillah terimakasih banyak Syekh, pemberian ini begitu berkesan. Semoga dapat dinikmati oleh keluarga saya di Indonesia. Dan semoga Syekh  sehat selalu dan penuh manfaat (sambil saya membacakan Al-fatiha kepada beliau dalam hati). Setelah itu kembali melanjutkan  ucapan saya:  tadi Syekh, saya telah berkunjung kebeberapa tempat bersejarah di Madina (saya menyebutkan satu persatu) termasuk berkunjung ke Mesjid Quba. Syekh itu menatap saya sambil senyum kemudian berkata: Mesjid Quba…? saya Muadzin di sana. (Saya baru menyadari bahwa  pantas Syekh ini sangat dihormati oleh orang-orang di Madina). Karena beliau adalah tukang adzan di Mesjid pertama yang didirikan Rasulullan pada saat hijrah ke Madina.

Dengan rasa senang saya berjabat tangan kemudian berpisah di basement dan kembali meyisir jalan yang sama yang sebelumnya kami lalui. Sampai pada akhirnya saya kembali  berada di pelataran mesjid Madina tersebut dan berjalan mengitari beberapa sudutnya  untuk mendapati pintu utama yang selalu saya lalui untuk masuk Mesjid. Pintu utama itu arahnya berhadapan dengan  Jam Dinding Besar ditengah Jalan raya sebagai tanda bahwa jalan yang lalui sudah benar untuk menuju ke Hotel saya. Gemetar rasanya tanga saya menggendong kurma itu karena dosnya yang agak besar dengan isi yang begitu berat. Saya beberapa kali memperbaiki posisi pegangan saya sambil berjalan dan sesekali mencoba menentengnya. Dalam perjalanan itu, saya kemudian bertanya kepada pemuda Malaysia yang saya temani,

Siapa nama Syekh itu…? Syekh Hammuda, jawabnya sambil melanjutkan perkataannya bahwa beliau memiliki kebun kurma di Madina.

Sampai pada akhirnya saya berpisah dengan pemuda Malaysia itu dan menuju ke hotel masing-masing. Saya menemui istri dan mertua saya sudah berada di kamar. Saya kemudian menceritakan kejadian yang barusan saya lalui. Saya kemudian mengeluarkan seluruh pakain yang ada dalam Traveing Bag saya dan memasukkan oleh-oleh kurma tersebut ke dalamnya.  Karena dos kurma itu agak besar, tas Traveing Bag tersebut hanya muat dos kurma itu ditambah selimut saya dan selebihnya hanya tersisa ruang sekitar 10cm yang hanya bisa menyisip farfum yang saya beli depan mesjid Quba. Alhamdulillah…sungguh rezky yang datang tidak disangka-sangka.

63

Rasanya tak henti-hentinya melantunkan rasa syukur kepada Allah SWT, atas berbagai nikmat yang saya rasakan, begitu juga istri saya, mertua dan ipar, selama melakukan perjalanan ibadah tersebut (saya akan bagi ceritanya dalam tulisan yang lain, InsyaAllah). Dan.. dos kurma itu saya baru buka setibanya  di Tanah Air di hadapan seluruh keluarga yang hadir ketika kami tiba di rumah. Rasanya tidak sabar juga saya ingin melihat isinya, soalnya saya sendiri tidak pernah membuka karena sudah terpacking rapi sejak semula dan langsung saya memasukkannya ke dalam Trabeling bag. Alhamdulillah, setelah dibuka ternyata kurma itu berlapis dua ke atas, dimana setiap lapisan terdiri dari enam bungkus dalam plastik yang terpress dengan isi yang sangat padat. Keluarga semua sampai berlomba mengambil masing-masing satu bungkus dengan penuh rasa kegembiraan. Sayapun sangat senang karena keluarga banyak yang bisa menikmatinya bahkan ada keluarga yang rela membangi dua miliknya dengan keluarga lain yang juga hadir waktu itu. Ada dua belas bungkusan yang mungkin rata-rata 1 kilo atau mungkin lebih, tapi berapapun pemberian dari Syekh itu, rasanya rasa syukur yang tak terhingga atas rezkimu ya Allah.

Semoga Syekh yang memberi kurma tersebut senantiasa dilimpahan rezky Allah yang berlimpah, begitu juga  ibadah yang penuh kenikmatan, nikmat kesehatan bersama keluarganya, dan semoga amal ibadahnya senantiasa di terima di sisi Allah, dan semoga mendapatkan tempat yang terhormat di sisiMu  ya Allah. Dan semoga seluruh pembaca juga ikut merasakan kebahagiaan dan kenikmatan ini, amin..amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

Kebun KurmaSuasana di Kebun Kurma (Mustamin Tewa’)

 
 
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) PTIK FT UNM

Kerjakan tugas dengan serius, tepat waktu InsyaAllah Anda sukses!

Multimedia Pendidikan PTIK FT UNM

Kerjakan Tugas dengan Serius, Tepat Waktu, InsyaAllah Anda Lulus!

pippk

Praktek Instalasi Perawatan dan Perakitan Komputer - PTA FT UNM

Belajar Bahasa Pemrograman

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

CD Interaktif Multimedia

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Ajar Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Pembelajaran Berbasis Komputer

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Teknik Multimedia Web Blog

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini : by Mustamin Tewa'

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

sehat news

informasi seputar kesehatan terkini

amadnoy

the minimalis news