RSS

Tips n Trik Mencium Hajar Aswad

22 Sep

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya ” Hari Pertama Mencium Bibir Hajar Aswad “, sengaja saya menulis dengan judul di atas karena tidak ada kesenangan yang terukir lebih Indah, yang selalu terbayang dalam ingatan saya ketika Allah SWT, memberi kesempatan kepada saya untuk dapat mencium Hajar Aswad setiap hari. Lima kali saya mencium Hajar Aswad sekalipun di hari pertama hanyalah sempat mencium pinggirnya saja, tetapi hari berikutnya sampai hari terakhir saya meninggalkan Kota Makkah saya selalu mendapatkan kemudahan untuk mencium Batu Mulya tersebut sepuas saya.

Ketika ditanya apakah saya memang pernah merencanakannya untuk mencium batu mulya tersebut sebanyak itu maka saya menjawabnya demi Allah tentu tidak!, kepingin ya, tetapi terbayang sejumlah ketakutan dan kekhawatiran yang lebih besar dari cerita orang-orang yang sudah pergi kesana sebelumnya.Semuanya bercerita bahwa mencium Hajar Aswad penuh perjuangan. Bahkan ada calo yang kadang juga sedikit memeras ketika telah memberikan jasa bantuan untuk menolong orang-orang yang kepingin mencium Hajar Aswad tersebut. Tarif standar calo yang disampaikan ke saya sekitar 30 real atau lebih, tetapi ada juga yang kadang hanya mengatakan seikhlasnya saja yang tidak tahu partinya berapa. Tetapi selama saya mencium Hajar Aswad  Alhamdulillah, semua karena pertolongan Allah SWT semata, free hanya dibayar dengan dzikir  dan keringat saja🙂. Untuk itu cerita ini saya tuliskan untuk memberi motivasi kepada segenap kaum muslimin dan muslimat yang  pada dasarnya InsyaAllah  mampu melakukannya, tentu juga harus dibarengi dengan kesehatan prima untuk sedikit berdesak-desakan dan siap terjepit  dari orang-orang yang bertubuh kekar yang juga punya tujuan sama untuk mencium Batu Mulya tersebut.

Saya anggap Anda telah membaca tulisan saya sebelumnya ” Hari Pertama Mencium Bibir Hajar Aswad “. Dengan demikian saya akan melanjutkan bagaimana caranya sehingga saya mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad lebih banyak dari para jamaah umrah Travel Arminasari lainnya kala itu.

Setelah punya pengelaman pada kesempatan pertama mencium Hajar Aswad sesungguhnya saya sudah merasa sangat senang. Tidak lagi terpikirkan bahwa saya akan mencoba mengulanginya, tetapi keesokan harinya ketika saya duduk dalam ruang makan, salah satu teman jamaah yang juga umrah bersama istrinya masuk dan bercerita tentang pengalamannya mencium Hajar Aswad bersama istrinya. Orang ini adalah seorang pedagang yang sudah berkali-kali melakukan perjalanan Umrah. Mereka berdua sudah Haji sehingga telah memiliki sejumlah pengalaman tentang kota Makkah.

Pak Mus, Alhamdulillah saya bersama istri saya tadi Shubuh sudah berhasil mencium Hajar Aswad.
Saya hanya tersenyum, kemudian mengucapkan Alhamdulilah, bagaimana ceritanya pak..?

Suaminya kemudian menjelaskan caranya. Saya berdiri di depan Pak Mus, dan istri saya ikut dibelakang memegang pundak saya. (yah..tentu  karena  suaminya berotot kekar dan memiliki postur tubuh tunggi seperti layaknya orang Arab). Tetapi ada yang lucu pak Mus, ketika giliran seseorang akan memasukkan ke palanya ke Hajar Aswad, saya memegang pundaknya kemudian menariknya ke belakang dan mempersilahkan istri untuk mencium lebih duluan he he🙂.
Kemudian istrinya menyela, ia tuh Pak Mus, terus ada yang perlu Anda perhatikan kalau mau mencium, supaya tidak keluar dari antrian sebaiknya menyisir pinggiran Ka’bah dan memegang tali pengikat kain Ka’bah tersebut. Itu yang saya lakukan bersama suami saya.
Tali itu berada pada bagian mana ya Bu? (tanya saya)
Tali itu berada disepanjang pinggiran Ka’bah karena sesupenngguhnya tali itulah yang mengencangkan kain pembungkus Ka’bah tersebut. Oh…begitu ya Bu. (sambil saya mangguk-mangguk).

