RSS

Apotik Rumah Sakit Pendidikan UNHAS Mengecewakan Saya

apotik-rs-pendidikan-unhas

Pagi ini, salah seorang perawat Rumah Sakit Pendidikan Unhas menyereahkan resep obat kepada saya. Waktu itu saya sedang sarapan pagi bersama anak sulung saya. Setelah selesai makan, dari lantai 3 saya kemudian turun ke lantai I dan menuju kegedung sebelah tepatnya didepan UGD. Saya kemudian langsung menyerahkan resep kepada salah seorang Ibu yang pagi itu menurut saya dialah yang paling tua diantara pegawai apotik yang ada disana. Klo tidak salah mereka ada 5 orang yang sibuk melayani orang-orang yang menyerahkan resep.

Ada dua resep yang dipegang  Ibu itu termasuk resep yang saya serahkan. Kemudian dia mempersilahkan saya duduk. Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan satu persatu  dan semua terlayani dengan baik. Sambil melihat mereka memberikan pelayanan tidak terasa 20 menit berlalu, tetapi resep saya tidak juga dipanggil. Tapi saya pikir mungkin obatnya sedang diracik, atau obatnya sulit ditemukan sehingga orang-orang yang datang belakangan sudah kembali satu persatu.

Saya masih juga menunggu dengan pikiran obat apa yang kira-kira akan diberikan kepada Istri saya pagi ini, kok begitu sulit ditemukan. Saya menghitung sudah lebih dari 20 orang yang datang dibelakang saya sudah terlayani dengan baik dan cepat tetapi saya obat saya kok tidak dipanggil-panggil. Ada apa ya…?????

Tidak lama kemudian ada nama yang mirip dengan nama istri saya dipanggil  dari balik jendela tetapi juga ada anak muda yang duduk dibelakang yang juga bangkit berdiri. Saya kemudian menunggu kiranya nama itu adalah nama dari resep yang saya serahkan  tetapi juga ternyata bukan resep saya. Saya kembali duduk dan menunggu…????!!!

Tidak terasa 45 menit belalu saya bangkit berdiri dan bertanya kepada Ibu yang saya serahkan resep itu: “maaf,  apakah obat dari resep yang serahkan sudah ditemukan atau belum”,  saya serahkan keibu hampir 1 jam yan lalu. Soalnya saya melihat sudah banyak orang yang datang belakangan suadh lama kembali”.  ibu itu hanya kelihata sibut dan meminta saya kembali menunggu .

Saya jadi tidak nyaman rasanya menunggu dan melihat orang lain datang dan pergi satu persatu. Sedangkan saya hanya dimita menunggu saja. Saya melihat bangku disekitar saya kemudian kembali disini oleh orang-orang yang baru antri. Sekarang sudah pas 1 jam lewat 5 menit. Saya menarik nafas panjang dan mencoba memperbaiki perasaan kemudian bangkit berdiri dan bertanya tidak lagi kepada Ibu tua itu tetapi kepada dua laki-laki yang sedang melayani orang lain.

Pak..? apakah resep dari istri saya begitu sulit, saya menyerahkannya 1 jam lalu tetapi kok tidak resepnya tidak dipanggil hingga sekarang. Saya melihat orang lain kok begitu mudah. Apa memang obat dari Istri saya itu begitu sulit ya Pak? …dengan muka sedikit kurang  nyaman dengan saya laki-laki bertanya ” siapa nama resep itu Pak? saya jawab “Hadrat Henra, dari Kamat 332”. Kemudian meninggalkan saya dan mungkin mencarinya,tidak lama kemudian ia kembali bertanya kepada saya maaf Pak siapa Nama dari Resepnya Pak. Saya kembali menyebutkannya: “Hadrat Henra, Kamar 332!”, Kemudian dijawab tunggu dulu ya Pak?.

Kemudian saya kembali duduk dikursi antrian yang telah tersedia di depan apotik tersebut sekitar 10 menit kemudian nama  Istri saya di panggil. Saya kemudian berdiri dan menuju loket.  Saya lalu bertanya “apakah abat tersebut ada dan tersedia lengkap atau tidak? adaji Pak, katanya. Terus saya bertanya kenapa pelayanana resep saya begitu lama, apa masalahnya!, kemudian petugas apotik tersebut menjawab lupa Pak, karena resepnya tertumpuk dengan resep lain.Tanpa sepata kata dalam hati saya  (hmmm sederhana sekali jawabannya)  dan tidak ada yang memcoba meminta maaf sedikit pun atas kelalaian tersebut.

