RSS

Arsip Kategori: Masjid Haram

Hati-Hati di Makkah Banyak Copet

Ikut sedih rasanya ūüė¶ kalau mengenang perjalanan beberapa waktu yang lalu bersama rombongan umrah Arminasari. Ketika tiba di Makkah ada teman kami yang berasal dari limbung suami istri yang kecopetan, baju gamisnya robek karena sudah tersileti sekitar 5 – 10 centimeter. Luar biasa memang cara kerja mereka karena sangat cepat dan tidak terasa. Akibat dari kejadian tersebut semua uang dan dokumen yang ada di kantongnya ludes tak tersisa. Yah mau apalagi selain beristigfar dan mengambil hikmah dibalik kejadiannya (introspeksi diri).

Sebenarnya cukup gampang mengenali orang-orang yang akan melakukan copet yang standby di depan pelataran Masjidil Haram, maupun di jalan-jalan menuju Masjidil Haram. ¬†Mereka sebenarnya sudah berkeliaran di luar pagar area mesjid bercampur baur dengan jamaah yang mondar mandir. Selain itu juga ¬†para peminta-minta (pengemis) berkulit hitam laki-laki perempuan juga ikut berjajar di tengah jalan dengan jarak-jarak tertentu ¬†berharap mendapat sedekah dan belas kasihan seikhlasnya dari para jamaah yang lalu lalang. Mereka semua rata-rata cacat fisik, ada yang kehilangan tangan, kaki, atau kedua-duanya. ¬†Resikonya adalah terkadang ketika salah satu dari pengemis tersebut dikasih uang real maka yang lain akan mengurung Anda untuk juga ikut meminta sedakah. Jika memang Anda harus melakukannya siapkan uang real yang pas jumlahnya untuk Anda ¬†bagikan, setelah selesai tinggalkan cepat lokasi tersebut. Jangan menunjukkan bahwa Anda masih memiliki sejumlah uang yang banyak di kantong Anda. Hindari ¬†juga berdiri ¬†terlalu lama dalam kurungan para pengemis kecuali kalau memang menurut Anda itu aman ataukah memang Anda harus melakukannya. Masalahnya jumlah mereka sangat banyak, satu pengemis diberi uang real, rasanya memang kurang adil jika tidak bersedekah kepada yang lainnya, jika menggunakan ukuran perasaan. ūüôā

Selama di lokasi Medina dan Makkah, Alhamdulillah saya bersama keluarga terhindar dari ujian seperti itu, tetapi beberapa kali mendapatkan aksi percobaan pencopetan atau mungkin penipuan. Jika ditanya mengapa seperti itu, jawabannya karakter orang muslim ¬†indonesia umumnya perasa dan cepat iba, dan suka menolong sasama. Tentu karakter ini kadang¬† dimanfaatkan orang-orang tertentu yang tahu persis tabiat orang indonesia yang ulas asih tersebut. Apalagi ini sedang berada ditempat-tempat ibadah seperti di Medina dan Makkah. ūüôā

Saya akan bercerita sedikit pengalaman yang saya lalui sejak dari Medina maupun Makkah berkaitan tindakan yang copet atau tindakan unik lainnya.

Suatu malam di Kota Medina, saya berjalan keluar dari Hotel terus ke depan pelataran  Medina. Waktu itu saya sendiri dan malam itu jamaah mulai berkurang. Waktu itu kira-kira jam 09.00 ke atas waktu Medina. Pada saat saya telah menyebrang jalan dan berjalan di antara toko-toko yang sudah mulai sepi bahkan ada yang sudah menutup tokonya. Ada suami istri mendekati saya sambil mendorong bayinya. Laki-laki itu setelah saya perhatikan masih cukup muda cuman badannya besar dan tinggi layaknya orang-orang arab secara umum. Sedangkan istrinya menggunakan pakaian hitam dengan cadar menutup mukanya. Melihat fisiknya dan menatap matanya iapun masih sangat muda.

Orang itupun menegur saya: “hi frend, you can speak Arabic or English. Kemudian saya menjawabnya dengan sedikit senyum “English”. Kemudian orang itu ¬†melanjutkan ucapannya dengan bercerita bahwa ia dari Negara Serbia, dan saat ini uangnya loss (habis) sehingga tidak bisa makan dan pulang ke negaranya tersebut, sambil melihat ke instrinya, dan istrinya membenarkan perkataannya. Kemudian Ia melanjutkan kalimatnya bahwa ia membutuhkan sedikit bantuan berapapun keikhlasan saya untuk membantunya. Sebenarnya saya membawa uang real dan uang Indonesia di dompet saya, tetapi saya tidak ingin membukanya, karena sedikit waspada karena curiga orang ini menurut perasaan saya berkata tidak jujur. ¬†Lagian ¬†malam itu di antara bangunan kota mekah saya belum tahu suasananya seperti apa, sehingga saya menjawabnya, dengan sengaja mencampur-campur bahasa Indonesia dan English supaya kelihatan aneh. Oh ya..i am sorry, my wife bringing my money, my be five minites i can give money for you”. Please wait.!? ūüôā

Kemudian dalam bahasa Inggris orang itu berkata “Saya akan menunggumu di tempat itu..!”, sambil menunjuk salah satu tiang yang ada diantara toko-toko yang mulai sepi. “Ok!”, jawabku…saya mempercepat langkah untuk secepatnya masuk dalam area pelataran Mesjid Madinah dan saya merasa aman sementara. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Tetapi terlintas juga untuk berjaga-jaga saya hanya menyiapkan uang Rp. 50 ribu rupiah jika nantinya saya bertemu kembali diluar pelataran Mesjid. Masalahnya saya sangat ragu saya bertemu orang yang salah.

Beberapa menit saya berada di pelataran Mesjid Medina sambil berfikir keras, sampai saya benar-benar yakin untuk kembali keluar ke pelataran depan Madina dan berharap tidak bertemu orang itu lagi (pikirku). Setelah saya merasa yakin dengan penuh kehati-hatian saya kembali keluar¬† area Mesjid Madina dan menole ke sana kemari sambil berjalan mantap. Sampai di tempat yang dituju saya menoleh dan mencari-cari orang tersebut, tetapi Dia sudah tidak ada ditempatnya, entah¬† mengintip saya dari tempat tertentu atau tidak. Tetapi karena saya merasa diuntungkan maka saya secepatnya berlalu pergi menuju Hotel penginapan saya, sambil beristigfar bercampur pikiran antara percaya apakah orang itu benar ataukah orang itu hanya ingin memeras saya. “Wallahu ‘alam bissawaf”.

Cerita selanjutnya adalah ketika saya berada di Kota Makkah. Di mana saya betul mempeperhatikannya sejak hari pertama berada di kota tersebut. Sebenarnya saya sudah mendapatkan cerita-cerita¬† para jamaan yang terlebih dahulu pergi ketempat suci ini waktu di tanah air.¬† Baru saya percaya setelah berada di kota suci Makkah dan menyaksikannya sendiri. Tidak segan-segan para pengemis memotong jalan kita dan langsung menjulurkan tangannya¬† berharap mendapatkan sedekah. Mereka adalah ibu-ibu pengemis yang kadang menggendong seorang bayi, tetapi kadang diwaktu lainnya juga tidak. Perenpuan-perempuan itu ada yang bercadar tetapi ada juga yang tidak. Kadang-kadang mengemis sendiri tetapi ada juga yang bergerombol. Hati-hati jika ada pengemis yang menghadang dari arah depan dan belakang, ini sering¬† terjadi jika jamaah membawa tas atau kantongan yang kelihatan tebal baik karena uang ataupun karena benda-benda elektronik lainnya. Pengalaman pada teman saya yang jamaah umrah juga telah membuktikan bahwa pada waktu ia hanya memberikan uang real kepada salah satu pengemis¬† dan pengemis yang lain mengepungnya. eh.. besoknya dihadang lagi pengemis yang sama akibatnya¬† kantong gamis putih yang dikenakannya sobek dengan dua kali goresan tanpa terasa. Semua uang dan surat-surat dalam dompetnya raib entah sekarang berada di mana. ūüė¶

Suatu ketika saya dihadang oleh perempuan mudah berpakaian sedikit lusu. Terdapat tanda hitam pas ditengah ubun-ubunnya, mirip orang India. Dia momotong jalan saya sambil mengangkat tangannya yang tertutupi jilbab. Saya sebenarnya tahu bahwa perempuan pengemis ini tidak hanya bermaksud untuk meminta sedekah tetapi Dia akan mencopet saya. Kelihatan waktu mengangkat tangannya di bawah jilbab putih yang dikenakannnya saya melihat ada benda hitam bercabang tiga yang sangat tajam diselip diantara kain yang melilit dibadannya. Saya menjadi semakin waspada. Apalagi umumnya pengemis jarang bicara hanya menunjukkan mimik memelas kepada kita jika yang Anda perhatikan adalah wajahnya. Waktu itu saya memegang kuat Handphone¬† di tangan kanan,¬† sambil mengangkat ke atas dengan kepalan tinju seolah menghadap ke arah mukanya. Sambil sedikit menaikkan suara dengan hanya mendehem “hm..!!!, hm…!!!, hm…!!!” dengan nada yang keras. Soanya tangan satunya tidak pernah kelihatan dan jilbabnya kini menutup di atas tas saya. Saya tidak sadar bahwa tas saya sekarang sudah bocor sekitar 1 CM. Tetapi karena saya¬† selalu menghadap ke arah tas saya dengan kepalan tinju¬† memegang HP, pengemis yang memepet saya pun jadi ciut dan mundur. Saya terus berjalan ke depan dan setelah jauh¬† baru sadar bahwa Dia sudah berhasil melobangi Tas pinggang saya. Dongkol juga rasanya tetapi sedikit besyukur karena saya tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap pengemis tersebut. Astagfirullah.

Ke esokan harinya diwaktu sore hari, saya kembali bertemu dengan pengemis tersebut, Dia bermaksud lagi mencegat saya, tetapi saya kemudian berhenti dan menatap tajam matanya tanpa melepaskannya dan menunjukkan sikap¬† sedikit tidak nyaman kepadanya. Mungkin Dia sadar bahwa kemarin ia berhasil melobangi Tas yang saya kembali gunakan.¬† Pengemis itu mengurungkan niatnya, dan kembali ke posisinya bersama teman-temannya¬† sambil membalikkan pandangannya ke arah yang lain. Sebenarnya jika hanya mengemis tidaklah masalah buat para jamaah karena pasti kita semua tidaklah merasa terbebani untuk melakukannya, tetapi sebagian dari orang-orang ini menjadikan kedok mengemis untuk menutupi aksi copetnya. Sungguh banyak jamaah yang sebenarnya menjadi korban ulahnya, tetapi banyak diantara mereka yang hanya diam dan kemudian berkata mungkin Allah SWT sedang mengujiku. ūüôā Entahlah apakah ini ujian atau sebuah keteledoran dari kita semua. Mungkin juga sudah menjadi langganan polisi pengemis itu tertangkap lalu dilepaskan kembali :(.

Beberapa hari selanjutnya kami melakukan Ikhram yang ke dua, waktu itu bertepatan dengan Hari Pertama Puasa Bulan Suci Ramadhan. Seperti biasanya perempuan-perempuan pengemis itu sudah berjajar dengan jarak-jarak tertentu¬† satu sama lainnya. Dalam perjalanan menuju Mesjidi Haram, kebetulan istri dan mertua saya di belakang¬† sedang di hadang dan dipepet. soalnya kami semua menggunakan tas pinggan ciri khas Travel Arminasari. Mungkin isi tas itulah yang mereka incar, padahal di dalamnya tidak lebih dari buku bacaan do’a-doa, dan paling sajadah kecil. Karena ketika kami dalam mesjid tas itu juga yang kami gunakan untuk menyimpan sendal. Melihat gelagat pengemis itu saya mundur dan mempersilahkan Mertua dan Istri saya berjalan duluan. Dengan sikap tenang saya¬† berdiri dan menatap pengemis itu kembali dan mencoba mengawal Istri dan Mertua saya. Melihat saya lagi, mungkin kepikiran eh..orang ini lagi yang kemarin yang ia temui. Akhirnya dia berlalu pergi, Alhamdulillah kami kembali selamat dari aksi-aksi para pencopet tersebut.

Sebenarnya sah-sah saja, Anda dan kita semua memberikan sedekah kepada mereka. Saya sendiri juga melakukannya, kadang memberinya uang real sepulang dari shalat Dhuhur dan cukup banyak jamaah lain juga melakukan hal yang sama. Tetapi yang tidak mendikan kita tidak simpati adalah tindakannya yang ingin lebih, ingin mangambil semua yang kita meliki jika Anda tidak waspada. Sehingga dari pengalaman-pengalaman Jamaah yang sudah pulang dari Tanah Suci selalu berpesan:

Jangan layani orang per orang atau rombongan pengemis yang ada di Jalan raya, karena sebagian dari mereka adalah copet. Jika ingin benar-benar bersedekah maka berikanlah itu kepada para cleaning servis mesjid yang jumlahnya ratusan. Mereka tidak cape-capenya membersihkan karpet, mengepel lantai mesjid mengganti galon-galon air minum zam-zam yang berada dalam mesjid dan luar mesjid, memungut sampah tanpa menujukkan perasaan lelah. Mereka sangat gampang ditemui karena jumlahnya yang sangat banyak, dan banyak diantara mereka adalah orang-orang yang berasal dari Indonesia. Jika nanti Anda ke sana InsyaAllah, Anda dengan mudah mengenalinya.

Dengan demikian saya berkesimpulan dari pelajaran-pelajaran yang kami temui serta kejadian demi kejadian yang menimpa teman-teman jamaah Haji dan Umrah lainnya, bahwa. Jika Anda berhadapan dengan pengemis yang memepet diri Anda, jika tanganya tidak kelihatan salah satunya, maka waspadai barang bawaan Anda entah itu kantong dan Tas Anda. tetapi ketika kedua tangannya kelihatan atau tangan yang dijulurkan ke arah Anda itu kelihatan ataupun tidak kelihatan tetapi masih berjarak dengan diri Anda InsyaAllah dia masih pengemis yang baik. Dan waspadalah jika orang-orang itu mengelilingi Anda. ūüôā

Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan para jamaah Haji dan Umrah adalah:

  1. Jangan membawa uang dalam kantong atau tas pinggang menuju ke tempat ibadah terkecuali Anda memang memerlukan dan yakin mampu menjaganya dengan baik.
  2. Simpan uang Anda di Hotel dalam Travel Bag Anda yang dalam keadaan terkunci, kuncinyalah yang Anda bawa atau jaga.
  3. Jika memang ada keperluan untuk berbelanja maka bawalah uang secukupnya sesuai kebutuhan penggunaanya.
  4. Jangan melayani orang-orang tertentu yang sok kenal dengan Anda padahal Anda benar-benar tidak mengenalnya.
  5. berjalan berjamaah pada tempat berbelanja atau tempat ibadah jauh lebih baik daripada sendiri, supaya bisa saling mengingatkan antara satu sama lain.
  6. Hindari menggunakan tas pinggang atau tas selempang dengan posisi di belakang, sebaiknya Anda pastikan bahwa tas tersebut aman berada depan dada atau perut Anda.
  7. Pastikan jika pengemis mengepung Anda muka dan belakang, jangan tatap mata mereka, tetapi perhatikan dan waspadai kantong, atau tas bawaan Anda.
  8. Pastikan setiap Anda meninggalkan hotel untuk selalu membawa identitas Travel Anda, yang dapat dikenali atau dihubungi jika diperlukan.
  9. Hindari berjalan sendirian diwaktu malam yang mulai sepi diluar waktu ibadah baik di Medina maupun Makkah kecuali terpaksa.

Ya Allah, ampunilah kami, jika di dalam tulisan saya di atas ada kata yang salah atau berlebih. Kami berlindung kepadaMu akan kejahatan malam dan siang, dan jadikan kami hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmatMu. Ya Allah SWT. jika Engkau berkehendak kami semua akan selalu rindu untuk kembali ketempat-tempat suciMu dalam ke adaan sehat wal ‘afiat dengan kenikmatan Ibadah. Amin..amin..amin ya rabbal ‘alamin.

 

Tips n Trik Mencium Hajar Aswad

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya ” Hari Pertama Mencium Bibir Hajar¬†Aswad “, sengaja saya menulis dengan judul di atas karena tidak ada kesenangan yang terukir lebih Indah, yang selalu terbayang dalam ingatan saya ketika Allah SWT, memberi kesempatan kepada saya untuk dapat mencium Hajar Aswad setiap hari. Lima kali saya mencium Hajar Aswad sekalipun di hari pertama hanyalah sempat mencium pinggirnya saja, tetapi hari berikutnya sampai hari terakhir saya meninggalkan Kota Makkah saya selalu mendapatkan kemudahan untuk mencium Batu Mulya tersebut sepuas saya.

Ketika ditanya apakah saya memang pernah merencanakannya untuk mencium batu mulya tersebut sebanyak itu maka saya menjawabnya demi Allah tentu tidak!, kepingin ya, tetapi terbayang sejumlah ketakutan dan kekhawatiran yang lebih besar dari cerita orang-orang yang sudah pergi kesana sebelumnya.Semuanya bercerita bahwa mencium Hajar Aswad penuh perjuangan. Bahkan ada calo yang kadang juga sedikit memeras ketika telah memberikan jasa bantuan untuk menolong orang-orang yang kepingin mencium Hajar Aswad tersebut. Tarif standar calo yang disampaikan ke saya sekitar 30 real atau lebih, tetapi ada juga yang kadang hanya mengatakan seikhlasnya saja yang tidak tahu partinya berapa. Tetapi selama saya mencium Hajar Aswad  Alhamdulillah, semua karena pertolongan Allah SWT semata, free hanya dibayar dengan dzikir  dan keringat saja :). Untuk itu cerita ini saya tuliskan untuk memberi motivasi kepada segenap kaum muslimin dan muslimat yang  pada dasarnya InsyaAllah  mampu melakukannya, tentu juga harus dibarengi dengan kesehatan prima untuk sedikit berdesak-desakan dan siap terjepit  dari orang-orang yang bertubuh kekar yang juga punya tujuan sama untuk mencium Batu Mulya tersebut.

Saya anggap Anda telah membaca tulisan saya sebelumnya ” Hari Pertama Mencium Bibir Hajar¬†Aswad “. Dengan demikian saya akan melanjutkan bagaimana caranya sehingga saya mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad lebih banyak dari para jamaah umrah Travel Arminasari lainnya kala itu.

Setelah punya pengelaman pada kesempatan pertama mencium Hajar Aswad sesungguhnya saya sudah merasa sangat senang. Tidak lagi terpikirkan bahwa saya akan mencoba mengulanginya, tetapi keesokan harinya ketika saya duduk dalam ruang makan, salah satu teman jamaah yang juga umrah bersama istrinya masuk dan bercerita tentang pengalamannya mencium Hajar Aswad bersama istrinya. Orang ini adalah seorang pedagang yang sudah berkali-kali melakukan perjalanan Umrah. Mereka berdua sudah Haji sehingga telah memiliki sejumlah pengalaman tentang kota Makkah.

Pak Mus, Alhamdulillah saya bersama istri saya tadi Shubuh sudah berhasil mencium Hajar Aswad.
Saya hanya tersenyum, kemudian mengucapkan Alhamdulilah, bagaimana ceritanya pak..?

Suaminya kemudian menjelaskan caranya. Saya berdiri di depan Pak Mus, dan istri saya ikut dibelakang memegang pundak saya. (yah..tentu  karena  suaminya berotot kekar dan memiliki postur tubuh tunggi seperti layaknya orang Arab). Tetapi ada yang lucu pak Mus, ketika giliran seseorang akan memasukkan ke palanya ke Hajar Aswad, saya memegang pundaknya kemudian menariknya ke belakang dan mempersilahkan istri untuk mencium lebih duluan he he :).
Kemudian istrinya menyela, ia tuh Pak Mus, terus ada yang perlu Anda perhatikan kalau mau mencium, supaya tidak keluar dari antrian sebaiknya menyisir pinggiran Ka’bah dan memegang tali pengikat kain Ka’bah tersebut. Itu yang saya lakukan bersama suami saya.
Tali itu berada pada bagian mana ya Bu? (tanya saya)
Tali itu berada disepanjang pinggiran Ka’bah karena sesupenngguhnya tali itulah yang mengencangkan kain pembungkus Ka’bah tersebut. Oh…begitu ya Bu. (sambil saya mangguk-mangguk).

Besoknya, dengan penuh semangat saya kembali ke kancah barisan orang-orang yang sudah tawaf dan orang-orang yang sedang antri untuk mencium Hajar Aswad. Dengan pakain ala Arab gamis panjang merek Al-Haramain warna abu-abu saya saya kembali melakukan tawaf terlebih dulu sebanyak 7 kali putaran kemudian melakukan shalat sunat Tawaf 2 rakaat di luar barisan Tawaf depan Kab’ah pada tempat yang telah disediakan.

Saya kembali melantunkan do’a-do’a penuh pengharapan untuk keluarga, saudara, teman, sahabat, tetangga, para siswa dan mahasiswa yang pernah saya atau sedang ajar untuk bisa juga merasakan kenikmatan ibadah seperti yang saya rasakan saat itu. Dan bagi mereka yang sudah pernah datang untuk diberi kesempatan untuk datang kembali melakukan ibadah yang sama dengan lebih khusu’ amin..amin..ya Rabbal ‘alamin.

Depan Ka'bah

Setelah itu saya meminta do’a khusus untuk diberi kekuatan untuk dapat mencium Hajar Aswad sekali lagi atas izin Allah SWT. Kemudian saya berdiri dari tempat Shalat saya dan mencoba menyisip barisan orang-orang yang sedang tawaf sambil memotong ke dalam untuk segera mencapai dinding Ka’bah. Begitu banyak orang yang sedang mencium sambil menangis di pinggiran Ka’bah tersebut ūüė¶ . Tetapi ada juga yang khusu’ berdo’a dengan mulut yang komat-kamit :).

Saya juga menyempatkan diri untuk menyapu bagian kain Ka’bah tersebut menggunakan telapak tangan saya dengan rasa kagum atas Kebesaran dan ke agungan Allah, SWT, sambil melantunkan do’a-do’a untuk rezki dan kebaikan lainnya. Sambil berjalan mendekati barisan antrian orang-orang yang akan mencium Hajar Aswad. Saya bertemu dengan perempuan Indonesia yang mencoba menawarkan jasa kepada saya untuk mengantar saya mencium Hajar Aswad. Saya kemudian tersenyum dan menyampaikan bahwa saya sudah mencium Hajar Aswad sebelumnya. Perempuan itu kemudian meninggalkan saya dan mencari orang Indonesia lainnya untuk menawarkan jasa yang sama. Alhamdulillah kini saya sudah masuk dalam antrian jamaah yang akan mencium Hajar Aswad. Tepat dipinggir Ka’bah saya melihat ke bawah dan mendapati tali pengencang kain Ka’bah yang kemudian saya pegang untuk¬† mengokohkan pegangan dan kedudukan saya dalam barisan. Tali itu seukuran pergelangan tangan saya, sambil terus menuju ke depan. Sesekali saya memperbaiki posisi dan kedudukan saya dalam antrian sambil juga menahan dorongan jamaah¬† dari belakang yang memaksa saya maju ke depan. Tetapi dalam sisi yang lain saya juga harus menahan tubuh jamaah yang terdorong dari arah depan dan kehilangan arah untuk tetap berdiri tegak dan jangan sampai jatuh.

Alhamdulillah kini jarak saya¬† semakin dekat ke Hajar Aswad. Saya juga¬† menguatkan pegangan saya pada tali kain Ka’bah tersebut dan sesekali mencoba menyisip di sela-sela jamaah yang bergejolak untuk berusaha memasukkan kepalanya dalam lubang Hajar Aswad. Dengan pekikan Allahu Akbar, kini saya berusaha mengambil kesempatan untuk memasukkan kepala saya ke dalam Lubang Hajar Aswad dan menciumnya dari arah samping. Karena jamaah masih sibuk¬† saling tarik menarik dan saling dorong untuk mengambil kesempatan berikutnya, saya kembali mencium Hajar Aswad tepat ditengahnya sambil berdo’a dalam hati. Beberapa saat kemudian terlintas dalam pikiran untuk merasa cukup dan memberi kesempatan jamaah lain untuk mencium Hajar Aswad tersebut. Kembiraan yang amat sangat terlukis diwajah saya, perasaan puas dengan ucapan Alhamdulillah tak lepas saya ucapkan di bibir saya. Baju Al-Haramain yang saya pakai ¬† tumpah keringat saya dan keringat jamaah lain tetapi sama sekali tidak berbau. Saya berusaha menyisip keluar dari arus jamaah yang berdesak-sedakan tersebut sampai pada akhirnya saya berada diluar orang-orang yang sedang antri tersebut. Saya kemudian menuju pada Kuburan Nabi Ibrahim yang berada tepat di depan Ka’bah di area Tawaf. Saya juga mengusapkan tangan saya pada dindingnya sambil berdo’a dalam hati untuk kebaikan. Setelah itu saya menuju tempat minum air zam-zam, setelah minum saya¬† menyiramkannya ke wajah saya supaya lebih segar, selanjutnya saya pulang ke Hotel dengan senyum cengar cengir penuh kegembiraan. Dalam benak saya, Alhamdulillah kini saya sudah dua kali berkesempatan mencium Hajar Aswad :).

Hari esoknya setelah Shalat Ashar saya kembali turun untuk mencium Hajar Aswad. Saya awali dengan melakukan Tawaf terlebih dahulu kemudian melakukan Shalat sunat 2 rakaat. Kali ini saya mengenakan baju Al-Haramain warnah Putih :). Saya kembali pada barisan antrian pada arah pinggir Ka’bah sambil memegang tali kain Ka’bah. Tepat di belakang saya ada 2 orang jamaah berpakaian ikhram sambil berbidacara kepada temannya Indonesia? sambil menunjuk ke arah saya. Mendengar ucapan itu saya menoleh ke belakang sambil tersenyum mengangguk (dua orang tersebut adalah Jamaah India). Dia mempersilahkan saya untuk bergerak ke dapan perlahan, saya mengangkat satu kaki kiri saya setengah duduk di atas mar-mar Ka’bah yang posisinya miring pas di bawah tali Kain Ka’bah tersebut. Sedangkan kaki kanan saya memasang kuda-kuda sambil kedua tangan saya memegang kuat tali kain Ka’bah tersebut. Perlahan-lahan tubuh saya gerakkan ke depan menuju pusat penciuman. Sambil saya memperhatikan Jamaah yang melemparkan dirinya ke luar barisan antrian, setelah berhasil mencium Hajar Aswad. Saya menunggu kesempbuh satan yang sama sebelumnya dimana orang-orang sibuk saling mendorong dan tarik menarik, karena postur tubuh saya lebih pendek dan kecil dibanding jamaah Arab, Irak maupun India, maka saya selalu diuntungkan dari pundak-pundak mereka yang kekar. Dari arah bawah katiak mereka saya nongol ke atas dan tiba-tiba saya sudah mencium Hajar Aswad dari arah samping terus ke tengah bagian inti Batu Mulya tersebut. Dalam posisi mencium saya kembali berdo’a dalam hati dan setelah merasa cukup saya bertumpu pada Ka’bah untuk mendorong tubuh saya keluar antrian, namun karena kuatnya arus dorongan dari luar saya seolah terbawa dalam pusaran arus jamaah yang saling mendorong ke arah dalam. Kaki saya tidak menyentuh lantai Ka’bah seolah duduk bersila di atas paha-paha jamaah yang saling mendorong. Pikiran saya yang penting jangan sampai saya jatuh kebawah sehingga terinjak-injak oleh Jamaah lain. (Hati saya memberi isyarat untuk tidak melawan arusnya tetapi ikuti saja kemana arah tubuh ini terbawah) sampai pada akhirnya kaki saya sudah bisa menyentuh lantai Ka’bah dan saya juga sudah berada jauh duiluar antrian.¬† Alhamdulillah, kegembiraan kembali menyelimuti perasaan saya karena kini saya sudah mendapatkan kesempatan tiga kali mencium Hajar Aswad :). Selanjutnya saya menuju Makam Ibrahim untuk berdo’a setelah itu kembali pulang ke Hotel.

Padat Jamaah

Esok harinya setelah Shalat Ashar saya kembali ke medan tempur untuk kembali berolah raga dalam antrian untuk mencium Hajar Aswad :). Kali ini saya memakai gamis hitam Al-Haramain. Saya selalu mengawali dengan melakukan Tawaf terlebih dahulu kemudian Shalat Sunat. Setelah itu barulah saya menuju ke tempat antrian jamaah yang akan mencium Hajar Aswad. Kali ini jamaah baik yang Tawaf maupun yang antri untuk mencium Hajar Aswad sangatlah padat. Soalnya sekarang sudah masuk hari Pertama Bulan Suci Ramadhan. Alhamdulillah saya masih diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah.SWT untuk melakukan rutinitas ibadah seperti hari-hari sebelumnya. Sekarang saya sudah masuk dalam  antrian tetapi kali ini ada keluarga jamaah Malaysia yang sedikit ribet di depan saya. Karena tidak mengharapkan orang-orang mendekatinya dan berada di belakang istrinya. Suaminya selalu membentak Jamaah dan mengatakan Haram-Haram-Haram, sementara orang-orang begitu banyak dan saling berdesak-desakan. Saya kemudian mundur saja dan membiarkannya berlalu. Tidak lama ada sekumpulan Jamaah yang bertbuh besar tinggi kira-kira jumlah antara 6 sampai 8 orang, masuk mengambil antrian pas di belakang Jamaah Malaysia tersebut. Hati saya memberi isyarat untuk tidak ikut masuk dalam antrian tersebut, saya kembali mundur ke belakang dan membiarkan jamaah tersebut mencium terlebih dahulu. Tidak lama saya mendengar teriakan ibu-ibu yang terjepit, sampai akhirnya polisi penjaga harus turun tangan dan beberapa kali menepuk pundak jamaah yang berdesak-desakan tersebut. Ternyata skenario Allah SWT lah yang selalu di atas segala, sekuat dan seingin apapun orang untuk mencium jika tidak atas kehendak Allah SWT semua tidak akan terjadi. Buktinya tidak semua orang-orang yang bertubuh besar tinggi tersebut mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad, hanya mereka yang terpilih dan ditakdirkan oleh Allah SWT atas kehendakNya.

Setelah barisan mulai tenang saya kembali dalam strategi saya, yaitu kembali ke barisan pinggir Ka’bah memegang kuat Tali Kain Ka’bah, Kaki kiri setengah duduk di atas mar-mar Ka’bah dan Kaki kanan bertumpu memasang posisi kuda-kuda layaknya pendekar :). Perlahan-lahan tubuh saya gerakan ke depan sambil menarik tali Kain Ka’bah tersebut, dan Alhamdulillah kini saya sudah mendekat pada bibir kiri hajar Aswad. Begitu badan saya angkat ke atas untuk mencium dorongan dengan kekuatan yang tak bisa saya tahan membuat saya harus terhempas ke arah tengah antrian. Songkok kepala kesayangan saya yang berwarnah hitam terlepas dan jatuh ke bawah, kepikiran untuk menjepitnya tapi hati memberi isyarat jangan. Resiko yang ditimbulkan bisa lebih fatal jika berusaha membungkuk ke bawah dari kumpulan jamaah yang mepet satu dengan yang lain tanpa spasi. Yah..songkok yang tidak lepas dikepala saya sejak dari tanah air, terus ke Madina terus sekarang di Makkah harus rela saya ikhlaskan untuk tinggal di lantai Ka’bah. Entah siapa nanti yang memungutnya. Saya belum berhasil mencium Hajar Aswad dan kini saya terdorong keluar dari antrian Jamaah. Setelahh puas memandang orang-orang yang berdesak-desakan saya kembali mengambil posisi antrian seperti sebelumnya yang sering saya lakukan. Tenaga rasanya tinggal 1/2 dari sebelumnya :), tetapi dengan strategi yang sama sambil berdzikir berusha terus ke depan. Alhamdulillah, sampai pada akhirnya saya mendapatkan giliran kembali mencium Hajar Aswad dari arah samping dan tengah yang ke empat kalinya :). Senyum puas tak terlukiskan lagi sambil pulang ke Hotel untuk Istirahat sejenak dan kembali ke Masjidil Haram untuk Buka Puasa (Khusus suasana Puasa akan diceritakan dalam tulisan berikutnya).

Kini tiba giliran terakhir untuk mencium Hajar Aswad, waktu itu pagi hari setelah melakukan Shalat Shubu, kerena siang kami perjalanan pulang ke tanah air. Kami bersama rombongan harus menunaikan Tawaf Wada atau Tawaf perpisahan. Tentu sedih campur haru melakukan ibadah itu, soalnya sebentar lagi kami akan pulang ke tanah air. Setelah melakukan Tawaf Wada tidak lagi kami dapat Shalat di Area Masjidil Haram tetapi boleh ditempat lain, inilah makna perpisahan, atau minta pamit pulang ūüė¶ . ¬†Saat rombongan kami sudah berkumpul kami kemudian bergerak mau menuju lantai dasar atau area yang menuju tempat Tawaf. Tetapi polisi petugas Mesjidil Haram menahan kami untuk tidak melakukannya sekarang soalnya, jamaah sangat padat sedang melakukan Tawaf. Mungkin mereka juga karena melihat kami orang Indonesia berfostur tubuh kecil, apalagi saya ūüôā mungkin sayalah yang paling kecil di antara ukurang teman-teman jamaah dalam rombongan kami, selain ¬†satu anak kecil ¬†lainnya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) yang juga ikut bersama ibunya. Kemudian kami munuju serambi Masjidil Haram untuk mengambil posisi duduk sambil mengintif jamaah yang sedang Tawaf.

Tidak terasa sudah jam 08.00 berlalu dan kami belum bisa turun Tawaf. Malah orang-orang yang Tawaf semakin padat. Soalnya mereka adalah para jamaah yang sedang berpakaian Ikhram. Kemudian kami sepakat untuk menjaci jalan sendiri-sendiri dan jangan melakukannya secara berombongan. Tetapi beberapa teman juga masih melakukannya secara bersama-sama. Dengan lincah saya mencoba mencari jalan sendiri dengan mengambil arah pintu lain dan begitu saya mau turun saya ditahan oleh para petugas penjaga. Beberapa saat saya kemudian menuju pintu lainnya lagi dengan harapan pintu tersebut lebih sepi dan bisa menyisip ke bawah. Tetapi kembali lagi saya ditahan oleh para petugas penjaga. Saya mencoba bernegosiasi bahwa saya akan melakukan Tawaf Wada, tetapi mereka tetap belum membolehkan saya untuk melakukannya sekarang dan meminta sampai jamaah sedikit berkurang. Setelah sekitar 30 menit berlalu saya kemudian mengambil inisiatif untuk kembali ke Hotel mempacking barang sambil memantau perkembangan Tawaf melalui siarang langsung di TV yang ada di kamar kami. Saya berjalan keluar Mesjid dan ternyata ratusan barisan kursi roda siap menunggu giliran untuk Tawaf. Dalam benak saya pastas saja kami semua belum diperkenangkan untuk Tawaf soalnya waktu tersebut merupakan waktu dimana para Jamaah sedang membludak.

Alhamdulillah, tidak lama saya sudah sampai di hotel dengan langkah yang gesit dan mantap. Saya membersihkan kamar dan barang-barang bawaan. Saya bertemu petugas Hotel asal Hongkong yang selama ini melayani kami, dengana ramah menyambut saya kemudian meminta tips berupa sedekah seikhlasnya sekalipun itu adalah uang rupiah. Alhamdulillah masih ada sedikit tersisa uang rupiah di kantong tas kemudian memberikannya. Menjelang jam 10.00 pagi saya melihat melalui TV bahwa suasana di tempat Tawaf sudah mulai berkurang jamaah jadi saya segera bergegas pergi. Sebelumnya saya melakukan dulu Shalat Tahiyatul Masjid kemiduan melanjutkannya dengan Shalat Dhuha. Setelah itu saya berdo’a minta kemudahan dan keselamatan dalam melakukan rangkaian ibadah Tawaf Wada yang saya akan lakukan.

Saya berjalan menuju area tempat Tawaf kemudian pada Tanda dimana ada lampu Hijau sebagai awal Tawaf saya kemudian memulainya. Tidak terasa 7 putaran terselesaikan kemudian saya kembali melakukan Shalat Sunat Tawaf dua rakat. Setalah itu kembali berdo’a dengan Khusu’ dan tidak terasa air mata bercucuran tak terbendung. Entah sedih, gembira, terharu, bercampur jadi satu, tetapi yang jelas kami tidak lama lagi akan meninggalkan kota Makkah. Setelah Do’a terselesaikan dan perasaan sudah mantap maka saya bangkit berdiri kemudian kembali berjalan memutar searah Jamaah yang melakukan Tawaf sambil menyisip ke arah dalam supaya bisa mendekat ke Ka’bah. Alhamdulillah saya sekarang saya sudah berada di luar Hijir Ismail. Saya mencoba untuk masuk ke area tersebut dari kumpulan jamaah yang antri untuk melakukan Shalat Sunat dan Do’a. Atas ijin Allah, SWT, saya berhasil memasuki area tersebut dan kemudian melakukan Shalat Sunat dua rakaat dan berdo’a dengan khusu’ untuk memanjatkan segala harapan yang baik baik untuk diri sendiri, keluarga dan handai tolan. Setalah itu saya keluarr dari Hijir Ismail, dan kemudian menuju ke dinding Ka’bah dan kembali mengusapnya dengan kedua tangan saya. Saya hati terkagum-kagum atas kebesaran dan keangungan Allah SWT, sambil memunculkan harapan agar kelak masih bisa kembali ke tempat ini untuk melakukan rangkaian ibadah umrah maupun Haji, amin ya Rabbal ‘alamin.

Setelah itu saya kembali masuk dalam antrian dengan strategi yang sama seperti hari sebelumnya saya lakukan. Hari itu saya berpakaian gamis warna Hijau Al-Haramain. Setelah mendaptkan barisan dan mendaptkan pegangan yang kuat pada Tali pengikat Kain Ka’bah saya kemudian sedikit demi sedikit menggerakkan tubuh saya ke depans esuai pergerakan Ja’maah. Yah..tidak lama saya sudah bisa menjamah bibir Hajar Aswad dan menciuminya :). Sambil menunggu kepala Jamaah yang masih berada adalah Batu Hajar Aswad saya menguatkan pegangan dengan sambil ber dzikir yang tidak pernah putus. Setelah melihat peluang saya kemudian mencoba melakukan penciuman dan kembali Allah SWT memberi jalan kemudahan ¬†kepada saya untuk segera mencium bagian inti tengah batu mulya Hajar Aswad tersebut. Alhamdulillah… Alhamdulillah.. Alhamdulillah, setelah saya berdo’a, saya mengeluarkan kepala ¬†dari lubang Batu tersebut kemudian mencoba menyisip keluar dari jempitan jamaah yang berebut untuk giliran selanjutnya.

Rasa senang, puas tak terlukiskan rasanya, sekalipun baju gamis saya penuh keringat tetapi kini saya sudah berhasil menciumi Hajar Aswad pagi ini untuk yang kelima kalinya. Allahu Akbar…! Saya selanjutnya menuju ke Makam Nabi Ibrahim untuk juga memberi isyarat pamit, dan InyaAllah masih berniat atas izin Allah SWT untuk kembali melakukan ibadah yang sama di tempat mulya ini. Amin..Amin..Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sebagai akhir dari tulisan ini saya berdo’a ” Ya Allah, ¬†untuk segenap saudaraku para pembaca yang Muslim dan Mulimat agar diberi kesempatan yang sama untuk disegerakan menuju BaitullahMu bagi yang belum pernah. Dan bagi mereka yang sudah pernah ke Baitullah untuk berniat diberi kesempatan sekali lagi untuk berkunjung kesana ¬†ya Allah. Dan hidup dan matikanlah ¬†kami semua dengan mudah dalam suasana RidhoMu ya Allah.Amin..Amin..Amin ya Rabbal ‘alamin.

Pulang Ke Tanah Air

 

Hari Pertama Mencium Bibir Hajar Aswad

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Sungguh rezky dan pengalaman yang luar biasa yang Allah SWT berikan kepada saya waktu berangkat umrah bersama keluarga. Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan berkesempatan mencium Hajar Aswad sebanyak 5 kali, dan istri saya sebanyak 2 Kali.

Hajar AswadHari kelima pemberangkatan kami melakukan Ibadah Umrah rombongan kami sudah berada di Kota Makkah tinggal di hotel yang jaraknya agak jauh dari Mesjidil Haram, tetapi tidak menyurutkan semangat kami untuk menyempurnakan  ibadah umrah  bersama rombongan.Hotel ini jaraknya kira-kira kurang lebih 1 kilometer dari Mesjid karena waktu kami datang hotel-hotel di bagian samping dan belakang hotel Zam-Zam dilakukan pembongkaran. Sungguh banyak hotel yang di robohkan untuk membangun hotel-hotel baru yang bisa menampung lebih banyak jamaah.

Kami semua memasuki Tanah Haram di waktu malam hari menjelang Shalat Isya dengan berpakaian ikhram perjalanan dari kota Madina. Rombongan kami di pandu oleh seorang ustadz mudah asal Madura bernama Ustadz Ahmad. Beliau sangat menguasai cerita berbagai tempat-tempat bersejarah di Madina maupun kota Makkah. Mungkin karena pengalaman beliau yang sudah lama membimbing jamaah Haji dan Umrah.

Karena rombongan kami tiba malam, maka mobil langsung membawa kami ke hotel terlebih dahulu untuk menyimpan barang dan selanjutnya berkumpul di lobby hotel untuk kemudian melanjutkan tawaf dan sa’i dalam rangka penyelesaian ibadah ikhram kami. Kami semua berjalan kaki dari hotel ke Mesjid Haram dan 3 orang kawan lainnya menggunakan kursi roda dengan biaya 30 real per orang karena faktor usia dan kesehatan. Malam itu begitu ramai jamaah di sepanjang jalan yang kami lalui. Setelah masuk pelataran mesjid kami terlebih dahulu berkumpul lagi untuk mengecek teman dan menunggu supaya rombongan jamaah yang melakukan tawaf mulai berkurang. Tetapi nampaknya memang jamaah dari berbagai negara sangat padat malam itu, sehingga kami semua menunggu sampai menjelang tengah malam kemudian masuk ke dalam Masjidil Haram untuk selanjutnya melakukan ibadah Tawaf sebanyak 7 putaran. Setelah itu kami melakukan Shalat Sunat dua rakaat di samping Ka’bah kemudian selanjutnya berjalan menuju ketempat Sa’i.¬† Waktu melakukan Shalat Sunat tidak terasa air mata bercucuran karena terharu dan gembira bisa berada di samping Ka’bah untuk memanjatkan do’a-do’a baik untuk diri sendiri, keluarga, saudara, tetangga dan seluruh kerabat serta¬† adik-adik mahasiswa yang sempat terlintas dalam ingatan saya tanpa kecuali.

Alhamdulillah malam itu juga kami semua menyelesaikan ibadah Ikhram sekalipun malam itu sedikit sedih karena salah satu jamaah kami hilang (perempuan tua) dan nanti hari ketiga berada di Makkah baru di ketemukan. Saya sendiri cedera pada kelingking kaki kanan saya karena menolong orang tua yang belum mahir menggunakan eskalator. Hampir saya rebah bersama di atas eskalator karena berusaha menolong dan mambantu agar orang tua tersebut tidak terjatuh ke belakang yang pada kahirnya menginjak kelingking kaki kanan saya. Alhamdulillah sekalipun sedikit sakit tetapi saya masih sanggup melanjutkan ke sesi terakhir rangkaian ikhram yaitu Sa’i, berjalan dari bukit Safa dan Marwah sebanyak 7 kali putaran yang ditutup dengan Tahallul (mencukur beberapa helai rambut). Kegiatan Tahallul ini¬† berjalan lancar karena saya membawa gunting dan pisau cukur dalam tas selempang pemberian Travel Arminasari. Setelah itu kami semua pulang ke hotel untuk beristirahat.

Ka'bah

Beberapa hari berlalu kami bersama rombongan melakukan ibadah di Mesjidil Haram, tetapi sedih juga rasanya karena teman kami yang hilang sejak hari pertama belum ditemukan.¬† Hampir setiap hari kami menayakan kepada pimpinan rombongan apa teman yang hilang sudah temukan..? Sampai pada hari ketiga¬† tepatnya hari jumat saya berdo’a¬† degan sedikit putus asa di depan Baitullah¬† sebagai berikut:

Ya Allah, sampai saat ini saya belum mendapatkan kabar mengenai keberadaan teman kami ya Allah. Setiap waktu Shalat kami melakukan Shalat Jenazah, tetapi kami tidak tahu apakah salah satu dari teman kami ada di sana atau tidak ya Allah. Maka jika Engkau berkenan, berilah kabar kepada kami hari ini ya Allah tentang teman kami hidup ataupun mati. Ya Allah semoga Engkau berkenan mendengarkan do’a kami amin ya rabbal ‘alamin.

Setelah Shalat Jum’at berlalu dan saya pulang ke Hotel dan langsung masuk ke ruangan tempat makan para jamaah. satu persatu teman-teman mulai berdatangan. Sampai pada akhirnya Ustadz Ahmad masuk ruangan dan saya langsung bertanya:

Ustad..? Apa teman yang hilang sudah ditemukan dengan wajah yang penuh harap mendapatkan informasi. Alhamdulillah…sudah ditemukan, Dia sudah ada ditempat penampungan Jamaah yang hilang.
Alhamdulillah…Senang rasanya mendengar informasi tersebut ustadz. (sambil kami mengambil makanan untuk sarapan siang.

Hari sebelumnya salah satu teman jamaah bercerita dengan penuh semangat bahwa Dia telah berhasil mencium Hajar Aswad bersama Istrinya dan juga membawa orang tua yang pernah menginjak kaki saya di eskalator. Dengan napas panjang selain gembira dan bersyukur mendengarkan cerita-cerita teman tersebut jauh dalam lubuk hati yang paling dalam juga muncul keinginan yang¬† begitu besar untuk dapat mencium Hajar Aswad. Muncul dalam pikiran saya bahwa besok saya ingin mencoba untuk mencium Hajar Aswad, sekalipun saya juga sedikit khawatir untuk berdesak-desakan dengan orang-orang yang berpostur tinggi besar. Soalnya juga kami diwanti-wanti oleh Ustad Ahmad untuk tidak memaksakan diri pergi mencium Hajar Aswad karena resikonya juga amatlah besar. Resiko yang akan dihadapi adalah terjepit dalam barisan orang-orang yang memaksa untuk bisa sesegera mungkin untuk mencium batu tersebut dan jika terjatuh bisa terinjak-injak oleh Jamaah yang lain yang¬† saling beradu kekuatan mendorong satau sama lain. Sekalipun belum mencoba terbayanglah berbagai resiko tersebut dalam benak saya.Sehingga saya selalu dihantuai perasaan was-was dan cemas, tetapi juga merasa galau jika tidak mendapatkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad sekalaipun itu adalah yang pertama dan terakhir dalam hidup saya. Saya terus memanjatkan do’a doa sebagai pengharapan agar mendapatkan kesempatan seperti halnya yang diarasakan oleh teman-teman saya.

Saya membulatkan tekad dan memantapkan hati bahwa saya akan mencoba-coba saja dulu, dan jika barisan sulit saya terobos saya akan mundur. Toh juga telah disampaikan oleh Ustad pada saat manasik bahwa ada tiga cara yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW dalam mencium hajar Aswad. Cara pertama dengan mencium langsung, Cara kedua dengan mencium telapak tangannya terlebih dahulu kemudian melambaikannya ke arah Hajar Aswad, dan cara ketiga dengan menyentakkan tongkatnya ke tanah kemudian selanjutnya mencium tongkat tersebut. Toh waktu tawaf cara kedua telah dilakukan  sebanyak 7 kali sambil membaca Bismillahi Allahu Akbar.

Besoknya harinya setelah Shalat Ashar saya turun untuk melakukan Tawaf terlebih dahulu, kemudian Shalat Sunat 2 Rakaat sambil memanjatkan do’a agar diberi keleluasaan untuk mencium Hajar Aswad tersebut. Setelah merasa mantap saya mencoba mengitari Ka’bah sambil menyisip sedikit demi sedikit barisan Jamaah yang sedang Tawaf sampai pada akhirnya saya bisa berada pada lapisan paling dalam dekat dinding Ka’bah. Alhamdulillah pertama kalinya saya bisa memegang dinding Ka’bah sambil mengusapnya menggunakan tangan saya dengan rasa takjub atas kebesaran Allah SWT.

Sambil berzikir mengagungkan kebesaran Allah, SWT saya mencoba mengambil antrian untuk menuju ke Hajar Aswad. Ternyata sudah ada laki-laki mudah memperhatikan saya sambil menawarkan jasa untuk mengantar saya untuk mencium Hajar Aswad.

Mau mencium, mari saya antar pak?
Saya hanya tersenyum sambil menunjuk ke atas (dengan maksud bahwa niat karena Allah SWT, saya akan mencobanya sendiri).

Sebenarnya cukup banyak orang (calo) yang melakukan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan uang dengan tarif yang beraneka ragam. Mulai dari 10 – 30 real ke atas, bahkan lebih jika melihat bahwa Anda membawa banyak uang real. Toh..saya hanya mau mencoba dan jika saya mendapati kesulitan dan resiko yang berat maka saya akan mundur. Keselamatan di atas segalanya tetapi keinginan saya untuk mencoba supaya saya bisa menceritakan bagaimana cara untuk mencium Hajar Aswad selalu mendorong semangat saya untuk mencobanya. InsyaAllah karena pertolongan Allah SWT.

Hajar Aswad
Sekarang saya masuk dalam arus orang-orang yang berdesak-desakan dari arah kiri, sambil sesekali mengusap keringat dari terik matahari yang bersinar. awalnya saya memanfaatkan tenaga dari orang-orang yang cukup kuat mendorong saya dari arah belakang.¬† Tetapi saya¬† juga menahan tubuh orang-orang yang terpental dari arah depan karena saling mendorong dari berbagai arah. Entah siapa yang duluan ditakdirkan untuk mencium Hajar Aswad, laki-laki dan perempuan bercampur jadi satu. Ada yang berteriak karena terjepit, ada terinjak kakinya karena salah posisi, ada juga yang lemas karena kehabisan tenaga. Dimataku selalu karena karunia Allah SWT, kekuatan fisik¬† juga ikut menjadi faktor pendukung. Saya semakin mendekat ke Hajar Aswad, tinggal satu kepala di depan saya. Saya berusaha dengan segala tenaga untuk meraih dinding Hajar Asad, tetapi seketika itupula saya terpental ke luar akibat dorongan orang-orang dari arah yang lain. wih…hampir saja saya meraihnya pikirku sambil mencoba masuk lagi dalam barisan, ternyata memang sulit. Saya kemudian mencoba dari arah depan tiba-tiba tangan kekar berada pas disamping leher saya dan memegang pundak orang di depan saya. Tidak lama tangan satu lagi pas berada di leher saya juga memengan pundak orang lain. Tamatlah riwayatku….saya kepikiran semoga leher dan kepala saya tidak cedera akibat dua tangan kekar itu yang berada di antara leherku. Oh…sungguh sakit rasanya tetapi saya terus bertahan sambil berdzikir dan bertakbir kepada Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Alahu Akbar, La hawla wala quwwta Illah billah

Tetapi dibalik kejadian itu saya juga sempat tidak bisa menahan tawa, akibat tangan kekar yang memengang pundak orang didepan saya, mengakibatkan lengan bajunya orang tersebut robek. Dia kaget sambil tertawa lebih duluan dengan menunjukkan mimik lucu pada dirinya wih…!!!, sambil melihat lengan bajunya yang putus tersebut. Saya juga ikut tertawa cekikikan karena kepala kami saling berhadap-hadapan. Nyali saya semakin ciut rasanya dan mulai khawatir.

Tetapi kuatnya dorongan dari arah belakang membuat saya semakin dekat  pada hajar Aswad. Tangan mulai saya angkat ke atas dan mencoba untuk meraih Hajar Aswad, terbayang sudah bahwa saya berkesempatan untuk menciumnya. Tetapi entah dorongan dari  mana lagi saya kembali terpental  dan kali ini cukup jauh keluar, kerena sebagain orang berusaha juga memanfaatkan momen-momen yang meguntungkan bagi dirinya dengan menyisip ke dalam.  Saya mulai putus asa, dan berfikir biarlah saya kan sudah mencobanya, paling tidak bisa saya ceritakan kepada orang lain, siapa tau saya memang ditakdirkan seperti ini.

Pakaian saya basah karena mandi keringat sendiri dan¬† keringat jamaah lain yang saling mepet berdesak-desakan demi satu tujuan “mencium Hajar Aswad”.¬† Saya beristirahat sejenak sambil mencoba menghimpun tenaga kembali. Setelah saya merasa siap saya kembali masuk dalam barisan tetapi kali ini dari arah kanan. Bismillahirrahmanirrahim, saya berfikir untuk menggunakan¬† tenaga saya agar bisa mencapai harapan kali ini. Alhamdulillah beberapa kepala lagi saya sudah bisa meraba Hajar Aswad. Dan sekarang saatnya…tangan saya sudah bisa berpegangan pada lingkaran Hajar Aswad. Rasa senang mulai menyelimuti¬† perasaan saya dan terus berjuang untuk semakin mendekatkan kepala saya pada hajar Aswad. Kini tangan saya sudah memegang bagian dalam Hajar Aswad dan dengan teriakan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, terus saya dekatkan kepala sampai bisa mencium bagian besi putih yang merupakan pembungkus luar dari batu Hajar Aswad.

HajarAswad02

Sekalipun saya belum bisa mencium bagian tengah dari Batu Hajar Awsad, namun saya sudah begitu gembira luar biasa karena bisa melihat dan merasakannya langsung dari jarak dekat. Saya kembali terhempas keluar dan kini saya sudah mengurungkan niat karena paling tidak saya sudah bisa mencium bibir Hajar Aswad :). Dengan perasaan legah saya kembali mengitari Ka’bah sambil menerobos keluar orang-orang yang sedang Tawaf untuk mencari jalan keluar. Saya berjalan menuju badan mesjid dan keluar dari pintu utama Babussalam Masjidil Haram dan kembali ke Hotel dengan senyum puas sepanjang jalan. ūüôā ūüôā ūüôā

 
 
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) PTIK FT UNM

Kerjakan tugas dengan serius, tepat waktu InsyaAllah Anda sukses!

Multimedia Pendidikan PTIK FT UNM

Kerjakan Tugas dengan Serius, Tepat Waktu, InsyaAllah Anda Lulus!

pippk

Praktek Instalasi Perawatan dan Perakitan Komputer - PTA FT UNM

Belajar Bahasa Pemrograman

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

CD Interaktif Multimedia

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Ajar Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Pembelajaran Berbasis Komputer

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Teknik Multimedia Web Blog

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini : by Mustamin Tewa'

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

sehat news

informasi seputar kesehatan terkini

amadnoy

the minimalis news