Besoknya, dengan penuh semangat saya kembali ke kancah barisan orang-orang yang sudah tawaf dan orang-orang yang sedang antri untuk mencium Hajar Aswad. Dengan pakain ala Arab gamis panjang merek Al-Haramain warna abu-abu saya saya kembali melakukan tawaf terlebih dulu sebanyak 7 kali putaran kemudian melakukan shalat sunat Tawaf 2 rakaat di luar barisan Tawaf depan Kab’ah pada tempat yang telah disediakan.

Saya kembali melantunkan do’a-do’a penuh pengharapan untuk keluarga, saudara, teman, sahabat, tetangga, para siswa dan mahasiswa yang pernah saya atau sedang ajar untuk bisa juga merasakan kenikmatan ibadah seperti yang saya rasakan saat itu. Dan bagi mereka yang sudah pernah datang untuk diberi kesempatan untuk datang kembali melakukan ibadah yang sama dengan lebih khusu’ amin..amin..ya Rabbal ‘alamin.

Depan Ka'bah

Setelah itu saya meminta do’a khusus untuk diberi kekuatan untuk dapat mencium Hajar Aswad sekali lagi atas izin Allah SWT. Kemudian saya berdiri dari tempat Shalat saya dan mencoba menyisip barisan orang-orang yang sedang tawaf sambil memotong ke dalam untuk segera mencapai dinding Ka’bah. Begitu banyak orang yang sedang mencium sambil menangis di pinggiran Ka’bah tersebut😦 . Tetapi ada juga yang khusu’ berdo’a dengan mulut yang komat-kamit🙂.

Saya juga menyempatkan diri untuk menyapu bagian kain Ka’bah tersebut menggunakan telapak tangan saya dengan rasa kagum atas Kebesaran dan ke agungan Allah, SWT, sambil melantunkan do’a-do’a untuk rezki dan kebaikan lainnya. Sambil berjalan mendekati barisan antrian orang-orang yang akan mencium Hajar Aswad. Saya bertemu dengan perempuan Indonesia yang mencoba menawarkan jasa kepada saya untuk mengantar saya mencium Hajar Aswad. Saya kemudian tersenyum dan menyampaikan bahwa saya sudah mencium Hajar Aswad sebelumnya. Perempuan itu kemudian meninggalkan saya dan mencari orang Indonesia lainnya untuk menawarkan jasa yang sama. Alhamdulillah kini saya sudah masuk dalam antrian jamaah yang akan mencium Hajar Aswad. Tepat dipinggir Ka’bah saya melihat ke bawah dan mendapati tali pengencang kain Ka’bah yang kemudian saya pegang untuk  mengokohkan pegangan dan kedudukan saya dalam barisan. Tali itu seukuran pergelangan tangan saya, sambil terus menuju ke depan. Sesekali saya memperbaiki posisi dan kedudukan saya dalam antrian sambil juga menahan dorongan jamaah  dari belakang yang memaksa saya maju ke depan. Tetapi dalam sisi yang lain saya juga harus menahan tubuh jamaah yang terdorong dari arah depan dan kehilangan arah untuk tetap berdiri tegak dan jangan sampai jatuh.