Saya hanya berfikit pelayanan dengan  waktu 1 jam 15 menit ini sudah bisa membunuh beberapa orang hanya karena kelalain dari petugas apotik yang ada  di Rumah Sakit tersebut (Tetapi semoga tidak ada lagi kejadian yang sama).

ketorolac

 

JNE Mengecewakan, Ada Apa?

Saya adalah pelanggan setiap   JNE dan itu bisa dibuktikan bahwa hampir 100% seluruh transaksi online saya, dalam beberapa tahun terakhir menggunakan JNE selain POS. Tukan antarnyapun (kurir JNE) ada yang sudah saya kenal betul wajahnya dan dia juga tahu betul begitu kami tidak ada dirumah pasti barang itu dititip di depan rumah atau dirumah tetangga sebelah utara rumah kami,

Tetapi semenjak pergantian kurir antar JNE ini sedikit mengeceewakan saya beberapa kali jadi bukan satu kali saja ya? beberapa kali barang saya terlambat diantar. Tetapi mungkin bukan karena kurirnya tetapi mungkin karena penyortiran dari barang tersebut yang entah bagaimana JNE mengantisipasinya.  Coba liat kasus ini.

jne02

Tanggal 14 September 2016, saya telah melakakukan transaski di Tokopedia, entah beberapakali saya melacaknya, pelacakan dengan hasil sebagai berikut:

jne_01

Berdasarkan pelacakan di atas Barang tersebut telah di Makassar tgl 17 September 2016 Pada Jam 14:22:00 WIB. Saya melakukan posting tulisan ini pada siang hari Jumat Tgl 23 September 2016 pada Jam 14:22 karena barang saya belum tiba hingga saat ini. Saya juga belum nerima kabar atas SMS paling tidak bahwa barang saya sudah tiba dan minta di jemput sendiri.

jne03Sebenarnya saya bisa saja mencoba menjemputnya tetapi saya pasti kena biaya tambahan perjalanan ke Makassar + ongkos parkir Rp.2.000 + ongkos makan. Jadi yah..semakin membengkaklah..(bingung dan hanya menunggu saja..!!!😦 ).
Semoga kedepan JNE Makassar dan Sungguminasa menjadi lebih baik.

Tulisan ini hanya menjadi harapan saya kepada JNE secara umum supaya meningkatkan kinerjanya, supaya pelanggan setiap seperti saya tidak menjadi kecewa ataupun melarikan diri ke ekspedisi lainnya,  sekalipun itu sulit karena saya memang berharap JNE tetap menjadi yang terbaik.

Yah…JNE antar cepat dong karena saya sudah tidak sabar menunggu barang saya…!!!

awweeeeeeeeeeeee🙂

Posting sudah di terbitkan….sekitar 45 menit kemudian JNE datang deh membawa paket saya. Aduh…aduh…aduh…saya hanya bilang ke kurirnya bahwa sambil senyum. Pak paket ini sudah lama saya tunggu. Kurirnya kemudian berkata “Iya Pak, sebenarnya sejak kemarin mau sy antar cuman saya kurang sehat”🙂

Terimaksih JNE saya ikhlas sekalipun telat.🙂

 

Ulang Tahun Presidenku

Juni

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Mei 2016 in Uncategorized

 

Update Gaya Penipuan 2015 – 2016

Penipu memang cerdas, selalu mengupdate caranya. Hanya mencari korban dengan modal SMS gratisan.  Jika terdeteksi bahwa kegiatannya hanya mengirim SMS penipuan setiap hari kepada seluruh nomor acak yang ia kirimi mungkin kartunya di blokir dan klo orangnya dapat paling klo dibekuk itupun harus melalui proses pembuktian hukum.

“Masalahnya sekarang apakah ada provider atau pemberi layanan SMS gratisan mau mengurusi itu😦 dan bisa  mengintip isi SMS yang dikirim seseorang. Lalu kemudian memfilter ini berita benar dan ini berita bohong atau palsu (he he he pasti kerjaannya sulit dan ribet) :-)  dan bagimana jika  isi SMS itu adalah berita rahasia yang kemudian diintip? itu juga bisa menjadi masalah tersendiri, karena hak-hak pelanggang atau privacy user tidak lagi terlindungi dan pelanggan menjadi tidak aman dan nyaman, menurut saya jika ini terjadi pasti pada akhirnya pemberi layanan seperti ini akan ditinggalkan.”

Jika itu Anda yang mengirim SMS dengan kata-kata mesra kepada sesorang, apakah Anda mau diintip? he he he pasti tidak kan? dan mungkin Anda malah akan menjadi marah!!!. Nah…ini juga alasannya sehingga hingga tahun ini masih banyak SMS palsu berkeliaran, tinggal menunggu korban baru dan siapa yang menjadi target berikutnya. Bukan hanya di SMS bahkan saya sendiri di Telpon langsung berkali-kali, dengan alasan saya dapat hadiah dari undian tertentu yang di laksanakan tadi malam atau hari itu juga yang ujung-ujungnya meminta untuk mentransfer uang administrasi.
Yang sedikit sadis adalah telpon langsung yang mengatakan anak, istri, suami, atau sudara sedang kecelakaan dan ada di ruang gawat darurat sipenelpon pasti ngakunya guru atau teman anaknya, teman suami atau istrinya, atau bahkan sebagai dokter yang akan mengoperasi si pasien (atau bentuk dan pengakuan lainnya seperti bos, pimpinan atau polisi yang sedang menangani kasusnya).

Saran saya jangan  percaya  tidak usah panik katakan saja  tunggu saya akan datang, paing keruagiannya hanyalah ongkos capek ke TKP yang belum tentu benar. Tetapi dari pada hilang lebih dari itu ?!?
Contoh: Dua tahun terakhir ini yang banyak SMS saya terima adalah bunyinya begini:

Pengirim SMS: +62 823-4582-5293
Tgl Kirim: 11-03-2016
Harga sudah setuju kira-kira tanda jadi/Dp berapa dulu HUB; 085298611447,trmksh
Jam terima pesan: 11.25

Klo yang berikut ini masih gaya lama: 09-03-2016
Pengirim SMS: +6285346171006
Berkat isiulang pulsa No.anda resmi mendptkan hadia ke-2 dari PT.M-KIOS dengan pin pemenang anda (M248K87) U/ info klik http://www.hadiahresmi-ptmkios.blogspot.com
Jam terima pesan:16:11

Jadi waspadalah saudaraku, jangan sampai kena penipuan yang bergaya apapun. Mari merbanyak do’a dan istigfar,  agar kita semua beserta keluarga terhindar dari kegiatan penipuan apakah itu sebagai korban apalagi menjadi pelaku. Na ‘udzubillahi min dzalik.

 

Penipuan Model M-Kios

Jam 17:08 sore ini mendadak HP saya berdering menandakan ada SMS masuk. Kemudian saya membuka dan membacanya

Dari: +62 822-4348-2420
Isi Pesan:
Berkat isi ulang pulsa
No. Anda Terpilih sbg
Pemenang ke2
Men-dpt cek tunai
Rp.100jt dr
PT.M-KIOS
PIN M248K81
U/Info klik
http://www.pestamkios17.blogspot.com

Sudah lama rasanya saya tidak mendapat SMS seperti ini dua tahun lebih baru dapat lagi. Menurut saya ini hanyalah gaya baru penipuan berkedok SMS. Kasian banget kalau mau ngasih uang Rp.100 juta tapi malah buat blog gratisan.

 

CATATAN SEDIH SEORANG BJ HABIBIE

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …

Habibi

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

“Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

***
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

***
Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan!

Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD!

Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan.

Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan!

Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain?

Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya…

Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini…

***
…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

Bagikan tausiyah ini kepada siapapun yang cinta Negeri ini😦

 

SEBUAH RENUNGAN DARI SANG GURU BESAR

SEBUAH RENUNGAN DARI SANG GURU BESAR

Rhenald kasali

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Copas dari Copasan

 
 
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) PTIK FT UNM

Kerjakan tugas dengan serius, tepat waktu InsyaAllah Anda sukses!

Multimedia Pendidikan PTIK FT UNM

Kerjakan Tugas dengan Serius, Tepat Waktu, InsyaAllah Anda Lulus!

pippk

Praktek Instalasi Perawatan dan Perakitan Komputer - PTA FT UNM

Belajar Bahasa Pemrograman

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

CD Interaktif Multimedia

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Ajar Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Pembelajaran Berbasis Komputer

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Teknik Multimedia Web Blog

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini : by Mustamin Tewa'

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

sehat news

informasi seputar kesehatan terkini

amadnoy

the minimalis news