RSS

Arsip Kategori: Medina

Hati-Hati di Makkah Banyak Copet

Ikut sedih rasanya ūüė¶ kalau mengenang perjalanan beberapa waktu yang lalu bersama rombongan umrah Arminasari. Ketika tiba di Makkah ada teman kami yang berasal dari limbung suami istri yang kecopetan, baju gamisnya robek karena sudah tersileti sekitar 5 – 10 centimeter. Luar biasa memang cara kerja mereka karena sangat cepat dan tidak terasa. Akibat dari kejadian tersebut semua uang dan dokumen yang ada di kantongnya ludes tak tersisa. Yah mau apalagi selain beristigfar dan mengambil hikmah dibalik kejadiannya (introspeksi diri).

Sebenarnya cukup gampang mengenali orang-orang yang akan melakukan copet yang standby di depan pelataran Masjidil Haram, maupun di jalan-jalan menuju Masjidil Haram. ¬†Mereka sebenarnya sudah berkeliaran di luar pagar area mesjid bercampur baur dengan jamaah yang mondar mandir. Selain itu juga ¬†para peminta-minta (pengemis) berkulit hitam laki-laki perempuan juga ikut berjajar di tengah jalan dengan jarak-jarak tertentu ¬†berharap mendapat sedekah dan belas kasihan seikhlasnya dari para jamaah yang lalu lalang. Mereka semua rata-rata cacat fisik, ada yang kehilangan tangan, kaki, atau kedua-duanya. ¬†Resikonya adalah terkadang ketika salah satu dari pengemis tersebut dikasih uang real maka yang lain akan mengurung Anda untuk juga ikut meminta sedakah. Jika memang Anda harus melakukannya siapkan uang real yang pas jumlahnya untuk Anda ¬†bagikan, setelah selesai tinggalkan cepat lokasi tersebut. Jangan menunjukkan bahwa Anda masih memiliki sejumlah uang yang banyak di kantong Anda. Hindari ¬†juga berdiri ¬†terlalu lama dalam kurungan para pengemis kecuali kalau memang menurut Anda itu aman ataukah memang Anda harus melakukannya. Masalahnya jumlah mereka sangat banyak, satu pengemis diberi uang real, rasanya memang kurang adil jika tidak bersedekah kepada yang lainnya, jika menggunakan ukuran perasaan. ūüôā

Selama di lokasi Medina dan Makkah, Alhamdulillah saya bersama keluarga terhindar dari ujian seperti itu, tetapi beberapa kali mendapatkan aksi percobaan pencopetan atau mungkin penipuan. Jika ditanya mengapa seperti itu, jawabannya karakter orang muslim ¬†indonesia umumnya perasa dan cepat iba, dan suka menolong sasama. Tentu karakter ini kadang¬† dimanfaatkan orang-orang tertentu yang tahu persis tabiat orang indonesia yang ulas asih tersebut. Apalagi ini sedang berada ditempat-tempat ibadah seperti di Medina dan Makkah. ūüôā

Saya akan bercerita sedikit pengalaman yang saya lalui sejak dari Medina maupun Makkah berkaitan tindakan yang copet atau tindakan unik lainnya.

Suatu malam di Kota Medina, saya berjalan keluar dari Hotel terus ke depan pelataran  Medina. Waktu itu saya sendiri dan malam itu jamaah mulai berkurang. Waktu itu kira-kira jam 09.00 ke atas waktu Medina. Pada saat saya telah menyebrang jalan dan berjalan di antara toko-toko yang sudah mulai sepi bahkan ada yang sudah menutup tokonya. Ada suami istri mendekati saya sambil mendorong bayinya. Laki-laki itu setelah saya perhatikan masih cukup muda cuman badannya besar dan tinggi layaknya orang-orang arab secara umum. Sedangkan istrinya menggunakan pakaian hitam dengan cadar menutup mukanya. Melihat fisiknya dan menatap matanya iapun masih sangat muda.

Orang itupun menegur saya: “hi frend, you can speak Arabic or English. Kemudian saya menjawabnya dengan sedikit senyum “English”. Kemudian orang itu ¬†melanjutkan ucapannya dengan bercerita bahwa ia dari Negara Serbia, dan saat ini uangnya loss (habis) sehingga tidak bisa makan dan pulang ke negaranya tersebut, sambil melihat ke instrinya, dan istrinya membenarkan perkataannya. Kemudian Ia melanjutkan kalimatnya bahwa ia membutuhkan sedikit bantuan berapapun keikhlasan saya untuk membantunya. Sebenarnya saya membawa uang real dan uang Indonesia di dompet saya, tetapi saya tidak ingin membukanya, karena sedikit waspada karena curiga orang ini menurut perasaan saya berkata tidak jujur. ¬†Lagian ¬†malam itu di antara bangunan kota mekah saya belum tahu suasananya seperti apa, sehingga saya menjawabnya, dengan sengaja mencampur-campur bahasa Indonesia dan English supaya kelihatan aneh. Oh ya..i am sorry, my wife bringing my money, my be five minites i can give money for you”. Please wait.!? ūüôā

Kemudian dalam bahasa Inggris orang itu berkata “Saya akan menunggumu di tempat itu..!”, sambil menunjuk salah satu tiang yang ada diantara toko-toko yang mulai sepi. “Ok!”, jawabku…saya mempercepat langkah untuk secepatnya masuk dalam area pelataran Mesjid Madinah dan saya merasa aman sementara. Saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan. Tetapi terlintas juga untuk berjaga-jaga saya hanya menyiapkan uang Rp. 50 ribu rupiah jika nantinya saya bertemu kembali diluar pelataran Mesjid. Masalahnya saya sangat ragu saya bertemu orang yang salah.

Beberapa menit saya berada di pelataran Mesjid Medina sambil berfikir keras, sampai saya benar-benar yakin untuk kembali keluar ke pelataran depan Madina dan berharap tidak bertemu orang itu lagi (pikirku). Setelah saya merasa yakin dengan penuh kehati-hatian saya kembali keluar¬† area Mesjid Madina dan menole ke sana kemari sambil berjalan mantap. Sampai di tempat yang dituju saya menoleh dan mencari-cari orang tersebut, tetapi Dia sudah tidak ada ditempatnya, entah¬† mengintip saya dari tempat tertentu atau tidak. Tetapi karena saya merasa diuntungkan maka saya secepatnya berlalu pergi menuju Hotel penginapan saya, sambil beristigfar bercampur pikiran antara percaya apakah orang itu benar ataukah orang itu hanya ingin memeras saya. “Wallahu ‘alam bissawaf”.

Cerita selanjutnya adalah ketika saya berada di Kota Makkah. Di mana saya betul mempeperhatikannya sejak hari pertama berada di kota tersebut. Sebenarnya saya sudah mendapatkan cerita-cerita¬† para jamaan yang terlebih dahulu pergi ketempat suci ini waktu di tanah air.¬† Baru saya percaya setelah berada di kota suci Makkah dan menyaksikannya sendiri. Tidak segan-segan para pengemis memotong jalan kita dan langsung menjulurkan tangannya¬† berharap mendapatkan sedekah. Mereka adalah ibu-ibu pengemis yang kadang menggendong seorang bayi, tetapi kadang diwaktu lainnya juga tidak. Perenpuan-perempuan itu ada yang bercadar tetapi ada juga yang tidak. Kadang-kadang mengemis sendiri tetapi ada juga yang bergerombol. Hati-hati jika ada pengemis yang menghadang dari arah depan dan belakang, ini sering¬† terjadi jika jamaah membawa tas atau kantongan yang kelihatan tebal baik karena uang ataupun karena benda-benda elektronik lainnya. Pengalaman pada teman saya yang jamaah umrah juga telah membuktikan bahwa pada waktu ia hanya memberikan uang real kepada salah satu pengemis¬† dan pengemis yang lain mengepungnya. eh.. besoknya dihadang lagi pengemis yang sama akibatnya¬† kantong gamis putih yang dikenakannya sobek dengan dua kali goresan tanpa terasa. Semua uang dan surat-surat dalam dompetnya raib entah sekarang berada di mana. ūüė¶

Suatu ketika saya dihadang oleh perempuan mudah berpakaian sedikit lusu. Terdapat tanda hitam pas ditengah ubun-ubunnya, mirip orang India. Dia momotong jalan saya sambil mengangkat tangannya yang tertutupi jilbab. Saya sebenarnya tahu bahwa perempuan pengemis ini tidak hanya bermaksud untuk meminta sedekah tetapi Dia akan mencopet saya. Kelihatan waktu mengangkat tangannya di bawah jilbab putih yang dikenakannnya saya melihat ada benda hitam bercabang tiga yang sangat tajam diselip diantara kain yang melilit dibadannya. Saya menjadi semakin waspada. Apalagi umumnya pengemis jarang bicara hanya menunjukkan mimik memelas kepada kita jika yang Anda perhatikan adalah wajahnya. Waktu itu saya memegang kuat Handphone¬† di tangan kanan,¬† sambil mengangkat ke atas dengan kepalan tinju seolah menghadap ke arah mukanya. Sambil sedikit menaikkan suara dengan hanya mendehem “hm..!!!, hm…!!!, hm…!!!” dengan nada yang keras. Soanya tangan satunya tidak pernah kelihatan dan jilbabnya kini menutup di atas tas saya. Saya tidak sadar bahwa tas saya sekarang sudah bocor sekitar 1 CM. Tetapi karena saya¬† selalu menghadap ke arah tas saya dengan kepalan tinju¬† memegang HP, pengemis yang memepet saya pun jadi ciut dan mundur. Saya terus berjalan ke depan dan setelah jauh¬† baru sadar bahwa Dia sudah berhasil melobangi Tas pinggang saya. Dongkol juga rasanya tetapi sedikit besyukur karena saya tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap pengemis tersebut. Astagfirullah.

Ke esokan harinya diwaktu sore hari, saya kembali bertemu dengan pengemis tersebut, Dia bermaksud lagi mencegat saya, tetapi saya kemudian berhenti dan menatap tajam matanya tanpa melepaskannya dan menunjukkan sikap¬† sedikit tidak nyaman kepadanya. Mungkin Dia sadar bahwa kemarin ia berhasil melobangi Tas yang saya kembali gunakan.¬† Pengemis itu mengurungkan niatnya, dan kembali ke posisinya bersama teman-temannya¬† sambil membalikkan pandangannya ke arah yang lain. Sebenarnya jika hanya mengemis tidaklah masalah buat para jamaah karena pasti kita semua tidaklah merasa terbebani untuk melakukannya, tetapi sebagian dari orang-orang ini menjadikan kedok mengemis untuk menutupi aksi copetnya. Sungguh banyak jamaah yang sebenarnya menjadi korban ulahnya, tetapi banyak diantara mereka yang hanya diam dan kemudian berkata mungkin Allah SWT sedang mengujiku. ūüôā Entahlah apakah ini ujian atau sebuah keteledoran dari kita semua. Mungkin juga sudah menjadi langganan polisi pengemis itu tertangkap lalu dilepaskan kembali :(.

Beberapa hari selanjutnya kami melakukan Ikhram yang ke dua, waktu itu bertepatan dengan Hari Pertama Puasa Bulan Suci Ramadhan. Seperti biasanya perempuan-perempuan pengemis itu sudah berjajar dengan jarak-jarak tertentu¬† satu sama lainnya. Dalam perjalanan menuju Mesjidi Haram, kebetulan istri dan mertua saya di belakang¬† sedang di hadang dan dipepet. soalnya kami semua menggunakan tas pinggan ciri khas Travel Arminasari. Mungkin isi tas itulah yang mereka incar, padahal di dalamnya tidak lebih dari buku bacaan do’a-doa, dan paling sajadah kecil. Karena ketika kami dalam mesjid tas itu juga yang kami gunakan untuk menyimpan sendal. Melihat gelagat pengemis itu saya mundur dan mempersilahkan Mertua dan Istri saya berjalan duluan. Dengan sikap tenang saya¬† berdiri dan menatap pengemis itu kembali dan mencoba mengawal Istri dan Mertua saya. Melihat saya lagi, mungkin kepikiran eh..orang ini lagi yang kemarin yang ia temui. Akhirnya dia berlalu pergi, Alhamdulillah kami kembali selamat dari aksi-aksi para pencopet tersebut.

Sebenarnya sah-sah saja, Anda dan kita semua memberikan sedekah kepada mereka. Saya sendiri juga melakukannya, kadang memberinya uang real sepulang dari shalat Dhuhur dan cukup banyak jamaah lain juga melakukan hal yang sama. Tetapi yang tidak mendikan kita tidak simpati adalah tindakannya yang ingin lebih, ingin mangambil semua yang kita meliki jika Anda tidak waspada. Sehingga dari pengalaman-pengalaman Jamaah yang sudah pulang dari Tanah Suci selalu berpesan:

Jangan layani orang per orang atau rombongan pengemis yang ada di Jalan raya, karena sebagian dari mereka adalah copet. Jika ingin benar-benar bersedekah maka berikanlah itu kepada para cleaning servis mesjid yang jumlahnya ratusan. Mereka tidak cape-capenya membersihkan karpet, mengepel lantai mesjid mengganti galon-galon air minum zam-zam yang berada dalam mesjid dan luar mesjid, memungut sampah tanpa menujukkan perasaan lelah. Mereka sangat gampang ditemui karena jumlahnya yang sangat banyak, dan banyak diantara mereka adalah orang-orang yang berasal dari Indonesia. Jika nanti Anda ke sana InsyaAllah, Anda dengan mudah mengenalinya.

Dengan demikian saya berkesimpulan dari pelajaran-pelajaran yang kami temui serta kejadian demi kejadian yang menimpa teman-teman jamaah Haji dan Umrah lainnya, bahwa. Jika Anda berhadapan dengan pengemis yang memepet diri Anda, jika tanganya tidak kelihatan salah satunya, maka waspadai barang bawaan Anda entah itu kantong dan Tas Anda. tetapi ketika kedua tangannya kelihatan atau tangan yang dijulurkan ke arah Anda itu kelihatan ataupun tidak kelihatan tetapi masih berjarak dengan diri Anda InsyaAllah dia masih pengemis yang baik. Dan waspadalah jika orang-orang itu mengelilingi Anda. ūüôā

Beberapa saran yang perlu dipertimbangkan para jamaah Haji dan Umrah adalah:

  1. Jangan membawa uang dalam kantong atau tas pinggang menuju ke tempat ibadah terkecuali Anda memang memerlukan dan yakin mampu menjaganya dengan baik.
  2. Simpan uang Anda di Hotel dalam Travel Bag Anda yang dalam keadaan terkunci, kuncinyalah yang Anda bawa atau jaga.
  3. Jika memang ada keperluan untuk berbelanja maka bawalah uang secukupnya sesuai kebutuhan penggunaanya.
  4. Jangan melayani orang-orang tertentu yang sok kenal dengan Anda padahal Anda benar-benar tidak mengenalnya.
  5. berjalan berjamaah pada tempat berbelanja atau tempat ibadah jauh lebih baik daripada sendiri, supaya bisa saling mengingatkan antara satu sama lain.
  6. Hindari menggunakan tas pinggang atau tas selempang dengan posisi di belakang, sebaiknya Anda pastikan bahwa tas tersebut aman berada depan dada atau perut Anda.
  7. Pastikan jika pengemis mengepung Anda muka dan belakang, jangan tatap mata mereka, tetapi perhatikan dan waspadai kantong, atau tas bawaan Anda.
  8. Pastikan setiap Anda meninggalkan hotel untuk selalu membawa identitas Travel Anda, yang dapat dikenali atau dihubungi jika diperlukan.
  9. Hindari berjalan sendirian diwaktu malam yang mulai sepi diluar waktu ibadah baik di Medina maupun Makkah kecuali terpaksa.

Ya Allah, ampunilah kami, jika di dalam tulisan saya di atas ada kata yang salah atau berlebih. Kami berlindung kepadaMu akan kejahatan malam dan siang, dan jadikan kami hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmatMu. Ya Allah SWT. jika Engkau berkehendak kami semua akan selalu rindu untuk kembali ketempat-tempat suciMu dalam ke adaan sehat wal ‘afiat dengan kenikmatan Ibadah. Amin..amin..amin ya rabbal ‘alamin.

 

Masjid Ar-Raudhah Madina selalu diperebutkan Jamaah

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

Rasanya sangat disayangkan jika seorang jamaah Haji dan Umrah, tidak menyempatkan diri untuk beribadah di Mesjid Ar-Raudhah. Mesjid dimana kuburan Rasulullah Muhammad SAW berada di sana, Kuburan Abu Bakar Assidiq RA, dan Kuburan Umar Bin Hattab RA. Semua berjejer berdampingan di sebelah kiri tempat imam. Tempat imam Shalat itu sendiri berada di atas panggung yang terbuat dari batu mar-mar, pada area ini di katakan bahwa merupakan tempat yang sangat makbul untuk berdoa ditandai dengan karpet Hijau, sedangakan dil uar area ditandai dengan karpet warnah merah (waktu kami datang).

53 Panggung tempat Imam Shalat di Mesjid Ar-Raudhah

Suasana di Mesjid Ar-Raudhah sangat ramai, karena tempat ini diperebutkan oleh seluruh Jamaah yang mengerti tentang sejarah Mesjid Ar-Raudhah. Selama empat hari di Madinah saya selalu shalat di Mesjid tersebut sekalipun tidak selalu berada di dalam karpet Hijau.

54 Suasana di Mesjid Ar-Raudhah yang selalu padat Jamaah yang antri untuk masuk area karpet Hijau.

Saya kira antrian ini bukan tanpa alasan, kerana memang ditunjang oleh Hadits Rasulullah SAW sebagai berikut:

Sabda Rasulullah Saw, ‚ÄúAntara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga‚ÄĚ (HR. Bukhari no. 1196).

Alhamdulillah, karena saya ingat betul ketika diberikan manasik Haji dan Umrah di Travel Arminasari tentang Mesjid ini, maka memang terngiang-ngiang rasasanya untuk bisa berada di tempat itu. Sejak saya berada di Hari pertama di Madinah saya sudah berada di Mesjid Ar-Raudhah karena melintas dari dalam Mesjid Nabawi berjalan terus ke depan di waktu pagi sebelum para Jamaah berbondong-bondong menuju ke tempat itu.

47Jam Dinding di Tengah Jalan Depan Mesjid Nabawi

Karena Hotel saya berada satu arah dengan Jam Dinding yang berada depan Mesjid Madinah maka cukup dengan menyebrang Jalan saja saya sudah bisa berada di pelataran Mesjid Madina. Di depan jam dinding berderatan para penjual pakaian, perhiasan, tasbih, siwak, Al-Qur’an, sajadah,¬† kurma dan berbagai oleh-oleh lainnya.

Selama empat hari saya berada di Madinah saya selalu Shalat di Mesjid Ar-Raudhah. Tempat itulah yang selalu saya incar setiap akan memasuki waktu Shalat dan Shalat berikutnya. Cara yang saya lakukan untuk mendapatkan shaf-shaf utama di Mesjid Ar-Raudhah adalah selalu datang lebih awal sebelum masuk waktu shalat atau jam-jama dimana para jamah antri berada di tempat itu. Misalnya ketika waktu pagi ketika saya datang ke Mesjid pada Jam 09.00 pagi sekalian melaksanakan Shalat Sunat Dhuha. Setelah itu saya tadarus sampai masuk waktu Shalat Dhuhur. Setelah itu saya kemudian balik ke hotel untuk makan siang dan istirahat sejenak. Pada sekitar jam 14.30 saya kembali menuju Mesjid Nabawi dan berjalan ke depan untuk sampai ke Mesjid Raudhah dan menunggu waktu Shalat Ashar. Setelah itu saya balik ke Hotel untuk istirahat sejenak dan membersihkan diri kemudian kembali ke Mesjid untuk menunggu Shalat Magrib dan Shalat Isya. Setelah Shalat Isya saya baru kembali lagi ke Hotel untuk makan Malam¬† dan bertirahat. Pada jam 2.30 dini hari timer HP saya sudah berdering dan kembali saya siap-siap menuju Masjid untuk melaksanakan Shalat Malam dan menunggu waktu Shubub. Setalah Shalat Subuh saya tinggal di Mesjid mengaji sampai masuk waktu Shalat Dhuha. Begitulah setiap hari yang saya lakukan dan barangkali teman-teman saya yang lain juga begitu. Tidak banyak waktu¬† untuk berjalan-jalan kerena menurut saya ini adalah kesempatan untuk melaksanakan ibadah dengan maksimal karena di waktu dan tempat yang lain belum tentu saya mendapat kesempatan sebaik ini. Siapa tau ini adalah perjaanan pertama dan terakhir sekalipun saya selalu berdo’a untuk bisa kembali dan kembali lagi¬† sepanjang masa hidup saya, InsyaAllah. Amin..amin..amin ya Rabbal ‘alamin.

Kalau hanya untuk membeli oleh-oleh toh, pada saat pulang dari Mesjid begitu banyak penjual dan toko-toko yang terbuka siap melayani dari transaksi yang kita lakukan. Semua tersedia tergantung banyaknya bekal real yang ada di kantong kita. Kebetulan di samping hotel saya terdapat Money Canger (tempat pertukaran uang) sehingga saya tidaklah kesulitan menukar uang rupiah yang saya bawah dari Indonesia. Selain itu saat ini penjaga toko juga kadang menawari kita dengan membayar dengan uang rupiah.

Ada cerita menarik selama saya Shalat di  Mesjid Ar-Raudhah, yaitu saya selalu antri untuk bisa Shalat di area karpet hijau terutama di bawah mimbar imam. Alhamdulillah saya selalu mendapat kesempatan untuk Shalat di bawah mimbar tersebut. Cara yang saya lakukan adalah sabar menunggu kesempatan, tidak mesti bahwa saya harus melakukannya pada saat jumlah orang yang berdiri berdesak-desakan di tempat itu. Ketika itu terjadi saya kadang duduk terlabih dahulu sambil melakukan Tadarus.  Toh kesempatan Shalat ditempat itu selalu ada  sambil menunggu kesmpatan di mana jumlah jamaah mulai berkurang.

52Suasana di bawah tempat Imam di Mesjid Ar-Raudhah

Kalau mau cepat melaksanakan Shalat Sunat di tempat itu tentu langsung saja masuk dalam antrian dan begitu ada kesempatan silahkan mengambil Shaf dan Bertakbir untuk memulai Shalat sekalipun ruangnya sangat sempit. Masalahnya orang lain juga melakukan hal yang sama, karena sangat tidak mungkin untuk mendapatkan tempat yang benar-benar lapang dalam jumlah antrian yang begitu padat. Karena banyaknya jamaah  yang saling berdesak-desakan dan berlomba untuk melaksanakan Shalat Sunat tersebut. Tetapi jika Anda mau bersabar dan menunggu InsyaAllah pada akhirnya toh pasti mendapat kesempatan yang lebih baik.

Pengalaman saya di hari pertama saya melakukan Shalat Sunat di tempat itu, saya ikut antrian  berdesak-desakan dengan jamaah-jamah yang berpostur tubuh besar dan tinggi-tinggi, badan saling merapat satu dengan yang lain. Mungkin orang itu adalah orang Arab sendiri atau orang yang berasal dari negara lain dekat Arab. Begitu mendapatkan giliran, saya langsung melaksanakan Shalat Sunat di sela-sela jamaah lainnya. Beberapa orang melangkahi badan dan kepala saya untuk bisa mendapatkan kesempatan Shalat Sunat pada shaf yang ada di bagian depan. Kadang kita sedikit bersenggolan dengan jamaah lain yang mencari shaf ataupun mereka yang sedang mengerjakan Shalat Sunat. Tetapi tidak ada satupun jamaah yang merasa tersinggung atapun merasa tersakiti dengan kejadian itu. Semua melakukan ibadah dan suka cita dan menerima segala apa yang terjadi dengan penuh kikhlasan dan kesabaran. Terkadang kopiah terlepas atau miring karena kaki-kaki jamaah yang sedang melangkah ataupun mundur sedikit ke belakang karena  mencari ruang untuk tempat bersujud. Kejadian ini dapat ditemui pada saat waktu-waktu menjelang Shalat wajib.

Tetapi ada waktu lain yang lebih lowong untuk saya, khususnya di waktu setelah Shalat Subuh. Setelah antrian sudah berangsur-angsur berkurang¬† saya mulai mendekat dan biasanya itu terjadi menjelang pagi hari sekitar hampir jam 06.00. Kondisi jamaah di area karpet hijau mulai berkurang karena mereka sudah banyak yang pulang ke Hotelnya untuk beristirahat ataupun melakukan aktivitas lain. Pada saat itu sudah mulai ada shaf yang benar-benar kosong saya biasanya mengambil kesempatan itu untuk¬† dapat melakukan Shalat Sunat dengan lebih khusu’. Selain itu saya juga dapat melakukan Tadarus Al-Qur’an. Alangkah senangnya menikmati suasana tersebut dimana para jamaah sibuk berdo’a. mengaji ataupun sedang melakukan Shalat Sunat. Saya selalu menyempatkan diri Shalat Sunat di bawah panggung tempat imam berada. Pada jam-jam itu area karpet hijau sudah mulai ditutup menggunakan pagar plastik berwarna putih oleh para petugas mesjid. Saat itu para pembersih mesjid mulai bekerja mengisap debu-debu dan kotoran karpet. Mungkin waktunya antara 30 menit atau lebih mereka bekerja untuk membersihkan area itu. Karena setelah dibersihkan selanjutnya akan digunakan oleh jamaah perempuan dengan waktu yang terbatas sampai menjelang Shalat Dhuhur. Di bawah tempat imam itu pulalah saya diberi dua buah tasbih oleh seseoarang yang duduk bersandar pada tiang panggung imam yang terbuat dari mar-mar. Tasbih itu¬† berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam, senang rasanya mendapatkan oleh-oleh itu. Pada saat terlintas dipikiran untuk meminta dua tasbih lagi supaya bisa mencukupkannya empat (maksudnya supaya bisa saya kasih ke Istri, Mertua dan Ipar saya) eh..orang itu sudah tidak ada ditempatnya he he. Saya hanya beristigfar dan menyadari bahwa toh ini adalah pemberiaan yang ikhlas dari orang itu.

Saya kemudian beranjak dari tempat duduk saya dan mencari jalan keluar dari area karpet yang sedang dibersihkan. Saya melihat seorang arab yang berpakaian gamis hitam, berkacamata dan menggunakan sorban. Orang ini mengontrol seluruh para pekerja yang ada di area Ar-Raudhah yang sedang dibersihkan. Kalau memperhatikan pakaiannya, saya menduga orang itu adalah salah satu dari beberapa orang yang berada dipanggung iman ketika memimpin Shalat Subuh. Saya mencoba berjabat tangan dengan beliau dan membukukkan diri saya untuk mencium tangannya, tetpai Dia menariknya dan menunjuk ke atas sambil mengucapkan dalam bahasa arab bahwa hanya Allah yang suci, dan mengisyaratkan kepada saya untuk hanya berjabat tangan saja. Saya hanya membalas dengan senyuman kemudian berlalu pergi. Subuh berikutnya saya kembali menemui orang yang berpakaian sama dengan orang yang kemarin mengnontrol para pembersih mesjid di depan kuburan Rasulullah SAW, saya kembali berjabat tangan dan orang itu tersenyum kepada saya. Alhamdulillah, senang rasanya saya berada ditempat itu, tempat yang memberikan ketenangan jiwa dan hati nurani. Semoga para pembaca yang juga berharap bisa berkunjung kesana (Madina dan Makkah) InysaAllah secepatnya mendapatkan rezky dan kesempatan untuk itu, Amin, amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

 

Hadiah Kurma dari Seorang Syekh di Madina

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

43Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan Umrah bersama “Bidadari Surgaku”, Mertua dan Ipar. Sungguh banyak pengalaman spiritual yang kami lalui selama di kota Madiana dan Mekkah. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman yang barangkali bermanfaat bagi Anda yang juga nantinya akan melakukan perjalanan yang sama. InsyaAllah!.

Hari pertama rombongan kami sampai di Kota Madina, kami terlebih dahulu di antar ke Hotel depan mesjid Nabawi. Posisi Hotel saya  cukup dengan menyebran saja  terus berjalan ke depan menuju pelataran mesjid Nabawai. View mesjid Nabawi di atas merupakan arah depan Hotel yang kami tempati.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 09.15 waktu Madina dan saya langsung menuju ke Mesjid Nabawi untuk melakukan shalat sunat Tahiyatul Masjid dan sekalian melakukan Shalat Dhuha. Saya berdua dengan Drs.Abdul Latif menuju ke mesjid Nabawi dan setelah sampai di pintu depan mesjid,¬† kami memperhatikan orang-orang yang masuk mesjid membuka sepatu dan sendal mereka terus di bukus kantong plastik. Sayapun melakukan hal yang sama terus memasukkan ke dalam tas pemberian Travel Arminasari. Kami terus berjalan ke dalam mesjid dan dibeberapa tempat terdapat galon-galon¬† di mana orang-orang antri untuk meminum air ZamZam. Kamipun ikut antri untuk meminum air zamzam yang didahului dengan berdo’a minta keberkatan dan kesehatan selama melakukan ibadah umrah tersebut. Alhamdulillah sungguh segar rasanya tak terasa saya meminum 2 gelas seukuran aqua.

Selanjutnya saya berjalan  semakin jauh kedepan, saya mendapati begitu banyak jamaah yang melakukan Tadarus Al-Quran, shalat sunat dan aktivitas lainnya. Saya kemudian mengambil posisi pada salah satu tiang kemudian melakukan Shalat Tahiyatul Mesjid. Setelah itu teman saya minta permisi untuk pulang ke Hotel istirahat, mungkin masih kelelahan karena kami melakukan perjalanan sebelumnya di malam hari. Saya kemudian melanjutkan dengan melakukan Shalat Dhuha. Saya pikir mumpung banyak waktu dan kesempatan supaya bisa memaksimalkan perjalanan ibadah saya. Setelah Shalat Sunat Dhuha sebanyak 8 rakaat saya kemudian mengambil Al-Quran untuk mengaji. Saya kemudian kepikiran untuk menuju ke shaf paling depan sekalian menyaksikan kemegahan mesjid Nabawi tersebut.

Tidak terasa saya berjalan jauh ke depan dan kini berada pada di shaf paling depan Mesjid Ar Raudhah,  yang hari itu saya sama sekali tidak mengetahuinya bahwa saya telah berada di Mesjid Ar Raudhah depan kuburan Rasulullah Muhammad SAW.  Saya berdiri pas dihadapan rak-rak Al-Quran yang mungkin terbuat dari Aluminum. Saya kembali melakukan shalat dua rakaat dan selanjutnya membaca Al-Quran sempat menghabiskan 2 Juz lebih dan kini jam menunjukkan pukul 11.30 waktu Madina. Kemudian masuklah seorang Syekh bepakaian arab, tubuh tegak, jenggot mulai memutih sebagian dengan sorban melilit di kepala, Orang itu menggunakan dua buah tongkat besi pada tangan kanan dan kirinya  untuk membantu Dia berdiri dan berjalan. Dia menuju ke shaf dimana saya duduk kemudian  tersenyum dan meminta saya bergeser ke kanan untuk memberi tempat untuknya. Kemudian beliau shalat sunat dan mengaji. Setelah itu Dia tersenyum lagi padaku kemudian kami berdialog:

“Indonesia…?”, Indonesia Syekh, jawabku. Jamaah Umrah…? Ya, Syekh. Apa Kabar…? Alhamdulillah baik Syekh. Sudah berapa lama kamu di sini. Saya menjawab bahwa ini adalah hari pertama saya berada di Madina. Kapan kamu ke Makkah saya menjawabnya: friday, i am go to Makkah. oh…(sambil tersenyum ke pada saya).

Setelah itu kemudian menoleh keseorang pemuda yang duduk di sebelah kirinya dan juga bertanya:

Malaysia,….?, ya (sambil pemuda itu mengangguk, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang saya sudah tidak memperhatikannya lagi.

Orang itu kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’annya kemudian istirahat sejenak dan berkata kepada saya:

besok kamu duduk di sini lagi ya?, saya menatapnya dan kemudian menjawab InsyaAllah Syekh, InsyaAllah. Kemudian Dia berkata padaku jika nanti kamu datang lagi ketempat ini, saya selalu duduk di sini.

Kemudian orang itu menoleh ke pemuda Malaysia itu dan mengucapkan kata yang sama.

Besok paginya saya bersama rombongan Jamaah dari Indonesia melakukan perjalanan  ziarah ke beberapa tempat  yang memiliki nilai sejarah di Madina, seperti: Mesjid Quba, Jabal Tsur, Tanah Merah, Kebun Kurma, dan Jabal Rahma. Tidak terasa kami pulang sekitar jam 11.00 siang menjelang Shalat Dhuhur. Sungguh perasaan saya agak was-was jangan sampai saya tidak lagi mendapati barisan shaf pertama di Mesjid Ar Raudhah. Begitu mobil berhenti depan hotel saya buru-buru menuju kamar dan langsung mengambil air wudhu dan bergegas menuju Mesjid. Dalam benak saya semoga saya masih mendapati shaf yang kemarin saya tempati.

Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT pada shaf kedua terdapat tempat yang kosong untuk satu orang¬† pas di belakang tempat duduk saya yang kemarin. Setelah Shalat Tahiyatul Masjid saya kemudian memperhatikan tempat duduk saya ke depan sambil terlintas dalam pikiran saya, “sayang, saya datang terlambat untuk mengambil shaf, semoga Syekh itu nantinya menoleh kebelakang dan melihat saya”. Sambil berdzikir sesekali saya menoleh ke arah samping kiri memperhatikan orang-orang yang antri untuk masuk dalam area karpet hijau yang di katakan merupakan tempat yang sangat makbul untuk berdo’a. Tiba-tiba orang yang duduk didepan saya berdiri dan pergi mengambil shaf yang lain. Saya langsung berdiri juga dan mengambil posisi tersebut, posisi dimana saya akan bertemu lagi dengan Syekh itu (tanpa saya ketahui namanya). Tidak lama kemudian Syekh itu masuk Mesjid menggunakan tongkat besinya, kemudian menuju ke tempat biasanya Dia Shalat. Ada orang yang duduk pas disamping kiri saya, sehingga kami di antarai satu orang. Syekh itu kemudian shalat sunat terlebih dahulu setelah itu Dia¬† bertanya kepada orang di sebelah saya tersebut:

Irak..? ya (Jawab orang itu dalam bahasa arab). Syekh itu kembali bertanya: Syiah…? kemudian dijawab: ya. Kemudian Syekh itu menyampaikan kepada orang Irak tersebut bahwa silahkan menyimpan sendalnya pada tempat yang telah disediakan dan jangan menyandarkan sendalnya pada Al-Qur-an yang suci.

Tetapi orang Irak tersebut tidak mengindahkannya, dan akhirnya Syekh itu berdiri untuk memindahkan sendalnya, tetapi orang Irak itu menariknya dan terjadi perdebatan antara orang Irak dan Syekh itu. Kemudian Syekh itu memperbaiki tempat duduknya dan memberikan batas menggunakan tongkat besinya selanjutnya kembali melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu dia menoleh dan melihat saya, sambil tersenyum dia menatapku dan berkata:

kalau selesai shalat sebentar, kamu ikut bersama saya ke tempat parkir, saya akan memberikan kamu oleh-oleh kurma. Sambil senyum gembira saya menjawab InsyaAllah Syekh. Pesan yang sama disampaikan kepemuda Malaysia yang duduk disebelah kirinya. Syekh itu kemudian melanjutkan bacaaan Al-Quran digitalnya.

Tidak lama orang Irak yang duduk di sebelah saya berdiri dan memindahkan sendalnya kemudian kembali duduk di sebelah saya. Saya kemudian berkata kepadanya:

Move…? sambil menggerakkan tangan saya sebagai isyarat bahwa mari berganti tempat dengan saya jika Anda tidak merasa nyaman. Tetapi orang Irak itu memegang lutut saya sambil tersenyum sebagai isyarat tidak apa-apa.

Setelah Shalat Dhuhur selesai, Syeikh berkata kepada saya:

please wait..five minutes (Dia akan melanjutkan bacaan Al-qur’annya). Saya menjawab dengan ok, Syekh.

Setelah mencukupkan bacaan Al-Qurannya, Syekh itu kemudian berdiri dan saya langsung mengikutinya bersama pemuda Malaysia itu berjalan keluar. Setelah dekat dengan pintu keluar mesjid  Dia kembali bertanya:

Silahkan ambil dulu sendalmu, saya akan menunggu di sini. Saya menjawab: Sendal saya ada dalam tas Syekh. Sedangkan teman dari Malaysia menuju ketempat rak sendal yang ada dalam Ar Raudhah. Syeikh itu  menuju ke tempat galon dimana orang-orang antri meminum air zamzam. Saya mengikutinya dan juga ikut meminum air zamzam. Tidak lama pemuda Malaysia itu sudah berdiri di dekat kami.

Syekh itu kemudian berjalan keluar di pintu Mesjid Ar Raudhah, para cleaning service mesjid dan polisi penjaga pintu mesjid tampak sangat menghormati beliau. Saya semakin bertanya-tanya siapa orang ini sesungguhnya. Saya terus berjalan mengikutinya menuju escalator yang arahnya ke bawah  pelataran mesjid. Saya semakin  berhati-hati dengan melihat dan membaca tanda yang barangkali bisa membantu saya pada saat saya kembali (soalnya jalan itu baru saya lalui). Para cleanign servis yang ada di basement (ruang bawah tanah) menghormat kepada Syekh itu. Tidak lama kemudian saya mendapati area parkir kendaraan bawah tanah yang begitu luas. Soerang berpakaian arab lainnya menghampiri Syekh itu dan memeluknya (salaman ala arab), kemudian Syeikh itu membuka pintu belakang mobilnya dan saya melihat ada dua bungkusan besar yang ada di sana. Dalam benak saya, Alhamdulillah mungkin ini oleh-oleh yang dimaksud Syekh itu. Beliau mengangkatnya dan kelihatan begitu berat, diberikan satu dos kedapada saya dan satu dos lagi kepada pemuda Malaysia itu. Saya langsung menggendong oleh-oleh itu sambil mengucapkan.

Alhamdulillah terimakasih banyak Syekh, pemberian ini begitu berkesan. Semoga dapat dinikmati oleh keluarga saya di Indonesia. Dan semoga Syekh¬† sehat selalu dan penuh manfaat (sambil saya membacakan Al-fatiha kepada beliau dalam hati). Setelah itu kembali melanjutkan¬† ucapan saya:¬† tadi Syekh, saya telah berkunjung kebeberapa tempat bersejarah di Madina (saya menyebutkan satu persatu) termasuk berkunjung ke Mesjid Quba. Syekh itu menatap saya sambil senyum kemudian berkata: Mesjid Quba…? saya Muadzin di sana. (Saya baru menyadari bahwa¬† pantas Syekh ini sangat dihormati oleh orang-orang di Madina). Karena beliau adalah tukang adzan di Mesjid pertama yang didirikan Rasulullan pada saat hijrah ke Madina.

Dengan rasa senang saya berjabat tangan kemudian berpisah di basement dan kembali meyisir jalan yang sama yang sebelumnya kami lalui. Sampai pada akhirnya saya kembali  berada di pelataran mesjid Madina tersebut dan berjalan mengitari beberapa sudutnya  untuk mendapati pintu utama yang selalu saya lalui untuk masuk Mesjid. Pintu utama itu arahnya berhadapan dengan  Jam Dinding Besar ditengah Jalan raya sebagai tanda bahwa jalan yang lalui sudah benar untuk menuju ke Hotel saya. Gemetar rasanya tanga saya menggendong kurma itu karena dosnya yang agak besar dengan isi yang begitu berat. Saya beberapa kali memperbaiki posisi pegangan saya sambil berjalan dan sesekali mencoba menentengnya. Dalam perjalanan itu, saya kemudian bertanya kepada pemuda Malaysia yang saya temani,

Siapa nama Syekh itu…? Syekh Hammuda, jawabnya sambil melanjutkan perkataannya bahwa beliau memiliki kebun kurma di Madina.

Sampai pada akhirnya saya berpisah dengan pemuda Malaysia itu dan menuju ke hotel masing-masing. Saya menemui istri dan mertua saya sudah berada di kamar. Saya kemudian menceritakan kejadian yang barusan saya lalui. Saya kemudian mengeluarkan seluruh pakain yang ada dalam Traveing Bag saya dan memasukkan oleh-oleh kurma tersebut ke dalamnya.¬† Karena dos kurma itu agak besar, tas Traveing Bag tersebut hanya muat dos kurma itu ditambah selimut saya dan selebihnya hanya tersisa ruang sekitar 10cm yang hanya bisa menyisip farfum yang saya beli depan mesjid Quba. Alhamdulillah…sungguh rezky yang datang tidak disangka-sangka.

63

Rasanya tak henti-hentinya melantunkan rasa syukur kepada Allah SWT, atas berbagai nikmat yang saya rasakan, begitu juga istri saya, mertua dan ipar, selama melakukan perjalanan ibadah tersebut (saya akan bagi ceritanya dalam tulisan yang lain, InsyaAllah). Dan.. dos kurma itu saya baru buka setibanya  di Tanah Air di hadapan seluruh keluarga yang hadir ketika kami tiba di rumah. Rasanya tidak sabar juga saya ingin melihat isinya, soalnya saya sendiri tidak pernah membuka karena sudah terpacking rapi sejak semula dan langsung saya memasukkannya ke dalam Trabeling bag. Alhamdulillah, setelah dibuka ternyata kurma itu berlapis dua ke atas, dimana setiap lapisan terdiri dari enam bungkus dalam plastik yang terpress dengan isi yang sangat padat. Keluarga semua sampai berlomba mengambil masing-masing satu bungkus dengan penuh rasa kegembiraan. Sayapun sangat senang karena keluarga banyak yang bisa menikmatinya bahkan ada keluarga yang rela membangi dua miliknya dengan keluarga lain yang juga hadir waktu itu. Ada dua belas bungkusan yang mungkin rata-rata 1 kilo atau mungkin lebih, tapi berapapun pemberian dari Syekh itu, rasanya rasa syukur yang tak terhingga atas rezkimu ya Allah.

Semoga Syekh yang memberi kurma tersebut senantiasa dilimpahan rezky Allah yang berlimpah, begitu juga¬† ibadah yang penuh kenikmatan, nikmat kesehatan bersama keluarganya, dan semoga amal ibadahnya senantiasa di terima di sisi Allah, dan semoga mendapatkan tempat yang terhormat di sisiMu¬† ya Allah. Dan semoga seluruh pembaca juga ikut merasakan kebahagiaan dan kenikmatan ini, amin..amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

Kebun KurmaSuasana di Kebun Kurma (Mustamin Tewa’)

 
 
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) PTIK FT UNM

Kerjakan tugas dengan serius, tepat waktu InsyaAllah Anda sukses!

Multimedia Pendidikan PTIK FT UNM

Kerjakan Tugas dengan Serius, Tepat Waktu, InsyaAllah Anda Lulus!

pippk

Praktek Instalasi Perawatan dan Perakitan Komputer - PTA FT UNM

Belajar Bahasa Pemrograman

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

CD Interaktif Multimedia

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Ajar Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Pembelajaran Berbasis Komputer

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Teknik Multimedia Web Blog

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini : by Mustamin Tewa'

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

sehat news

informasi seputar kesehatan terkini

amadnoy

the minimalis news