Alhamdulillah kini jarak saya  semakin dekat ke Hajar Aswad. Saya juga  menguatkan pegangan saya pada tali kain Ka’bah tersebut dan sesekali mencoba menyisip di sela-sela jamaah yang bergejolak untuk berusaha memasukkan kepalanya dalam lubang Hajar Aswad. Dengan pekikan Allahu Akbar, kini saya berusaha mengambil kesempatan untuk memasukkan kepala saya ke dalam Lubang Hajar Aswad dan menciumnya dari arah samping. Karena jamaah masih sibuk  saling tarik menarik dan saling dorong untuk mengambil kesempatan berikutnya, saya kembali mencium Hajar Aswad tepat ditengahnya sambil berdo’a dalam hati. Beberapa saat kemudian terlintas dalam pikiran untuk merasa cukup dan memberi kesempatan jamaah lain untuk mencium Hajar Aswad tersebut. Kembiraan yang amat sangat terlukis diwajah saya, perasaan puas dengan ucapan Alhamdulillah tak lepas saya ucapkan di bibir saya. Baju Al-Haramain yang saya pakai   tumpah keringat saya dan keringat jamaah lain tetapi sama sekali tidak berbau. Saya berusaha menyisip keluar dari arus jamaah yang berdesak-sedakan tersebut sampai pada akhirnya saya berada diluar orang-orang yang sedang antri tersebut. Saya kemudian menuju pada Kuburan Nabi Ibrahim yang berada tepat di depan Ka’bah di area Tawaf. Saya juga mengusapkan tangan saya pada dindingnya sambil berdo’a dalam hati untuk kebaikan. Setelah itu saya menuju tempat minum air zam-zam, setelah minum saya  menyiramkannya ke wajah saya supaya lebih segar, selanjutnya saya pulang ke Hotel dengan senyum cengar cengir penuh kegembiraan. Dalam benak saya, Alhamdulillah kini saya sudah dua kali berkesempatan mencium Hajar Aswad🙂.

Hari esoknya setelah Shalat Ashar saya kembali turun untuk mencium Hajar Aswad. Saya awali dengan melakukan Tawaf terlebih dahulu kemudian melakukan Shalat sunat 2 rakaat. Kali ini saya mengenakan baju Al-Haramain warnah Putih🙂. Saya kembali pada barisan antrian pada arah pinggir Ka’bah sambil memegang tali kain Ka’bah. Tepat di belakang saya ada 2 orang jamaah berpakaian ikhram sambil berbidacara kepada temannya Indonesia? sambil menunjuk ke arah saya. Mendengar ucapan itu saya menoleh ke belakang sambil tersenyum mengangguk (dua orang tersebut adalah Jamaah India). Dia mempersilahkan saya untuk bergerak ke dapan perlahan, saya mengangkat satu kaki kiri saya setengah duduk di atas mar-mar Ka’bah yang posisinya miring pas di bawah tali Kain Ka’bah tersebut. Sedangkan kaki kanan saya memasang kuda-kuda sambil kedua tangan saya memegang kuat tali kain Ka’bah tersebut. Perlahan-lahan tubuh saya gerakkan ke depan menuju pusat penciuman. Sambil saya memperhatikan Jamaah yang melemparkan dirinya ke luar barisan antrian, setelah berhasil mencium Hajar Aswad. Saya menunggu kesempbuh satan yang sama sebelumnya dimana orang-orang sibuk saling mendorong dan tarik menarik, karena postur tubuh saya lebih pendek dan kecil dibanding jamaah Arab, Irak maupun India, maka saya selalu diuntungkan dari pundak-pundak mereka yang kekar. Dari arah bawah katiak mereka saya nongol ke atas dan tiba-tiba saya sudah mencium Hajar Aswad dari arah samping terus ke tengah bagian inti Batu Mulya tersebut. Dalam posisi mencium saya kembali berdo’a dalam hati dan setelah merasa cukup saya bertumpu pada Ka’bah untuk mendorong tubuh saya keluar antrian, namun karena kuatnya arus dorongan dari luar saya seolah terbawa dalam pusaran arus jamaah yang saling mendorong ke arah dalam. Kaki saya tidak menyentuh lantai Ka’bah seolah duduk bersila di atas paha-paha jamaah yang saling mendorong. Pikiran saya yang penting jangan sampai saya jatuh kebawah sehingga terinjak-injak oleh Jamaah lain. (Hati saya memberi isyarat untuk tidak melawan arusnya tetapi ikuti saja kemana arah tubuh ini terbawah) sampai pada akhirnya kaki saya sudah bisa menyentuh lantai Ka’bah dan saya juga sudah berada jauh duiluar antrian.  Alhamdulillah, kegembiraan kembali menyelimuti perasaan saya karena kini saya sudah mendapatkan kesempatan tiga kali mencium Hajar Aswad🙂. Selanjutnya saya menuju Makam Ibrahim untuk berdo’a setelah itu kembali pulang ke Hotel.

Padat Jamaah

Esok harinya setelah Shalat Ashar saya kembali ke medan tempur untuk kembali berolah raga dalam antrian untuk mencium Hajar Aswad🙂. Kali ini saya memakai gamis hitam Al-Haramain. Saya selalu mengawali dengan melakukan Tawaf terlebih dahulu kemudian Shalat Sunat. Setelah itu barulah saya menuju ke tempat antrian jamaah yang akan mencium Hajar Aswad. Kali ini jamaah baik yang Tawaf maupun yang antri untuk mencium Hajar Aswad sangatlah padat. Soalnya sekarang sudah masuk hari Pertama Bulan Suci Ramadhan. Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah.SWT untuk melakukan rutinitas ibadah seperti hari-hari sebelumnya. Sekarang saya sudah masuk dalam  antrian tetapi kali ini ada keluarga jamaah Malaysia yang sedikit ribet di depan saya. Karena tidak mengharapkan orang-orang mendekatinya dan berada di belakang istrinya. Suaminya selalu membentak Jamaah dan mengatakan Haram-Haram-Haram, sementara orang-orang begitu banyak dan saling berdesak-desakan. Saya kemudian mundur saja dan membiarkannya berlalu. Tidak lama ada sekumpulan Jamaah yang bertbuh besar tinggi kira-kira jumlah antara 6 sampai 8 orang, masuk mengambil antrian pas di belakang Jamaah Malaysia tersebut. Hati saya memberi isyarat untuk tidak ikut masuk dalam antrian tersebut, saya kembali mundur ke belakang dan membiarkan jamaah tersebut mencium terlebih dahulu. Tidak lama saya mendengar teriakan ibu-ibu yang terjepit, sampai akhirnya polisi penjaga harus turun tangan dan beberapa kali menepuk pundak jamaah yang berdesak-desakan tersebut. Ternyata skenario Allah SWT lah yang selalu di atas segala, sekuat dan seingin apapun orang untuk mencium jika tidak atas kehendak Allah SWT semua tidak akan terjadi. Buktinya tidak semua orang-orang yang bertubuh besar tinggi tersebut mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad, hanya mereka yang terpilih dan ditakdirkan oleh Allah SWT atas kehendakNya.

Setelah barisan mulai tenang saya kembali dalam strategi saya, yaitu kembali ke barisan pinggir Ka’bah memegang kuat Tali Kain Ka’bah, Kaki kiri setengah duduk di atas mar-mar Ka’bah dan Kaki kanan bertumpu memasang posisi kuda-kuda layaknya pendekar🙂. Perlahan-lahan tubuh saya gerakan ke depan sambil menarik tali Kain Ka’bah tersebut, dan Alhamdulillah kini saya sudah mendekat pada bibir kiri hajar Aswad. Begitu badan saya angkat ke atas untuk mencium dorongan dengan kekuatan yang tak bisa saya tahan membuat saya harus terhempas ke arah tengah antrian. Songkok kepala kesayangan saya yang berwarnah hitam terlepas dan jatuh ke bawah, kepikiran untuk menjepitnya tapi hati memberi isyarat jangan. Resiko yang ditimbulkan bisa lebih fatal jika berusaha membungkuk ke bawah dari kumpulan jamaah yang mepet satu dengan yang lain tanpa spasi. Yah..songkok yang tidak lepas dikepala saya sejak dari tanah air, terus ke Madina terus sekarang di Makkah harus rela saya ikhlaskan untuk tinggal di lantai Ka’bah. Entah siapa nanti yang memungutnya. Saya belum berhasil mencium Hajar Aswad dan kini saya terdorong keluar dari antrian Jamaah. Setelahh puas memandang orang-orang yang berdesak-desakan saya kembali mengambil posisi antrian seperti sebelumnya yang sering saya lakukan. Tenaga rasanya tinggal 1/2 dari sebelumnya🙂, tetapi dengan strategi yang sama sambil berdzikir berusha terus ke depan. Alhamdulillah, sampai pada akhirnya saya mendapatkan giliran kembali mencium Hajar Aswad dari arah samping dan tengah yang ke empat kalinya🙂. Senyum puas tak terlukiskan lagi sambil pulang ke Hotel untuk Istirahat sejenak dan kembali ke Masjidil Haram untuk Buka Puasa (Khusus suasana Puasa akan diceritakan dalam tulisan berikutnya).

Kini tiba giliran terakhir untuk mencium Hajar Aswad, waktu itu pagi hari setelah melakukan Shalat Shubu, kerena siang kami perjalanan pulang ke tanah air. Kami bersama rombongan harus menunaikan Tawaf Wada atau Tawaf perpisahan. Tentu sedih campur haru melakukan ibadah itu, soalnya sebentar lagi kami akan pulang ke tanah air. Setelah melakukan Tawaf Wada tidak lagi kami dapat Shalat di Area Masjidil Haram tetapi boleh ditempat lain, inilah makna perpisahan, atau minta pamit pulang😦 .  Saat rombongan kami sudah berkumpul kami kemudian bergerak mau menuju lantai dasar atau area yang menuju tempat Tawaf. Tetapi polisi petugas Mesjidil Haram menahan kami untuk tidak melakukannya sekarang soalnya, jamaah sangat padat sedang melakukan Tawaf. Mungkin mereka juga karena melihat kami orang Indonesia berfostur tubuh kecil, apalagi saya🙂 mungkin sayalah yang paling kecil di antara ukurang teman-teman jamaah dalam rombongan kami, selain  satu anak kecil  lainnya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) yang juga ikut bersama ibunya. Kemudian kami munuju serambi Masjidil Haram untuk mengambil posisi duduk sambil mengintif jamaah yang sedang Tawaf.

Tidak terasa sudah jam 08.00 berlalu dan kami belum bisa turun Tawaf. Malah orang-orang yang Tawaf semakin padat. Soalnya mereka adalah para jamaah yang sedang berpakaian Ikhram. Kemudian kami sepakat untuk menjaci jalan sendiri-sendiri dan jangan melakukannya secara berombongan. Tetapi beberapa teman juga masih melakukannya secara bersama-sama. Dengan lincah saya mencoba mencari jalan sendiri dengan mengambil arah pintu lain dan begitu saya mau turun saya ditahan oleh para petugas penjaga. Beberapa saat saya kemudian menuju pintu lainnya lagi dengan harapan pintu tersebut lebih sepi dan bisa menyisip ke bawah. Tetapi kembali lagi saya ditahan oleh para petugas penjaga. Saya mencoba bernegosiasi bahwa saya akan melakukan Tawaf Wada, tetapi mereka tetap belum membolehkan saya untuk melakukannya sekarang dan meminta sampai jamaah sedikit berkurang. Setelah sekitar 30 menit berlalu saya kemudian mengambil inisiatif untuk kembali ke Hotel mempacking barang sambil memantau perkembangan Tawaf melalui siarang langsung di TV yang ada di kamar kami. Saya berjalan keluar Mesjid dan ternyata ratusan barisan kursi roda siap menunggu giliran untuk Tawaf. Dalam benak saya pastas saja kami semua belum diperkenangkan untuk Tawaf soalnya waktu tersebut merupakan waktu dimana para Jamaah sedang membludak.

Alhamdulillah, tidak lama saya sudah sampai di hotel dengan langkah yang gesit dan mantap. Saya membersihkan kamar dan barang-barang bawaan. Saya bertemu petugas Hotel asal Hongkong yang selama ini melayani kami, dengana ramah menyambut saya kemudian meminta tips berupa sedekah seikhlasnya sekalipun itu adalah uang rupiah. Alhamdulillah masih ada sedikit tersisa uang rupiah di kantong tas kemudian memberikannya. Menjelang jam 10.00 pagi saya melihat melalui TV bahwa suasana di tempat Tawaf sudah mulai berkurang jamaah jadi saya segera bergegas pergi. Sebelumnya saya melakukan dulu Shalat Tahiyatul Masjid kemiduan melanjutkannya dengan Shalat Dhuha. Setelah itu saya berdo’a minta kemudahan dan keselamatan dalam melakukan rangkaian ibadah Tawaf Wada yang saya akan lakukan.

Saya berjalan menuju area tempat Tawaf kemudian pada Tanda dimana ada lampu Hijau sebagai awal Tawaf saya kemudian memulainya. Tidak terasa 7 putaran terselesaikan kemudian saya kembali melakukan Shalat Sunat Tawaf dua rakat. Setalah itu kembali berdo’a dengan Khusu’ dan tidak terasa air mata bercucuran tak terbendung. Entah sedih, gembira, terharu, bercampur jadi satu, tetapi yang jelas kami tidak lama lagi akan meninggalkan kota Makkah. Setelah Do’a terselesaikan dan perasaan sudah mantap maka saya bangkit berdiri kemudian kembali berjalan memutar searah Jamaah yang melakukan Tawaf sambil menyisip ke arah dalam supaya bisa mendekat ke Ka’bah. Alhamdulillah saya sekarang saya sudah berada di luar Hijir Ismail. Saya mencoba untuk masuk ke area tersebut dari kumpulan jamaah yang antri untuk melakukan Shalat Sunat dan Do’a. Atas ijin Allah, SWT, saya berhasil memasuki area tersebut dan kemudian melakukan Shalat Sunat dua rakaat dan berdo’a dengan khusu’ untuk memanjatkan segala harapan yang baik baik untuk diri sendiri, keluarga dan handai tolan. Setalah itu saya keluarr dari Hijir Ismail, dan kemudian menuju ke dinding Ka’bah dan kembali mengusapnya dengan kedua tangan saya. Saya hati terkagum-kagum atas kebesaran dan keangungan Allah SWT, sambil memunculkan harapan agar kelak masih bisa kembali ke tempat ini untuk melakukan rangkaian ibadah umrah maupun Haji, amin ya Rabbal ‘alamin.

Setelah itu saya kembali masuk dalam antrian dengan strategi yang sama seperti hari sebelumnya saya lakukan. Hari itu saya berpakaian gamis warna Hijau Al-Haramain. Setelah mendaptkan barisan dan mendaptkan pegangan yang kuat pada Tali pengikat Kain Ka’bah saya kemudian sedikit demi sedikit menggerakkan tubuh saya ke depans esuai pergerakan Ja’maah. Yah..tidak lama saya sudah bisa menjamah bibir Hajar Aswad dan menciuminya🙂. Sambil menunggu kepala Jamaah yang masih berada adalah Batu Hajar Aswad saya menguatkan pegangan dengan sambil ber dzikir yang tidak pernah putus. Setelah melihat peluang saya kemudian mencoba melakukan penciuman dan kembali Allah SWT memberi jalan kemudahan  kepada saya untuk segera mencium bagian inti tengah batu mulya Hajar Aswad tersebut. Alhamdulillah… Alhamdulillah.. Alhamdulillah, setelah saya berdo’a, saya mengeluarkan kepala  dari lubang Batu tersebut kemudian mencoba menyisip keluar dari jempitan jamaah yang berebut untuk giliran selanjutnya.

Rasa senang, puas tak terlukiskan rasanya, sekalipun baju gamis saya penuh keringat tetapi kini saya sudah berhasil menciumi Hajar Aswad pagi ini untuk yang kelima kalinya. Allahu Akbar…! Saya selanjutnya menuju ke Makam Nabi Ibrahim untuk juga memberi isyarat pamit, dan InyaAllah masih berniat atas izin Allah SWT untuk kembali melakukan ibadah yang sama di tempat mulya ini. Amin..Amin..Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sebagai akhir dari tulisan ini saya berdo’a ” Ya Allah,  untuk segenap saudaraku para pembaca yang Muslim dan Mulimat agar diberi kesempatan yang sama untuk disegerakan menuju BaitullahMu bagi yang belum pernah. Dan bagi mereka yang sudah pernah ke Baitullah untuk berniat diberi kesempatan sekali lagi untuk berkunjung kesana  ya Allah. Dan hidup dan matikanlah  kami semua dengan mudah dalam suasana RidhoMu ya Allah.Amin..Amin..Amin ya Rabbal ‘alamin.

Pulang Ke Tanah Air

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) PTIK FT UNM

Kerjakan tugas dengan serius, tepat waktu InsyaAllah Anda sukses!

Multimedia Pendidikan PTIK FT UNM

Kerjakan Tugas dengan Serius, Tepat Waktu, InsyaAllah Anda Lulus!

pippk

Praktek Instalasi Perawatan dan Perakitan Komputer - PTA FT UNM

Belajar Bahasa Pemrograman

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

CD Interaktif Multimedia

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Ajar Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Pembelajaran Berbasis Komputer

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Teknik Multimedia Web Blog

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini : by Mustamin Tewa'

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

sehat news

informasi seputar kesehatan terkini

amadnoy

the minimalis news

%d blogger menyukai ini: