RSS

Hadiah Kurma dari Seorang Syekh di Madina

25 Agu

Bismillahirrahmanirrahim, semoga cerita ini tidak menjadikan kami sombong dan riya’ , hanya sekedar berbagi cerita sebagi wujud kegembiraan atas karunia dan rezky Allah , SWT yang tak berhingga. dan semoga kesempatan dan kenikmatan yang lebih baik pembaca rasakan InsyaAlah, amin..amin..ya Rabbal a’lamin.

43Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan Umrah bersama “Bidadari Surgaku”, Mertua dan Ipar. Sungguh banyak pengalaman spiritual yang kami lalui selama di kota Madiana dan Mekkah. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman yang barangkali bermanfaat bagi Anda yang juga nantinya akan melakukan perjalanan yang sama. InsyaAllah!.

Hari pertama rombongan kami sampai di Kota Madina, kami terlebih dahulu di antar ke Hotel depan mesjid Nabawi. Posisi Hotel saya  cukup dengan menyebran saja  terus berjalan ke depan menuju pelataran mesjid Nabawai. View mesjid Nabawi di atas merupakan arah depan Hotel yang kami tempati.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 09.15 waktu Madina dan saya langsung menuju ke Mesjid Nabawi untuk melakukan shalat sunat Tahiyatul Masjid dan sekalian melakukan Shalat Dhuha. Saya berdua dengan Drs.Abdul Latif menuju ke mesjid Nabawi dan setelah sampai di pintu depan mesjid,  kami memperhatikan orang-orang yang masuk mesjid membuka sepatu dan sendal mereka terus di bukus kantong plastik. Sayapun melakukan hal yang sama terus memasukkan ke dalam tas pemberian Travel Arminasari. Kami terus berjalan ke dalam mesjid dan dibeberapa tempat terdapat galon-galon  di mana orang-orang antri untuk meminum air ZamZam. Kamipun ikut antri untuk meminum air zamzam yang didahului dengan berdo’a minta keberkatan dan kesehatan selama melakukan ibadah umrah tersebut. Alhamdulillah sungguh segar rasanya tak terasa saya meminum 2 gelas seukuran aqua.

Selanjutnya saya berjalan  semakin jauh kedepan, saya mendapati begitu banyak jamaah yang melakukan Tadarus Al-Quran, shalat sunat dan aktivitas lainnya. Saya kemudian mengambil posisi pada salah satu tiang kemudian melakukan Shalat Tahiyatul Mesjid. Setelah itu teman saya minta permisi untuk pulang ke Hotel istirahat, mungkin masih kelelahan karena kami melakukan perjalanan sebelumnya di malam hari. Saya kemudian melanjutkan dengan melakukan Shalat Dhuha. Saya pikir mumpung banyak waktu dan kesempatan supaya bisa memaksimalkan perjalanan ibadah saya. Setelah Shalat Sunat Dhuha sebanyak 8 rakaat saya kemudian mengambil Al-Quran untuk mengaji. Saya kemudian kepikiran untuk menuju ke shaf paling depan sekalian menyaksikan kemegahan mesjid Nabawi tersebut.

Tidak terasa saya berjalan jauh ke depan dan kini berada pada di shaf paling depan Mesjid Ar Raudhah,  yang hari itu saya sama sekali tidak mengetahuinya bahwa saya telah berada di Mesjid Ar Raudhah depan kuburan Rasulullah Muhammad SAW.  Saya berdiri pas dihadapan rak-rak Al-Quran yang mungkin terbuat dari Aluminum. Saya kembali melakukan shalat dua rakaat dan selanjutnya membaca Al-Quran sempat menghabiskan 2 Juz lebih dan kini jam menunjukkan pukul 11.30 waktu Madina. Kemudian masuklah seorang Syekh bepakaian arab, tubuh tegak, jenggot mulai memutih sebagian dengan sorban melilit di kepala, Orang itu menggunakan dua buah tongkat besi pada tangan kanan dan kirinya  untuk membantu Dia berdiri dan berjalan. Dia menuju ke shaf dimana saya duduk kemudian  tersenyum dan meminta saya bergeser ke kanan untuk memberi tempat untuknya. Kemudian beliau shalat sunat dan mengaji. Setelah itu Dia tersenyum lagi padaku kemudian kami berdialog:

“Indonesia…?”, Indonesia Syekh, jawabku. Jamaah Umrah…? Ya, Syekh. Apa Kabar…? Alhamdulillah baik Syekh. Sudah berapa lama kamu di sini. Saya menjawab bahwa ini adalah hari pertama saya berada di Madina. Kapan kamu ke Makkah saya menjawabnya: friday, i am go to Makkah. oh…(sambil tersenyum ke pada saya).

Setelah itu kemudian menoleh keseorang pemuda yang duduk di sebelah kirinya dan juga bertanya:

Malaysia,….?, ya (sambil pemuda itu mengangguk, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang saya sudah tidak memperhatikannya lagi.

Orang itu kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’annya kemudian istirahat sejenak dan berkata kepada saya:

besok kamu duduk di sini lagi ya?, saya menatapnya dan kemudian menjawab InsyaAllah Syekh, InsyaAllah. Kemudian Dia berkata padaku jika nanti kamu datang lagi ketempat ini, saya selalu duduk di sini.

Kemudian orang itu menoleh ke pemuda Malaysia itu dan mengucapkan kata yang sama.

Besok paginya saya bersama rombongan Jamaah dari Indonesia melakukan perjalanan  ziarah ke beberapa tempat  yang memiliki nilai sejarah di Madina, seperti: Mesjid Quba, Jabal Tsur, Tanah Merah, Kebun Kurma, dan Jabal Rahma. Tidak terasa kami pulang sekitar jam 11.00 siang menjelang Shalat Dhuhur. Sungguh perasaan saya agak was-was jangan sampai saya tidak lagi mendapati barisan shaf pertama di Mesjid Ar Raudhah. Begitu mobil berhenti depan hotel saya buru-buru menuju kamar dan langsung mengambil air wudhu dan bergegas menuju Mesjid. Dalam benak saya semoga saya masih mendapati shaf yang kemarin saya tempati.

Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT pada shaf kedua terdapat tempat yang kosong untuk satu orang  pas di belakang tempat duduk saya yang kemarin. Setelah Shalat Tahiyatul Masjid saya kemudian memperhatikan tempat duduk saya ke depan sambil terlintas dalam pikiran saya, “sayang, saya datang terlambat untuk mengambil shaf, semoga Syekh itu nantinya menoleh kebelakang dan melihat saya”. Sambil berdzikir sesekali saya menoleh ke arah samping kiri memperhatikan orang-orang yang antri untuk masuk dalam area karpet hijau yang di katakan merupakan tempat yang sangat makbul untuk berdo’a. Tiba-tiba orang yang duduk didepan saya berdiri dan pergi mengambil shaf yang lain. Saya langsung berdiri juga dan mengambil posisi tersebut, posisi dimana saya akan bertemu lagi dengan Syekh itu (tanpa saya ketahui namanya). Tidak lama kemudian Syekh itu masuk Mesjid menggunakan tongkat besinya, kemudian menuju ke tempat biasanya Dia Shalat. Ada orang yang duduk pas disamping kiri saya, sehingga kami di antarai satu orang. Syekh itu kemudian shalat sunat terlebih dahulu setelah itu Dia  bertanya kepada orang di sebelah saya tersebut:

Irak..? ya (Jawab orang itu dalam bahasa arab). Syekh itu kembali bertanya: Syiah…? kemudian dijawab: ya. Kemudian Syekh itu menyampaikan kepada orang Irak tersebut bahwa silahkan menyimpan sendalnya pada tempat yang telah disediakan dan jangan menyandarkan sendalnya pada Al-Qur-an yang suci.

Tetapi orang Irak tersebut tidak mengindahkannya, dan akhirnya Syekh itu berdiri untuk memindahkan sendalnya, tetapi orang Irak itu menariknya dan terjadi perdebatan antara orang Irak dan Syekh itu. Kemudian Syekh itu memperbaiki tempat duduknya dan memberikan batas menggunakan tongkat besinya selanjutnya kembali melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu dia menoleh dan melihat saya, sambil tersenyum dia menatapku dan berkata:

kalau selesai shalat sebentar, kamu ikut bersama saya ke tempat parkir, saya akan memberikan kamu oleh-oleh kurma. Sambil senyum gembira saya menjawab InsyaAllah Syekh. Pesan yang sama disampaikan kepemuda Malaysia yang duduk disebelah kirinya. Syekh itu kemudian melanjutkan bacaaan Al-Quran digitalnya.

Tidak lama orang Irak yang duduk di sebelah saya berdiri dan memindahkan sendalnya kemudian kembali duduk di sebelah saya. Saya kemudian berkata kepadanya:

Move…? sambil menggerakkan tangan saya sebagai isyarat bahwa mari berganti tempat dengan saya jika Anda tidak merasa nyaman. Tetapi orang Irak itu memegang lutut saya sambil tersenyum sebagai isyarat tidak apa-apa.

Setelah Shalat Dhuhur selesai, Syeikh berkata kepada saya:

please wait..five minutes (Dia akan melanjutkan bacaan Al-qur’annya). Saya menjawab dengan ok, Syekh.

Setelah mencukupkan bacaan Al-Qurannya, Syekh itu kemudian berdiri dan saya langsung mengikutinya bersama pemuda Malaysia itu berjalan keluar. Setelah dekat dengan pintu keluar mesjid  Dia kembali bertanya:

Silahkan ambil dulu sendalmu, saya akan menunggu di sini. Saya menjawab: Sendal saya ada dalam tas Syekh. Sedangkan teman dari Malaysia menuju ketempat rak sendal yang ada dalam Ar Raudhah. Syeikh itu  menuju ke tempat galon dimana orang-orang antri meminum air zamzam. Saya mengikutinya dan juga ikut meminum air zamzam. Tidak lama pemuda Malaysia itu sudah berdiri di dekat kami.

Syekh itu kemudian berjalan keluar di pintu Mesjid Ar Raudhah, para cleaning service mesjid dan polisi penjaga pintu mesjid tampak sangat menghormati beliau. Saya semakin bertanya-tanya siapa orang ini sesungguhnya. Saya terus berjalan mengikutinya menuju escalator yang arahnya ke bawah  pelataran mesjid. Saya semakin  berhati-hati dengan melihat dan membaca tanda yang barangkali bisa membantu saya pada saat saya kembali (soalnya jalan itu baru saya lalui). Para cleanign servis yang ada di basement (ruang bawah tanah) menghormat kepada Syekh itu. Tidak lama kemudian saya mendapati area parkir kendaraan bawah tanah yang begitu luas. Soerang berpakaian arab lainnya menghampiri Syekh itu dan memeluknya (salaman ala arab), kemudian Syeikh itu membuka pintu belakang mobilnya dan saya melihat ada dua bungkusan besar yang ada di sana. Dalam benak saya, Alhamdulillah mungkin ini oleh-oleh yang dimaksud Syekh itu. Beliau mengangkatnya dan kelihatan begitu berat, diberikan satu dos kedapada saya dan satu dos lagi kepada pemuda Malaysia itu. Saya langsung menggendong oleh-oleh itu sambil mengucapkan.

Alhamdulillah terimakasih banyak Syekh, pemberian ini begitu berkesan. Semoga dapat dinikmati oleh keluarga saya di Indonesia. Dan semoga Syekh  sehat selalu dan penuh manfaat (sambil saya membacakan Al-fatiha kepada beliau dalam hati). Setelah itu kembali melanjutkan  ucapan saya:  tadi Syekh, saya telah berkunjung kebeberapa tempat bersejarah di Madina (saya menyebutkan satu persatu) termasuk berkunjung ke Mesjid Quba. Syekh itu menatap saya sambil senyum kemudian berkata: Mesjid Quba…? saya Muadzin di sana. (Saya baru menyadari bahwa  pantas Syekh ini sangat dihormati oleh orang-orang di Madina). Karena beliau adalah tukang adzan di Mesjid pertama yang didirikan Rasulullan pada saat hijrah ke Madina.

Dengan rasa senang saya berjabat tangan kemudian berpisah di basement dan kembali meyisir jalan yang sama yang sebelumnya kami lalui. Sampai pada akhirnya saya kembali  berada di pelataran mesjid Madina tersebut dan berjalan mengitari beberapa sudutnya  untuk mendapati pintu utama yang selalu saya lalui untuk masuk Mesjid. Pintu utama itu arahnya berhadapan dengan  Jam Dinding Besar ditengah Jalan raya sebagai tanda bahwa jalan yang lalui sudah benar untuk menuju ke Hotel saya. Gemetar rasanya tanga saya menggendong kurma itu karena dosnya yang agak besar dengan isi yang begitu berat. Saya beberapa kali memperbaiki posisi pegangan saya sambil berjalan dan sesekali mencoba menentengnya. Dalam perjalanan itu, saya kemudian bertanya kepada pemuda Malaysia yang saya temani,

Siapa nama Syekh itu…? Syekh Hammuda, jawabnya sambil melanjutkan perkataannya bahwa beliau memiliki kebun kurma di Madina.

Sampai pada akhirnya saya berpisah dengan pemuda Malaysia itu dan menuju ke hotel masing-masing. Saya menemui istri dan mertua saya sudah berada di kamar. Saya kemudian menceritakan kejadian yang barusan saya lalui. Saya kemudian mengeluarkan seluruh pakain yang ada dalam Traveing Bag saya dan memasukkan oleh-oleh kurma tersebut ke dalamnya.  Karena dos kurma itu agak besar, tas Traveing Bag tersebut hanya muat dos kurma itu ditambah selimut saya dan selebihnya hanya tersisa ruang sekitar 10cm yang hanya bisa menyisip farfum yang saya beli depan mesjid Quba. Alhamdulillah…sungguh rezky yang datang tidak disangka-sangka.

63

Rasanya tak henti-hentinya melantunkan rasa syukur kepada Allah SWT, atas berbagai nikmat yang saya rasakan, begitu juga istri saya, mertua dan ipar, selama melakukan perjalanan ibadah tersebut (saya akan bagi ceritanya dalam tulisan yang lain, InsyaAllah). Dan.. dos kurma itu saya baru buka setibanya  di Tanah Air di hadapan seluruh keluarga yang hadir ketika kami tiba di rumah. Rasanya tidak sabar juga saya ingin melihat isinya, soalnya saya sendiri tidak pernah membuka karena sudah terpacking rapi sejak semula dan langsung saya memasukkannya ke dalam Trabeling bag. Alhamdulillah, setelah dibuka ternyata kurma itu berlapis dua ke atas, dimana setiap lapisan terdiri dari enam bungkus dalam plastik yang terpress dengan isi yang sangat padat. Keluarga semua sampai berlomba mengambil masing-masing satu bungkus dengan penuh rasa kegembiraan. Sayapun sangat senang karena keluarga banyak yang bisa menikmatinya bahkan ada keluarga yang rela membangi dua miliknya dengan keluarga lain yang juga hadir waktu itu. Ada dua belas bungkusan yang mungkin rata-rata 1 kilo atau mungkin lebih, tapi berapapun pemberian dari Syekh itu, rasanya rasa syukur yang tak terhingga atas rezkimu ya Allah.

Semoga Syekh yang memberi kurma tersebut senantiasa dilimpahan rezky Allah yang berlimpah, begitu juga  ibadah yang penuh kenikmatan, nikmat kesehatan bersama keluarganya, dan semoga amal ibadahnya senantiasa di terima di sisi Allah, dan semoga mendapatkan tempat yang terhormat di sisiMu  ya Allah. Dan semoga seluruh pembaca juga ikut merasakan kebahagiaan dan kenikmatan ini, amin..amin, amin ya Rabbal ‘alamin.

Kebun KurmaSuasana di Kebun Kurma (Mustamin Tewa’)

 

One response to “Hadiah Kurma dari Seorang Syekh di Madina

  1. Raihanah Al-Mujaddid

    30 September 2013 at 12:42 AM

    MasyaAllah terharu rasanya ketika membaca ulasan kisahta pak…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) PTIK FT UNM

Kerjakan tugas dengan serius, tepat waktu InsyaAllah Anda sukses!

Multimedia Pendidikan PTIK FT UNM

Kerjakan Tugas dengan Serius, Tepat Waktu, InsyaAllah Anda Lulus!

pippk

Praktek Instalasi Perawatan dan Perakitan Komputer - PTA FT UNM

Belajar Bahasa Pemrograman

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

CD Interaktif Multimedia

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Multimedia Pembelajaran Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Ajar Interaktif

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH)

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Media Pembelajaran Berbasis Komputer

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini.

Teknik Multimedia Web Blog

Apa yang bisa kita berikan untuk Negeri ini : by Mustamin Tewa'

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

sehat news

informasi seputar kesehatan terkini

amadnoy

the minimalis news

%d blogger menyukai ini: